Penyelidikan Uang Siluman di Kemah Pemuda Masih Berlanjut

Danial
Penyelidikan Uang Siluman di Kemah Pemuda Masih Berlanjut
Dahnil Anzar Simanjuntak

Jakarta, HanTer - Polda Metro Jaya tetap akan meneruskan penyelidikan dugaan penyelewangan atau mark up di dalam apel dan kemah pemuda, walaupun pihak PP Pemuda Muhammadiyah telah mengembalikan uang Rp 2 miliar dana apel dan kemah pemuda Islam 2017 ke Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

"Tidak (menjadikan penyelidikan perkara selesai). Jadi pengembalian uang itu kalau sekarang dikembalikan, wujud apa? Karena uang itu di tahun 2017 kan sudah dipertanggungjawabkan kepada Kemenpora," kata Kasubdit Tipikor Ditkrimsus Polda Metro Jaya AKBP Bhakti Suhendarwan kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (24/11/2018) kemarin.

Menurut Bhakti, uang yang dikembalikan itu tidak masuk di mekanisme kerugian negara karena bukan putusan tuntutan ganti rugi (TGR) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Dia mengatakan pengembalian uang justru jadi disinyalir ada masalah yang terjadi.

"Kalau sekarang dikembalikan tanpa ada putusan TGR dari BPK itu seperti apa? Berarti uang itu uang siluman, tidak masuk di mekanisme kerugian negara. Justru itu malam memperkuat kami memang ada masalah," bebernya.

Penyidik saat ini tengah menyidik dugaan penyalahgunaan anggaran dana kemah itu.

"Kami mencari fakta materiil, bukan fakta formil. Bukan masalah kontraknya. Ini ada perbuatannya," lanjutnya.

Bhakti juga menerangkan, semestinya uang dari Kemenpora dikembalikan jika menemukan ada perbedaan kesepakatan.

"Gini simpelnya aja, kalau misalnya mereka dari awal tahu di kontraknya tidak sesuai dengan yang mereka ajukan, kalau memang spiritnya antikorupsi, dikembalikan saja uang itu semenjak 2017. Jadi kalau mereka dari awal tahu ada masalah di kontrak, harusnya ditolak. Kenapa saat itu digunakan? Sekarang naik ke penyidikan, 'wah kami dianggap korupsi'. Oh nggak," paparnya.

Sementara itu Dirkrimsus Polda Metro Jaya Kombes Pol Adi Deriyan menyatakan memiliki bukti kuat soal dugaan penyimpangan dana kemah dan apel pemuda yang diselenggarakan Kemenpora pada 2017. Bukti dan keterangan saksi itu pulalah yang menjadi dasar polisi meningkatkan penanganan kasus tersebut ke tingkat penyidikan.

Menurut Adi, penyidik telah mendapatkan dokumen dan bukti-bukti berkaitan dengan kasus itu. Pihaknya juga berencana memanggil saksi lain untuk menguatkan soal dugaan penyimpangan dana apel dan kemah pemuda. Polisi juga tengah mengajukan surat Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDTT) ke BPK untuk bisa diketahui jumlah kerugian negara.

Sebelumnya, Ketua Pemuda Muhammadiyah, Ahmad Fanani, mengatakan uang Rp 2 miliar itu sudah dikembalikan ke Kemenpora. Pihaknya mengembalikan uang itu atas dasar harga diri karena Pemuda Muhammadiyah punya spirit antikorupsi.

Alasan lainnya yakni terjadinya perbedaan program kegiatan. Semula PP Pemuda Muhammadiyah mengajukan usulan kegiatan pengajian akbar, tapi belakangan diubah Kemenpora menjadi kegiatan apel dan kemah pemuda Islam pada 2017 di Prambanan, DIY.

Dalam kasus ini, polisi sebelumnya sudah berkoordinasi dengan pihak Kemenpora untuk mengumpulkan barang bukti kasus tersebut berupa daftar isian pelaksanaan anggaran dan proposal pengajuan kegiatan kemah dan apel pemuda Islam Indonesia. Polisi juga telah meminta klarifikasi kepada sejumlah pihak Kemenpora dan telah memeriksa Dahnil Anzar Simanjuntak.