Tuti Tursilawati Sudah Dieksekusi Mati

Selamatkan, 13 WNI Lagi Bakal Dipancung Arab Saudi

Terbit/Safari
Selamatkan, 13 WNI Lagi Bakal Dipancung Arab Saudi
Tuti Tursilawati, tenaga kerja Indonesia (TKI) sudah dieksekuai oleh Pemerintahan Saudi Arabia, Senin (29/10/2018).

Jakarta, HanTer -- Tuti Tursilawati, tenaga kerja Indonesia (TKI) sudah dieksekuai oleh Pemerintahan Saudi Arabia, Senin (29/10/2018). Berdasarkan keterangan dari Kementerian Luar Negeri RI, eksekusi tersebut dilakukan oleh Arab Saudi tanpa didahului dengan notifikasi oleh otoritas setempat kepada perwakilan Indonesia di Saudi Arabia.

Dalam rentang 2011-2018 tercatat 103 WNI dijatuhi hukuman mati di Arab Saudi. Dari jumlah tersebut, 85 orang berhasil dibebaskan dari ancaman hukuman mati sementara lima orang lainnya telah dieksekusi sehingga tersisa 13 WNI yang masih diupayakan pembelaan hukumnya.

Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal mengatakan masih terdapat 13 WNI yang terancam hukuman mati di Arab Saudi.

Dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (30/10/2018), Iqbal menegaskan pemerintah akan terus berupaya meringankan hukuman para WNI tersebut.

"Yang jelas fokus pemerintah memastikan mereka terpenuhi hak-hak hukumnya, yang terpenting adalah pembelaan diri, mendapatkan penterjemah, dan proses peradilan yang fair," kata Iqbal.

Dari 13 WNI tersebut, salah satunya yakni Eti binti Toyib, sudah mendapatkan putusan inkracht sementara lainnya masih dalam tahap peradilan umum sehingga masih dapat diupayakan bebas dari hukuman mati.

Hukuman mati terhadap Eti pun sedang diupayakan keringanannya karena tergolong hukuman mati qisas, yang bisa dimaafkan oleh ahli waris korban dan kasusnya diselesaikan dengan diyat.

"Saat ini kami masih dalam pembicaraan dengan ahli waris. Kami meminta ahli waris menyampaikan tawaran tertulis mengenai persyaratan untuk pemaafan Eti. Sampai saat ini pemberitahuan tertulis untuk Eti binti Toyib belum disampaikan keluarga korban kepada hakim," ujar Iqbal.

Dikecam

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Masyarakat mengecam keras eksekusi mati terhadap Tuti Tursilawati, pekerja migran Indonesia.

"Eksekusi mati tersebut adalah pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia sekaligus juga menciderai tata krama diplomasi internasional," tegas Direktur LBH Masyarakat, Ricky Gunawan di Jakarta, Selasa (30/10/2018).

Atas eksekusi mati tersebut, ujar Ricky, maka pihaknya mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengambil tindakan yang tegas untuk merespon kejadian tersebut. Jokowi harus mengevaluasi hubungan kerja sama bilateral Indonesia-Saudi Arabia, termasuk di dalamnya yang berkaitan dengan penempatan tenaga kerja migran Indonesia di Saudi Arabia.

Direktur Eksekutif Migrant Care, Wahyu Susilo juga mengecam atas eksekusi yang dialami Tuti. Apalagi Tuti adalah satu dari lima TKI yang sudah mendapat vonis tetap hukuman mati. 

Kronologi kasus yang menjerat Tuti hingga ia dieksekusi mati karena sering dilecehkan oleh majikannya. "Tuti sering dilecehkan oleh majikan lelaki. Satu ketika, Tuti yang asal Majalengka, Jawa Barat, ini melawan dan memukul majikan lelaki dengan kayu hingga tewas. Dia buron dan kemudian ditangkap polisi Saudi. Dia dipenjarakan di kota Thaif," paparnya.

Migran Care mengingatkan kepada Presiden Jokowi untuk benar-benar serius merespons situasi seperti ini," jelasnya.

"Presiden Jokowi harus membatalkan MoU RI-Saudi tentang penempatan one channel system ke Saudi Arabia karena terbukti Saudi Arabia tidak memenuhi syarat dan ketentuan tentang perlindungan hak asasi PRT migran sebagaimana yang dipersyaratkan dalam dokumen yang ditandangani Menaker RI dan Menaker Saudi Arabia," paparnya. Harian