Merajut Hati di Tengah Pandemi Melalui Pewayangan 

Danial
Merajut Hati di Tengah Pandemi Melalui Pewayangan 
Pagelaran malam yang didalangi oleh Ki Dalang Fajar ini dibuka dengan sambutan singkat oleh Edhie Baskoro Yudhoyono atau yang akrab dikenal Ibas. 

Pacitan, HanTer - Pembatasan sosial yang diterapkan beberapa waktu belakangan bagai mata pisau. Di satu sisi, kebijakan ini mampu menekan laju penyebaran Covid-19. Namun, di sisi lainnya, langkah ini justru membatasi berbagai pihak, termasuk para seniman wayang.

Namun, selalu ada jalan untuk tetap bergerak meski di tengah keterbatasan. Seperti halnya pewayang dari Sanggar Unggul Pamenang yang mengadakan pagelaran Wayang Suluh Pakerti secara online dengan lakon: Merajut Hati Di Tengah Pandemi. Pagelaran malam yang didalangi oleh Ki Dalang Fajar ini dibuka dengan sambutan singkat oleh Edhie Baskoro Yudhoyono atau yang akrab dikenal Ibas. 

Setelah membuka sambutan dengan salam dan pesan untuk terus mematuhi protokol kesehatan, Ibas mengungkapkan keprihatinannya akan kondisi pewayangan saat ini. Gerak seniman wayang terbatas, pemasukannya pun kian berkurang, bahkan tidak sedikit yang sama sekali tidak mendapat pemasukan. Terkait hal tersebut, Ibas menyampaikan apresiasi kepada Kemenpar yang menjadi mitra terselenggaranya pagelaran secara online. Hadirnya acara ini bak angins segar untuk dunia pewayangan Pacitan.

Kemudian, terkait pewayangan, baginya wayang bukan sekadar pertunjukan melainkan memuat unsur moral, “Dalam bahasa Jawa, kata wayang berarti “bayangan” atau biasanya dianggap sebagai cerminan cerita kehidupan di jagad raya. Pentas pertunjukan wayang tidak hanya merupakan hiburan semata, namun juga memuat unsur unsur pendidikan moral.” 

Ibas juga menambahkan, “Pagelaran wayang ini tidak saja merupakan upaya pelestarian budaya warisan leluhur kita, namun juga merupakan upaya untuk mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai moral dan adat ketimuran yang pada saat ini sudah mulai ditinggalkan oleh generasi muda. Berbagai narasi yang tersaji selama pertunjukan pewayangan memiliki kandungan nilai-nilai luhur yang dapat kita ambil hikmahnya dan dapat kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari, seperti hanya mengamalkan pilar-pilar kebangsaan dalam kehidupan,” tutur Ibas.

Selain mengapresiasi Kemenpar, tidak lupa Ibas juga mengapresiasi para seniman Pacitan yang tetap semangat di tengah pandemi, “Wayang suluh Pakerti meniko salah satunggaling warisan budaya luhur khas Pacitan. Engkang dumadi saking nyawiji-ipun wayang suluh kalian wayang beber khas Pacitan,” ujarnya.

Pagelaran Wayang Pakerti ini diharapkan mampu membangkitkan semangat seniman wayang dan masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Ibas juga berharap acara ini dapat mewakilkan empati para seniman wayang untuk ikut berkontribusi terhadap masyarakat, terutama kaum disabilitas sebagai pihak yang sangat terdampak. Akhir kata, Ibas berharap agar acara ini mampu meningkatan kebersamaan, kreativitas, serta produktivitas sekalipun dilakukan secara virtual.