Indro: Ada Faktor "X" Sehingga KKB Tetap Eksis

Safari
Indro: Ada Faktor
Istimewa

Jakarta, HanTer - Pengamat politik dan militer, Indro Tjahyono mengatakan, Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) itu kalau kita evaluasi, belum pernah diberantas sampai tuntas.Yang heran mereka ini punya senjata organik yang handal.Padahal kalau populasi di Papua itu sangat kecil jumlah penduduknya.Seharusnya, dengan alat pemantau elektronik yang canggih saat ini, seharusnya pengejaran lebih mudah dilakukan.

“Mungkin memang tidak tersedia dana yang cukup untuk melakukan operasi pembersihan di Papua. Sehingga akhirnya terkesan KKB seperti dibiarkan begitu saja.Mungkin perbedaannya dengan kasus Poso.Mengatasi KKB di Papua butuh aksi diplomasi ekstra.Setidaknya ada 4 pihak yang harus didekati yakni PNG, Australia, Negara-negara Melanesia, dan Amerika,” kata Indro kepada Harian Terbit, Selasa (4/12/2018).

Menurut Indro, kalau dari segi kemampuan militer,  apa yang dimiliki TNI sudah cukup untuk melakukan operasi militer pembersihan. Bagi Kopasus TNI, kondisi medan Papua tergolong biasa saja. 

Aktivis mahasiswa 77/78 ini, di samping anggaran, mungkin memang ada faktor "x" yang menyebabkan KKB tetap eksis.

“Saya tidak bisa menyangkal jika kemudian ada spekulasi bahwa aksi KKB ini terkait dengan Pilpres 2019.Banyak faksi KKB di Papua yang untuk kelangsungan hidupnya butuh uang yang kemudian berpikiran pragmatis.Seperti KKB Filipina yang untuk kelangsungan hidupnya melakukan penyanderaan dan membajak tongkang-tongkang batubara. Pertanyaannya,  KKB di Papua dengan cara apa menyambung hidupnya,” ujar Indro.

Sementara itu, pengamat intelijen dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi mengatakan, informasi adanya penembakan pekerja proyek jalan di Papua harus terkonfirmasi dengan jelas. Karena pejabat militer di Papua menyatakan info penembakan pekerja proyek jalan baru bersifat searah. Biasanya KKB  itu punya pesan dan tujuan tertentu ketika menyerang. Apalagi jika menyangkut sasaran sipil dan dalam jumlah besar.

"Ini kejadian kesekian kalinya di Papua sejak bertahun-tahun lalu.Keamanan Papua sendiri selama ini memang masih cenderung berupa aksi-reaksi yang dinamika, intensitas maupun frekuensinya mengikuti geliat aktivitas aparat keamanan sendiri," paparnya.

Khairul menilai, kejadian yang selalu berulang ini menunjukkan bahwa pendekatan militer selama ini telah gagal dalam menyelesaikan masalah Papua secara tuntas. Oleh karenanya pendekatan yang dilakukan selama ini  patut dievaluasi. 

“Sayangnya pemerintah pusat juga belum mempunyai proposal pendekatan kesejahteraan yang tepat dan lebih adil bagi rakyat Papua,” papar Khairul.