Lieus Sungkharisma: Penggagalan Reuni Akbar 212 Akan Rusak Citra Jokowi

Safari

Jakarta, HanTer - Tokoh masyarakat Tionghoa yang juga koordinator Forum Rakyat, Lieus Sungkharisma menegaskan, tidak ada yang salah dari rencana aksi reuni akbar alumni 212 yang akan digelar di Monas, 2 Desember mendatang. Apalagi di alam demokrasi saat ini maka tidak ada satu pihak pun yang berhak melarang kegiatan tersebut.

"Gubernur DKI sebagai pemegang otoritas wilayah juga sudah memberi ijin," ujar Lieus kepada Harian Terbit, Senin (26/11/2018).

Menurutnya, aksi 212 adalah catatan terbesar dalam sejarah aksi umat Islam Indonesia sejak kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada tahun 1945. Catatan sejarah itu bahkan diakui oleh berbagai bangsa di dunia. Karena jutaan orang berkumpul di satu tempat namun tak ada satu rumput pun yang terinjak dan satu batang pohon pun yang patah. Sehingga aksi 212 bisa berjalan aman dan damai.

Aksi 212, sambung Lieus, meskipun dilatarbelakangi kemarahan umat atas penistaan agama oleh Ahok, namun berlangsung damai dan mendapat apresiasi dari masyarakat dan para pemimpin dunia. Bahkan ia yang beragama non muslim bisa ikut aksi dan merasa nyaman di tengah-tengah jutaan umat Islam yang sedang melakukan aksi saat itu. Oleh karenanya sangat heran jika ada pihak yang risih dengan aksi 212. 

"Sebagai orang Tionghoa dan non muslim, saya tidak pernah terintimidasi dan merasa terganggu dengan aksi-aksi yang dilakukan umat Islam selama ini. Aksi-aksi yang dilakukan umat Islam adalah aksi damai demi menuntut keadilan dan tegaknya kebenaran, ujarnya.

Jadi, tambah Lieus, jika sekarang umat Islam ingin mengenang aksi damai terbesar dalam sejarah bangsa itu maka tidak boleh ada satu pihak pun yang menghalang-halanginya. Karena aksi 212 memang patut dikenang. Jika ada upaya penggagalan maka hanya akan merusak citra rezim Jokowi di mata dunia. Oleh karenanya Lieus mengajak Presiden Jokowi untuk melihat aksi 212 sebagai fakta sejarah yang harus dihormati. 

"Pak Jokowi pasti juga tau kalau aksi 212 itu adalah aksi terbesar umat Islam tidak saja di Indonesia, tapi juga di dunia. Karena itu, justru sudah sepatutnya Pak Jokowi membangun monumen aksi 212 untuk mengenang aksi damai terbesar dan bersejarah tersebut," tegasnya.

Lieus justru tak paham mengapa ada orang yang tidak setuju bahkan ingin menggagalkan acara reuni akbar alumni 212 tersebut. Sejarah itu tak akan bisa dihapus bagaimanapun caranya. Karena itu, daripada menghabiskan energi untuk menolak kenyataan sejarah tersebut, lebih baik pemerintah membuka ruang pengakuan dan mendukung acara reuni akbar tersebut.

Sebaliknya, tegas Lieus, jika upaya penggagalan acara reuni akbar 212 itu benar-benar dilakukan pemerintah maka masyarakat dunia akan langsung menilai demokrasi memang benar-benar sudah mati di Indonesia. 

Maka hentikanlah segala macam aksi provokasi yang berupaya menggagalkan acara reuni akbar 212 tersebut. "Sebab saya yakin upaya penggagalkan itu akan sia-sia dan buang-buang energi saja," pungkasnya.