Habib Rizieq Tidak Pulang ke Indonesia Lebih Aman Bagi Jokowi

Safari
Habib Rizieq Tidak Pulang ke Indonesia Lebih Aman Bagi Jokowi
Habib Rizieq

Jakarta, HanTer - Persaudaraan Alumni (PA) 212 menantang Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) sebagai petahana untuk memulangkan Habib Rizieq Shihab (HRS), dari Arab Saudi sebelum gelaran Pilpres 2019. Sebelumnya calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto melontarkan niat menjemput Rizieq sebelum Pilpres 2019 berlangsung.

Sejumlah pengamat memperkirakan, Jokowi tidak akan menerima tantangan PA 212 karena secara politik, mantan Gubernur DKI itu lebih aman jika HRS tidak pulang ke Indonesia.

"Menimbang untung ruginya soal posisi HRS, kemungkinan besar Jokowi lebih memilih opsi agar HRS tidak pulang karena itu lebih "aman" bagi Jokowi," kata Direktur The Community Ideological Islamic Analyst ( CIIA) Harits Abu Ulya kepada Harian Terbit, Kamis (25/10/2018).

Menurutnya, sosok HRS ini bisa menjadi kontraproduktif bagi Jokowi. karena kepulangan HRS ke Indonesia baik oleh tangan Jokowi atau tidak, hadirnya HRS akan menjadi energi besar bagi dinamika dan spirit ganti rezim ganti presiden. Namun jika Jokowi menerima tantangan 212 maka hal itu sudah lewat momentumnya. Sikon politik sudah terlanjur mengkristal menjadi dua kutub diametrikal kepentingan dengan beragam sebab dan variable yang melatarbelakanginya.

Harits mengatakan, tantangan Alumni 212 yang meminta Jokowi menjemput HRS akan menjadi buah simalakama untuk Jokowi. Karena dalam konstestasi Pemilu 2019 posisi HRS sama sekali tidak bisa dinafikan. Karena HRS menjadi salah satu faktor penentu kemana arah pilihan konstituen dari kalangan Islam.

"Konstestasi Pilgub DKI Jakarta adalah realitas empirik yang tidak terbantahkan, betapa figur HRS menjadi pusat pusaran dinamika pilihan politik umat Islam di wilayah DKI. Ini sebagai bukti posisi dan eksistensi HRS wajib diperhitungkan," ujar Harits.

Dia menilai, HRS efek resonansinya tidak hanya dalam ruang lingkup Pilgub DKI saja tapi juga menjangkau sampai level nasional. Oleh karena itu tantangan alumni 212 kepada Jokowi untuk menjemput HRS cukup menarik untuk dikaji. Jika serius maka Jokowi dan timsesnya mendengar kemudian menimbang tantangan tersebut, tapi tantangan itu akan menjadi buah simalakama bagi Jokowi.

Asumsinya jika Jokowi berani terima tantangan maka akan dihadapkan pada spekulasi apakah bisa jamin HRS akan aman dari upaya-upaya atau rekayasa kriminalisasi terhadap dirinya? Publik sudah bisa menjawab dengan sendirinya. Begitupun jika Jokowi bisa pulangkan HRS maka itu bisa mendongkrak citra positif bagi Jokowi tapi bukan jaminan sama sekali bahwa HRS dan umat Islam di sekelilingnya beralih pilihan politiknya menjadi inheren dengan barisan Jokower.

Lebih lanjut Harits, pakem politik sangat dinamis; segala sesuatu serba mungkin. Maka setiap pilihan politik ada resiko. Oleh karenanya para politikus dan mastermindnya "Jokowi the gank"  mempunyai banyak planing untuk mengamankan semua target dan kepentingan politiknya. Jangan lupa, diluar itu semua kerap muncul peristiwa dan momentum diluar prediksi dan diluar rekayasa sosial yang sudah disiapkan yang pada akhirnya memporak-porandakan semua perhitungan manusia.

Proporsional

Sementara itu, pengamat politik dari Point' Indonesia (PI) Karel Susetyo mengatakan, pulang atau tidaknya ke Indonesia bergantung dari HRS sendiri. Karena tak ada yang memerintahkan HRS tinggal di Arab Saudi. Oleh karena itu menjadi aneh kenapa soal HRS yang saat ini berada di Arab Saudi mengaitkan dengan pemerintahan Jokowi. "Kenapa harus bawa-bawa pemerintah soal urusan ini?," tanyanya.

Karel mengemukakan, terkait kasus HRS harusnya berlaku secara proporsional saja. Kasus HRS ini tidak perlu dibawa ke ranah politis apalagi sampai membawa bawa Presiden segala.  "Silahkan HRS kembali ke tanah air. Sebagai warga negara yang bebas kan tidak ada yang menghalangi dirinya untuk pulang ke Indonesia," jelasnya.

Dukung Prabowo

Juru Bicara PA 212 Novel Bamukmin mengemukakan, PA 212  sebenarnya mendukung penuh niat Prabowo menjemput Rizieq. Pasalnya, sambung Novel, itu pun tertera dalam Pakta Integritas Ijtimak Ulama yang disepakati Prabowo untuk mendapatkan dukungan dalam Pilpres 2019.

Namun, menurutnya saat ini kondisi saat ini masih tak memungkinkan bagi Rizieq untuk pulang. Alasannya, kata Novel, kriminalisasi ulama dan aktivis oposisi masih tinggi. Terlebih usai kasus Ratna Sarumpaet yang membuat tujuh belas politisi oposisi dilaporkan ke polisi.

"Rencana Prabowo membawa pulang Habib Rizieq ini sulit karena Prabowo bukan penguasa," tuturnya.

Sebelumnya, Prabowo berharap Rizieq bisa pulang ke Indonesia sebelum hari-H Pemilu 2019. Jika tak kunjung pulang, Prabowo berencana menjemputnya langsung ke Arab Saudi.

Tawa Moeldoko

Terpisah, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menanggapi santai tantangan PA 212 kepada Presiden Joko Widodo untuk memulangkan Muhammad Rizieq Shihab, dari Arab Saudi sebelum Pilpres 2019. Ia bahkan sampai menertawakan permintaan disampaikan Juru Bicara PA 212 Novel Bamukmin.

"Memang (pemulangan Rizieq) urusan Presiden (Jokowi) ya?" kata Moeldoko sambil tertawa di Gedung III Sekretariat Negara, Kamis (25/10). Seperti dilansir CNN Indonesia.

Moeldoko menyatakan anggapan pemulangan Rizieq untuk membuktikan tidak ada kriminalisasi ulama justru keliru. Pemerintah, kata Moeldoko sama sekali tidak pernah mengkriminalisasi tokoh apalagi ulama.  "Pemerintah tidak mengkriminalisasi ulama. Anggapan salah itu. Kami harus luruskan yang begitu," katanya.

Rizieq masih berada di Arab Saudi setelah menjalani umrah ke tanah suci di Mekkah, pada akhir April 2017. Ia meninggalkan Indonesia setelah sempat terseret dalam beberapa kasus pidana, seperti penghinaan Pancasila dan percakapan pornografi diduga dengan seorang perempuan bernama Firza Husein, melalui aplikasi WhatsApp.

Dua kasus yang membuatnya jadi tersangka di Polda Jabar dan Polda Metro Jaya itu sendiri telah dihentikan penyidikannya oleh kepolisian.

#Ulama   #Manado   #Habib   #MUI