Soal Karikatur Nabi, Presiden Jokowi Harus Tekan Macron Minta Maaf

Danial/Alee
Soal Karikatur Nabi, Presiden Jokowi Harus Tekan Macron Minta Maaf
Presiden Jokowi saat ngevlog bareng Presiden Macron

Jakarta, HanTer - Sekretaris Jenderal DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Habib Aboe Bakar Alhabsyi meminta Presiden Joko Widodo mendesak Presiden Prancis Emmanuel Macron agar meminta maaf dan mencabut ucapannya yang melukai hati umat Islam.

Apalagi dukungan Macron atas penistaan Nabi Muhammad SAW dilakukan saat umat Islam sedang merayakan maulid Baginda Rasulullah Muhammad SAW.

"Harus dipahami saat bulan maulid ini, umat Islam banyak menjalankan kegiatan untuk mengingat dan mengagungkan Nabi Muhammad SAW, sehingga penistaan tersebut dan tindakan Macron tentu terasa sangat menyakitkan umat Islam," kata Habib Aboe, dalam pernyataannya di Jakarta, Senin.

Hal tersebut disampaikan Habib Aboe dalam Peringatan Maulid Nabi SAW yang berlangsung di Kantor DPP PKS, Jakarta, Ahad (1/11/2020) malam.

Dalam konteks politik global, katanya, tindakan Macron juga sangat membahayakan ketertiban dunia karena telah menyinggung sekitar 25 persen populasi dunia, yakni lebih dari 1,9 miliar warga dunia yang beragama Islam tersakiti hatinya atas indakan ini.

"Tentunya ini tidak baik untuk ketertiban dan perdamaian dunia karena dikhawatirkan akan mengancam adanya konflik sosial," kata Habib Aboe dilansir Antara.

Oleh karena itu, Habib Aboe meminta Presiden Jokowi untuk menekan Presiden Macron agar meminta maaf dan mencabut ucapannya.

Sikap tegas Presiden Jokowi juga sangat penting untuk mewakili ratusan juta umat Islam di Indonesia.

Menurut Habib Aboe, Presiden Jokowi harus memahami suara hati masyarakat muslim Indonesia, apalagi sudah begitu banyak aspirasi dari MUI serta berbagai ormas lainnya.

Bahkan, katanya, tidak sedikit di antara masyarakat yang menyerukan dan melakukan langkah pemboikotan terhadap produk Prancis.

"Tentunya refleksi atas sikap berbagai lembaga dan masyarakat ini harus didengar dan diwakili oleh Presiden Jokowi dalam sikap tegasnya di kancah internasional," pungkas Habib Aboe.

10 Pelajar Ditangkap

Kapolres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Heru Novianto mengatakan, pihaknya menangkap 10 orang pelajar yang ikut dalam demonstrasi di depan Kedutaan Besar Prancis, Jakarta Pusat. 

Mereka ditangkap karena dianggap tidak memiliki kepentingan di demonstrasi tersebut, atau pun demonstrasi buruh di depan Patung Kuda Arjuna Wijaya. 

"Dia bukan buruh dan ormas. Tapi intinya kami periksa, karena tadi ada yang bawa pistol, pistol mainan," ungkap Heru di Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (2/11/2020). 

"10 orang rata-rata pelajar, karena di bawah 17 tahun semua," beber Heru. 

Seperti diketahui ribuan orang memadati simpang Sarinah Thamrin, Jakarta Pusat. Massa yang berasal dari PA 212 dan FPI itu tak bisa mendekati Kedutaan Besar Prancis, karena terhalang barikade beton dan kawat duri yang polisi buat.

Selain di Indonesia, unjuk rasa mengecam pemerintah Prancis juga terjadi di beberapa negara-negara yang mayoritas penduduknya umat Islam. Sejumlah demonstran yang turun ke jalan, menyerukan boikot untuk produk-produk asal Prancis.

 Macron disebut telah menyerang lebih dari dua miliar umat Islam di seluruh dunia, dan memicu perpecahan di kalangan umat beragama di dunia.

“Kebebasan berekspresi tidak seharusnya dilakukan dengan cara menodai kehormatan, kesucian, nilai-nilai kesucian agama dan simbol (Agama),” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri RI.

Macron dianggap telah menghina Islam dan membela penerbitan karikatur Nabi Muhammad yang kontroversial. Sejumlah negara telah menyampaikan kecamannya atas pernyataan Macron tersebut, sementara aksi boikot produk Prancis telah diserukan di beberapa negara termasuk Kuwait, Qatar dan Turki.