Sudah 609 Hari Tak Terungkap

Presiden Harus Berani Tangkap Penyerang Novel

Safari
Presiden Harus Berani Tangkap Penyerang Novel
Penyidik senior KPK Novel Baswedan

Jakarta, HanTer-- Sudah 609 hari kasus penyerangan terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan belum juga terungkap. Terkait hal ini Novel kembali meminta ketegasan dan keberanian Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengungkap kasus penyerangan terhadap dirinya, yang terjadi pada 11 April 2017 silam. 

Permintaan Novel tersebut disampaikannya saat peluncuran "Jam Hitung Penyerangan Novel Baswedan" yang digagas Wadah Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (WP KPK).

"Saya pribadi berharap Bapak Presiden benar-benar punya kemauan yang kuat dan kami juga doakan semoga Bapak Presiden punya keberanian untuk berani mengungkap masalah ini," kata Novel di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (11/12/2018).

Novel pun kembali meminta Jokowi untuk segera membentuk tim gabungan pencari fakta (TGPF) guna mengungkap kasusnya tersebut.

Dia menyatakan bahwa sangat disayangkan jika kasus penyerangan terhadap dirinya diabaikan karena hal itu berhubungan dengan upaya pemberantasan korupsi.

Terpisah, Ketua Badan Relawan Nusantara (BRN) Edysa Girsang menilai, Presiden Jokowi tidak menuntaskan kasus Novel karena hingga 609 hari tidak terungkap motif dan pelakunya mungkin karena takut. Apalagi hingga saat ini Jokowi tak bisa memastikan tegaknya hukum tanpa tebang pilih. Sebagai presiden, Jokowi harusnya bisa menegakan hukum seadil adilnya tanpa pandang bulu.

"Kenapa harus takut, jika kebenaran adalah tujuan kita? Kalau takut justru ada apa? Itu yang menimbulkan pertanyaan dan ketidakpercayaan masyarakat," ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Gerakan Perubahan (Garpu) Muslim Arbi mengatakan, Novel mempunyai alasan dengan menyebut Jokowi takut mengungkap kasus penyiraman air keras yang dialaminya. Karena sudah 609 hari kasus Novel menjadi the dark number. 

Muslim menyebut pada dasarnya Jokowi sudah mengetahui motif dan pelakunya namun tidak berani mengungkapkannya.  Oleh karenanya pernyataan Novel harus didukung agar Jokowi mempunyai keberanian guna  instruksikan penuntasan kasus Novel. 

Muslim mempertanyakan, bagaimana Jokowi bisa penuhi janji-janji politiknya; jika kasus Novel sebagai salah satu ujian untuk pembelaan terhadap KPK gagal dilakukan.  "Jangan hanya sibuk di dunia internasional tapi kasus dalam negeri kedodoran. Publik ada keberanian daribJokowi ungkap pelaku dan master mind kasus Novel ini," paparnya.

Dia mengemukakan, Jokowi harus punya keberanian karena dia itu kepala negara dan kepala pemerintahan. 

Anggota LBH Masyarakat, Yohan Misero mengatakan, Tito Karnavian menjadi Kapolri dengan latar belakang prestasi yang luar biasa. Namun hingga saat ini tidak ada progres yang berarti soal yang menimpa Novel. Padahal Presiden mempunyai kekuatan untuk mendorong Tito untuk bekerja lebih keras. Ada kekuatan besar yang menghalangi proses untuk menyelesaikan kasus Novel.

"Tentu hanya bisa dibongkar apabila Tito dan Jokowi punya keberanian," paparnya.

Terpisah, penyidik Polda Metro Jaya menyebutkan belum mendapatkan keterangan untuk berita acara pemeriksaan (BAP) dari penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, guna mengungkap pelaku penyiraman zat kimia.

"Sampai sekarang belum mendapatkan itu (keterangan Novel)," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono, di Jakarta Selasa.

Ia menjelaskan penyidik Polda Metro Jaya menerapkan metode induktif dan deduktif untuk menyelidiki penyiraman zat kimia terhadap Novel Baswedan.

Polisi membutuhkan keterangan dari korban untuk mencari petunjuk berdasarkan motif seperti masalah keluarga atau terkait pernah menangani perkara tertentu, mendapatkan ancaman maupun intimidasi. "Itu semuanya yang harus kita gali dari korban itu sendiri," ujar dia.