Fadli Zon Sebut Dzolim, Terkait Laporan Orang Dekat Pemerintah Tak Diproses

Danial
Fadli Zon Sebut Dzolim, Terkait Laporan Orang Dekat Pemerintah Tak Diproses
Habib Bahar bin Smith

Jakarta, HanTer - Ibarat gayung bersambut, laporan terhadap Habib Bahar bin Smith ditanggapi oleh Wakil Ketua DPR Fadli Zon yang menegaskan adanya tebang pilih yang dilakukan aparat hukum.

Bahkan Polri sampai membentuk tim, untuk mengusut kasus dugaan penghinaan presiden ini, Jumat (30/11/2018).

Menurut Fadli, pelaporan terhadap dai Muhammad Bahar bin Smith yang menyebut Presiden Joko Widodo banci kepada pihak berwenang menunjukkan pemerintah tengah mengalami islamofobia.

Politisi Partai Gerindra ini menduga, pelaporan oleh pihak-pihak terhadap Habib Bahar bin Smith mengarah pada ketidakadilan, lantaran laporan masyarakat yang berseberangan dengan pemerintah hanya berjalan di tempat.

"Kalau yang melaporkan langsung diproses, sementara yang dekat dengan pemerintah pemerintah tidak diproses. Ini kezaliman sempurna," kritik Fadli kepada wartawan di gedung DPR RI Senayan, Jakarta.

Fadli menganggap pernyataan kontroversial yang disampaikan Bahar adalah bentuk kritik. Ia menduga, ujaran tersebut mengandung metafora yang tak perlu ditanggapi serius. Apalagi hingga dilaporkan ke polisi.

Pelaporan itu sebelumnya dilayangkan oleh sekelompok orang yang menamakan diri "Jokowi Mania DKI Jakarta". Mereka menyeret nama Bahar ke Polda Metro Jaya. Bahar diduga melecehkan simbol negara di luar batas kewajaran.

Viral dalam sebuah video berdurasi 60 detik Bahar mengucapkan kata-kata konotatif untuk Jokowi. Bahar menyebut Jokowi banci dan mengalami haid. "Kamu kalau ketemu Jokowi, kalau ketemu Jokowi, kamu buka celananya itu, jangan-jangan haid Jokowi itu, kayaknya banci itu," kata Habib Bahar dalam video itu.

Fadli mengatakan poin yang diujarkan Bahar sebuah abstraksi yang tak perlu ditanggapi dengan membawa perasaan alias baper.

Sedangkan soal kalimatnya yang terdengar nyeleneh, Fadli mengatakan pendakwah punya gaya berbeda dalam menyampaikan suara. 
"Ada yang gayanya orator, ada yang biasa-biasa saja, ada yang mengkritik, ada yang metafor," ungkap Fadli. Menurut dia, hal itu biasa saja karena penceramah lazim memiliki kekayaan diksi dan meminta sejumlah pihak tak menyoalkan, apalagi mengarah ke upaya kriminalisasi.