Dinilai Lalai, Pengacara Amerika Serikat Tuntut Lion Air dan Boeing

Safari
Dinilai Lalai, Pengacara Amerika Serikat Tuntut Lion Air dan Boeing
The Webster Law Firm akan turut mengguggat perusahaan maskapai Lion Air .

Jakarta, HanTer - Sejumlah keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 dengan nomor registrasi PK-LQP berniat menggugat pihak Lion Air dan Boeing.

Gugatan dilakukan karena Lion Air selaku pemilik maskapai dan Boeing selaku produsen pesawat dianggap melakukan kelalaian hingga hilangnya 189 nyawa.

The Webster Law Firm yang berkantor di Houston, Texas, Amerika Serikat ditunjuk oleh tiga keluarga korban Lion Air untuk menjadi kuasa hukum.

"Kami akan mencoba kasus ini dan melihat apa yang dilakukan dan dikatakan hakim tentang Boeing dan Lion Air," ujar Pengacara The Webster Law Firm, Jason C. Webster di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (3/12/2018).

Tuntutan ini sendiri berdasarkan kecurigaan keluarga korban atas kelalaian yang dilakukan oleh Lion Air dan Boeing.

Pasalnya pesawat nahas tersebut tergolong pesawat baru, karena jam terbangnya masih dua bulan, namun justru kandas dengan beberapa kerusakan komponen.

"Mereka tahu ini adalah barang yang gagal untuk dipasarkan. Hal ini patut dipertanyakan. Sama seperti ketika kalian membeli mobil baru, baru dua bulan dipergunakan, lalu mobil itu membunuhmu," kata Jason.

Jason juga menilai, prosedur keamanan penerbangan yang diterapkan Lion Air tidak bekerja efektif. Sehingga mengakibatkan terjadinya kecelakaan tersebut.

"Mereka punya prosedur untuk memastikan area itu (pesawat layak terbang, Red), tapi masalahnya itu tidak efektif," ujar dia.

Lebih lanjut, Jason menyebut bahwa pihaknya akan segera menemui pihak Lion Air dan Boeing. "Saya belum bertemu mereka, tapi saya akan bertemu," tandasnya.

Saat ini sendiri The Webster Law Firm tengah berupaya mengumpulkan sejumlah bukti jatuhnya Lion Air JT-610. Jika sudah terkumpul maka tuntutan secara hukum akan segera dilayangkan. 

Diketahui, sebelumnya pesawat Lion Air JT-610 jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat pada 29 Oktober 2019. Pesawat tersebut membawa 189 penumpang dan awak. Seluruhnya telah dinyatakan meninggal dunia.

Dari hasil penyelidikan sementara Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), diketahui pesawat mengalami sejumlah masalah. Seperti gangguan pada angle of attack (AoA), airspeed indicator, stick shaker dan kerusakan lainnya.