Bendera RRC Berkibar di Atas Merah Putih; Waspada, Indonesia Jadi `Jajahan` Asing

Safari
Bendera RRC Berkibar di Atas Merah Putih; Waspada, Indonesia Jadi `Jajahan` Asing
Istimewa

Jakarta, HanTer - Masyarakat kaget ada bendera RRC diatas bendera Merah Putih mengudara di atas alun-alun Kulonprogo DIY, Senin (15/10/2018). Bendera RRC tersebut berkibar saat upacara peringatan HUT Kabupaten Kulon Progo ke 67 yang dimeriahkan dengan berbagai atraksi antara lain Tari Angguk dengan 1000 penari dan pesta kembang api.

Disaat kembang api meledak di udara, satu diantaranya mengeluarkan parasut berbendera RRC diatas bendera merah putih. Hal ini tentu saja mengagetkan masyarakat yang menghadiri peringatan HUT Kabupaten Kulon Progo. Apalagi peringatan HUT Kabupaten Kulon Progo dihadiri sejumlah pejabat.

Atas mengudaranya bendera RRC di atas Merah Putih berbagai kalangan menyesalkannya. Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pusat, Anton Tabah Didgoyo mengatakan, aparat negara harus mengusut agar kasus mengundaranya bendera RRC di atas Merah Putih tidak membuat resah masyarakat. Apalagi saat ini ada isu RRC akan ‘menjajah’ Indonesia.  

"Itu (mengudaranya bendera RRC di atas Merah Putih) harus diusut tuntas oleh aparat.  Apalagi ditengah isu RRC akan ‘menjajah’ Indonesia," ujar Anton dalam keterangan tertulisnya, Rabu (17/10/2018).

Anton menuturkan, adanya isu RRC akan ‘menjajah’ Indonesia ditandai dengan berbagai indikasi yang sangat mengkawatirkan. Antara lain impor besar-besaran TKA kasar dari RRC,  penyelundupan ribuan ton narkoba dari RRC, kasus puluhan juta penggandaan e-KTP dan pembuatan pulau-pulau reklamasi, RUU Dwikewarganegaraan (DKN) yang konon semua dipersiapkan untuk nampung WN RRC menjadi WNI. Apalagi  proyek-proyek tersebut diiklankan gencar di RRC.

"Terkait dengan pengibaran bendera RRC di atas bendera NKRI, selain perkuat indikasi-indikasi (isu penjajahan RRC atas NKRI) juga penghinaan terhadap lambang negara RI masuk ke ranah UU Nomor 24 tahun 2009 tentang lambang negara," tegasnya.

"Aparat harus usut tuntas sampai ke motif dari kasus tersebut jangan dianggap sepele.  Ini masalah serius menyangkut keselamatan NKRI," tandasnya.

Koloni

Pengamat politik dari Institute for Strategic and Development Studies (ISDS) M Aminuddin mengatakan, berkibarnya bendera RRC dalam HUT Kulon Progo harus diusut dan dicari siapa pelaku serta siapa yang bertanggungjawab. Jika ada unsur pidananya maka segera diproses untuk menegakan supremasi hukum. Karena peristiwa berkibarnya bendera China nampaknya tidak berdiri sendiri jika melihat bendera China juga berkibar disejumlah lokasi.

"Seperti berkibarnya bendera Tiongkok di Maluku, Kepulauan Seribu dan sebagainya yang seolah ingin mempertegas Indonesia adalah negara koloni Tiongkok," ujar Aminudin kepada Harian Terbit, Rabu (17/10/2018).

Terkait apakah memang Indonesia dalam koloni China, Aminudin menuturkan, pidato Presiden Tiongkok di ulang tahun Partai Komunis China tahun lalu  mempertegas hegemoni ke berbagai kawasan di dunia mulai dari Asia, Afrika, dan benua Amerika. Yang menyolok adalah kekuasaan China di Sri Langka,  Zimbabwe, dan Sonangol. Yang dilakukan China terhadap negara - negara tersebut adalah bentuk neo imperialisme dengan jalan membeli kepala negaranya.

Oleh karena itu Aminudin menyarankan agar Pemerintah sebaiknya jangan terlalu menjadi pelayan asing baik terhadap Tiongkok maupun kapitalis barat seperti IMF. Karena dengan menjadi pelayan mereka maka sangat bertentangan nawa cita Bung Karno yang berdiri di atas kaki sendiri alias berdikari.

Polisi Menelusuri

Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Untung Waluya menyebut pihaknya sudah berkoordinasi dengan kepolisian untuk menelusuri bendera China dalam pesta petasan di pentas Tari Angguk HUT ke-67 Kulon Progo.  

"Untuk menelusuri kenapa isi petasan itu ada benderanya, kami nggak bisa lacaknya gimana, tapi sudah koordinasi dengan polisi," kata Untung, ditemui di kantornya, Rabu (17/10/2018).

Untung memaparkan panitia hanya membeli petasan tersebut sebuah toko di Jalan Kyai Mojo-Godean, Kota Yogya. Toko itu merupakan langganan dari pihak panitia. "Kami hanya dalam rangka mengisi acara HUT Kulon Progo, pentas tari angguk dan disemarakkan petasan," jelasnya.

Seksi Pertunjukan Tari Angguk, Joko Mursito mengatakan, tarian angguk dan petasan untuk menyemarakkan peringatan HUT ke-67 jauh dari keinginan tendensi apapun. Jika sejak awal mengetahui isi petasan terdapat parasut dan tergantung bendera Cina maka pihaknya tidak akan memaksakan kehendak memakai petasan.

"Kalau misalnya saya sejak awal tahu yang diledakkan ada bendera itu, tidak saya pakai, saya cukup cuma (tari) angguk saja. Insiden ini baru pertama kali terjadi," ujar Joko yang juga menjabat Sekretaris Dinas Kebudayaan Kulon Progo.

Joko mengaku dia yang memesan petasan itu dari sebuah toko di Jalan Kyai Mojo-Godean, Kota Yogya seharga Rp 4 juta. Dia pesan petasan berisi pita warna-warni untuk menyemarakkan pentas Tari Angguk.

"Jadi konyol dan nggak mungkin kalau saya dengan sengaja menghadirkan itu, ya bunuh diri, nggak mungkin. Yang jelas kami sangat tidak mengetahui," ujarnya.