Anton: Polri Tidak Boleh Melarang Reuni 212

Safari
Anton: Polri Tidak Boleh Melarang Reuni 212
Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pusat Anton Tabah Digdaya

Jakarta, HanTer— Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pusat Anton Tabah Digdaya menyatakan Polri tidak boleh melarang rakyat ikut reuni akbar 212 di Jakarta.

"Polri tak punya hak melarang kegiatan rakyat yang dijamin UU. Apalagi dengan alasan yang tidak bisa diterima secara hukum misalnya akan ganggu Kamtibmas dan lainnya," ujarnya.

Anton menegaskan, Polisi tak boleh melarang hal-hal yang belum terjadi. Apalagi secara empirik aksi 212 2 tahun lalu dengan 8 juta massa suasana sangat kondusif. Tupoksi Polri di UU No. 2/ 2002 pasal 13 dan 14 antara lain menjaga Kamtibmas, tegakkan hukum, lindungi ayomi dan layani masyarakat dengan penuh tanggungjawab agar masyarakat bisa beraktifitas dengan nyaman.

"Reuni 212 itu aspirasi kegiatan masyarakat sebagai wujud rasa syukur karena aksi 212 tahun 2016 bisa memenjarakan penista Al Quran Ahok dengan massa 8 juta bisa berlangsung dengan santun damai dan bersih. Tanggal 2 Desember 2018 nanti itu reuni bukan demo tentu lebih kondusif kok dilarang?. Pemerintah harus adil dan tegakkan aturan yang baik dan profesional untuk melancarkan reuni akbar 212," pungkas mantan Jenderal Polri yang kini juga Pengurus MUI Pusat.

Sementara itu Koordinator Forum Rakyat, Lieus Sungkharisma menegaskan, tidak ada yang salah dari rencana aksi reuni akbar alumni 212 yang akan digelar di Monas, 2 Desember mendatang. Apalagi di alam demokrasi saat ini maka tidak ada satu pihak pun yang berhak melarang kegiatan tersebut.

"Gubernur DKI sebagai pemegang otoritas wilayah juga sudah memberi ijin," ujar Lieus kepada Harian Terbit, Minggu (25/11/2018).

Menurutnya, aksi 212 adalah catatan terbesar dalam sejarah aksi umat Islam Indonesia sejak kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada tahun 1945. Catatan sejarah itu bahkan diakui oleh berbagai bangsa di dunia. Karena jutaan orang berkumpul di satu tempat namun tak ada satu rumput pun yang terinjak dan satu batang pohon pun yang patah. Sehingga aksi 212 bisa berjalan aman dan damai.

Lieus sangat heran jika ada pihak yang risih dengan aksi 212. "Sebagai orang Tionghoa dan non muslim, saya tidak pernah terintimidasi dan merasa terganggu dengan aksi-aksi yang dilakukan umat Islam selama ini. Aksi-aksi yang dilakukan umat Islam adalah aksi damai demi menuntut keadilan dan tegaknya kebenaran, ujarnya,” ujarnya.