Transformasi Energi BUMN Wujudkan Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Danial
Transformasi Energi BUMN Wujudkan Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional
Anggota komisi VI DPR RI, Andre Rosiade

Jakarta, HanTer - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mendorong transformasi energi dan pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk perkuat ketahanan energi nasional. 

Hal itu berangkat dari kebutuhan bahwa dunia tengah menghadapi transformasi sistem energi. Dari energi fosil yang menghasilkan polusi udara menjadi energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Maka dari itu, Kementerian BUMN terus melakukan transformasi di bidang ketahanan energi dengan mengembangkan electric vehicle (EV) battery bagi kendaraan listrik, sinergitas kilang dan pertrokimia, implementasi transisi yang jelas dan terpadu untuk peralihan dari sumber daya fosil dan energi terbarukan sesuai dengan potensi cadangan yang dimiliki dan kebutuhan energi ke depan.

Anggota komisi VI DPR RI, Andre Rosiade mendukung upaya Erick Thohir menjalankan transformasi energi dan mengembangkan program Energi Baru Terbarukan (EBT), yang ingin diwujudkan Kementerian BUMN untuk ketahanan energi nasional.

“Kalau bisa BUMN-BUMN kita bisa bersatu keroyokan semuanya untuk membangun indsutri ini, apalagi sumber daya alamnya, sumber daya alam kita, tentu kami di komisi VI sangat mendukung langkah-langkah ini,” ujar Andre, Selasa (27/10/2020).

Andre juga menyambut baik, langkah Erick Thohir untuk mewujudkan kemandirian dan ketahanan energi nasional, dengan melibatkan berbagai sektor, terutama perusahaan-perusahaan BUMN yang berada dalam klaster energi dan minerba seperti PLN, Pertamina, MIND ID dan bukit asam.

“Saya rasa ini baik ya dan kita juga mendengar bahwa berbagai BUMN seperti Pertamina, MIND ID, PLN, serta Bukit Asam dilibatkan, saya rasa itu langkah yang tepat, semuanya terlibat dalam rencana besar ini, bagaimana kita bisa punya kemandirian energi, kita bisa mempunyai industri baterai,” ungkapnya.

Andre menambahkan, cadangan nikel di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia, dengan kualitas yang terbaik, sehingga harus dapat dioptimalkan sebaik mungkin.

“Karena memang deposit nikel terbesar dunia ada dikita, lalu kualitas kita nikel luar biasa kenapa bukan perusahaan Indonesia yang mengembangkan, yang membesarkan industri battery ini, kenapa harus dari luar,” ulasnya.

Sementara itu, Pengamat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dari Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto menilai rencana Erick Thohir itu sejalan dengan peta industri dunia yang perduli terhadap lingkungan.

“Ini konsekuensi logis saja dari kecenderungan industri di dunia yang pro green. Karena dengan protokol tersebut, produk mereka relatif bisa diterima secara global,” kata Toto, Selasa (27/10/2020).

Menurut Toto, investasi di sektor Energi Baru Terbarukan (EBT) memerlukan biaya investasi yang besar dan menuntut penerapan teknologi tinggi, sehingga diperlukan perhitungan yang cermat terkait nilai investasi dan keuntungan yang akan diterima.

“Contoh energi panas bumi di Kamojang milik Pertamina memerlukan skala ekonomi yang cukup untuk bisa berproduksi optimal. Terdapat beberapa potensi panas bumi yang lain, tapi belum bisa dikembangkan karena pertimbangan biaya investasi dan return yang bisa diterima investor,” bebernya.

Selain itu, lanjut Toto, PLN juga telah mencoba untuk mengembangkan EBT berupa energi angin seperti Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Sidrap Sulawesi Selatan, ia menilai investasi tersebut relatif mahal, namun produktivitas outputnya tergantung kondisi alam (angin). 

“Jadi EBT ini memang perlu investasi besar dan target Pemerintah di 2025 kontribusi EBT harus mencapai 23% dari keseluruhan energi nasional. Realisasi sampai dengan saat ini masih dibawah 15%,” tuturnya.

Toto menyarankan, untuk mengejar target tersebut maka perlu sinergi pemerintah dan dunia usaha. Dengan memberikan Insentif fiskal yang menarik kepada para investor yang akan masuk di industri ini.

“Demikian pula komitmen dunia usaha patut ditingkatkan untuk penggunaan energi bersih. Ujungnya terdapat keseimbangan demand dan supply sehingga harga ekonomis EBT bisa terealisir,” tuntasnya.