DPD: Pendidikan Modal Utama dalam Pembangunan Bangsa

Danial
DPD: Pendidikan Modal Utama dalam Pembangunan Bangsa
Wakil Ketua DPD RI Nono Sampono (tengah) dalam acara Festival Beasiswa Nusantara  yang digelar di Komplek Parlemen

Jakarta, HanTer – Wakil Ketua DPD RI Nono Sampono menjelaskan bahwa saat ini Indonesia tidak boleh hanya bergantung pada sumber daya alam (SDA) dalam pembangunan untuk mewujudkan kemakmuran bangsa. Saat ini Indonesia lebih membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang kompetitif dalam persaingan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang maju dan besar.

Dalam acara Festival Beasiswa Nusantara  yang digelar di Komplek Parlemen sejak hari sabtu kemarin, Nono Sampono mengatakan bahwa pendidikan merupakan modal utama bagi Indonesia dalam menghadapi bonus demografi tahun 2020-2030. Dalam kurun waktu 3-13 tahun ke depan kita akan memiliki banyak sekali sumber daya manusia (SDM) yang tengah berada pada puncak usia produktif. Oleh karena itu DPD RI bersama pemerintah akan berupaya untuk mencetak generasi yang memiliki pendidikan yang tinggi sebagai SDM yang kompetitif.

“Dengan bonus demografi kedepan yang kita dapatkan, kalau diisi orang-orang yang berkualitas, tentunya yang diuntungkan adalah negara dan bangsa,” ucapnya di Gedung Nusantara IV hari Minggu (25/11/2018).

Senator asal Provinsi Maluku ini menjelaskan bahwa saat ini proporsi SDM dengan kualifikasi pendidikan tinggi di Indonesia hanya 7,2 persen dari angkatan kerja. Hal tersebut menunjukkan Indonesia masih tertinggal dengan negara-negara lain, salah satunya Malaysia yang mencapai lebih dari 20 persen. Nono melihat di daerah-daerah masih banyak masyarakat yang belum memiliki pendidikan yang cukup untuk menghadapi persaingan global. Oleh karena itu, DPD RI sebagai wakil daerah selalu berjuang untuk menyiapkan SDM-SDM yang berkualitas di seluruh daerah. Salah satunya adalah melalui acara Festival Beasiswa Nusantara yang dikerjasamakan dengan bersama Asosiasi Dosen Indonesia dan Forum Rektor Indonesia.

“Dan kita tahu pendidikan adalah salah satu yang paling utama. Karena pendidikan yang akan menjawab. Dengan lahirnya sumber daya manusia yang berkualitas yang unggul, mampu menghadapi tantangan global, maka negara, khususnya daerah akan semakin maju,” tuturnya.

Nono Sampono menambahkan, dalam menciptakan SDM yang kompetitif juga membutuhkan sistem pendidikan yang unggul di Indonesia. Jika tidak, maka bidang pendidikan akan selalu menghadapi persoalan. Selain tidak tercetaknya SDM yang berkualitas, juga akan menciptakan daerah yang serba T, yaitu tertinggal, terbelakang, dan menimbulkan kemiskinan. Oleh karena itu, dirinya mengajak seluruh komponen untuk turut serta dalam membangun dunia pendidikan di Indonesia. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga semua lembaga dan perusahaan harus memiliki kepedulian atas pendidikan untuk Indonesia yang lebih maju.

“Kita harus membangun kesadaran bersama, semua komponen, agar dunia pendidikan kita semakin berkualitas menjangkau persaingan global. Ada standar-standar internasional yang harus kita miliki. Bukan hanya ilmu saja, tetapi fasilitas pendukung juga harus ada,” tegas Nono.

Sementara itu, dalam sambutannya Ketua Umum Asosiasi Dosen Indonesia (ADI), Dino Patti Djalal, menjelaskan bahwa nasib sebuah negara berada pada masyarakatnya. Untuk dapat maju, sebuah negara harus memiliki SDM yang kompetitif. Menurutnya SDM yang kompetitif adalah yang memiliki ilmu, jaringan, watak, dan peluang. Dirinya juga meminta agar generasi muda Indonesia untuk dapat selalu inovatif. Karena itu adalah kunci dari masa depan Indonesia.

“Tiongkok menjadi negara dengan ekonomi terbesar di dunia karena mereka memiliki Inovasi, sama seperti Jepang dan Korea yang bisa maju. Bagaimana kita bisa mencetak anak-anak muda yang menjadi inovasi dan raja inovasi di negaranya sendiri. Kedepannya akan ada perang dagang, perang ekonomi, tetapi yang terpenting adalah talent war. Perang memperebutkan talent berkualitas,” kata Dino.

Dalam acara  tersebut, juga terdapat pembagian beasiswa. Diantaranya diberikan kepada Umar Warpete dari STAIN Alfatah Jayapura, dan Desi Safriana dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh.