UU Cipta Kerja Ada Kesalahan, Sjafril: Terburu-buru dan Kejar Tayang

Alee
UU Cipta Kerja Ada Kesalahan, Sjafril: Terburu-buru dan Kejar Tayang

Jakarta, HanTer - Naskah UU Omnibus Law Cipta Kerja yang memuat 1.187 halaman, telah sah ditandatangani Presiden Jokowi pada 2 November 2020. Namun, setelah naskah UU tersebut diteken dan disahkan, ternyata ada hal yang menarik dan dianggap janggal, hingga membuat publik bingung.

Diketahui, pada naskah yang sudah ditandatangani terdapat isi undang-undang yang dinilai janggal, sehingga membuat tanda tanya besar.

Berawal dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) lewat akun Twitter @FPKSDPRRI menceritakan bagaimana mereka menemukan kesalahan dalam UU itu.

"Di malam hari, UU Cipta Kerja diunduh dari sini. Subuh, baca baru sampai halaman 6, kenapa ada pasal rujukan tetapi tidak ada ayat?" cuit akun @FPKSDPRRI pada Selasa 3 November 2020.

“Astaga! Waduh! Kok gegabah! Indonesia ini Republik Negara besar lho.  Penduduk 270 juta jiwa. Bisa amburadul dalam menyajikan UU Cipta Kerja,” kata Syafril Sjofyan, Pengamat Kebijakan Publik, Aktivis Pergerakan 77-78 kepada Harian Terbit, Selasa (3/11/2020).     

“Katanya sebagai UU Sapu Jagat. Akan mendatangkan Investor. Akan membuat sejahtera rakyat. Akan membuat pertumbuhan ekonomi melesat. Astagfirullah UU yang semula bernama RUU Cipta Lapangan Kerja dari awal sudah kontoversial dalam jumlah halaman, dan sebelumnya ada pasal yang muncul dan hilang yaitu pasal 46 tentang Minyak dan Gas Bumi. Setelah diserahkan kepada Pemerintah oleh DPR-RI,” papar Sjafril.

Hari ini (3/11) Pemerintah mengakui ada kesalahan teknis dalam UU 11/2020 tentang Cipta Kerja yang telah ditandatangani Presiden Joko Widodo dan diunggah dalam laman Setneg. 

Menurut Sjafril, kesalahan demi kesalahan membuktikan bahwa UU tersebut memang dibuat terburu-buru dan kejar tayang, sehingga wajah UU Sapu Jagat tersebut menjadi UU yang coreng moreng penuh kontroversial. 

Meminjam istilah Prof. Zainal Arifin Mochtar, lanjut Sjafril,  UU Cipta Kerja Dibuat dengan Konflik Kepentingan. UU Cipta Kerja merupakan UU dengan proses ugal-ugalan, hasilnya menjadi “UU ugal-ugalan”. 

Viral

UU Cipta Kerja menuai kritik. Sebab, terjadi salah ketik pada pasal 6 yang dinilai cukup fatal. Pengetikan pasal 5 ayat (1) yang jadi rujukan pasal 6 tak dapat ditemukan. Alhasil ini jadi perbincangan di dunia maya, khususnya Twitter. 

Topik terkait pasal 5 menanjak jadi trending topic dengan jumlah tweet sebanyak 4.939 hingga pukul 12.47 WIB. Warganet pun bingung, bagian mana yang jadi rujukan dari pasal 6 tersebut.

"UU ciptaker diteken jokowi yg berujung terlahir pasal ghoib , pasal 5 ayat (1) huruf a teh yg bisa liat cuma yg masuk closefriend aja ye gak pak? @jokowi," tulis @dhiyaalfaruqy dikutip VIVA, Selasa, 3 November 2020. 

Tak hanya itu, singkatan berulang seperti yang tercantum pada halaman 223 pada poin 2 disebutkan bahwa Minyak dan Gas Bumi adalah Minyak dan Gas Bumi. Warganet mengkritik penulisan frasa berulang tersebut. 
"Saya adalah diriku," ujar @PandjaitanSarah. 

Diberitakan sebelumnya, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) juga menyoroti adanya kejanggalan dalam Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja yang sudah ditandatangani Presiden Joko Widodo. Kejanggalan salah satunya terdapat pada pasal 6 yang merujuk pada ayat 1 huruf a pasal 5.

Namun, pasal lima yang jadi rujukan justru tak ada ayat dan huruf tersebut. "Pasal 6 jadi satu ketentuan yang merujuk pada Pasal 5, di situ tidak ada, maksudnya merujuk ke mana itu?" kata Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR dari Fraksi PKS Bukhori Yusuf kepada wartawan, Selasa, 3 November, 2020.

#Ciptakerja   #uu   #buruh   #jokowi   #istana   #DPR