DPR: Publik Khawatir Perihal Keamanan, Ramai-ramai Tolak Suntik Vaksin Covid-19

Harian Terbit/Safari
DPR: Publik Khawatir Perihal Keamanan, Ramai-ramai Tolak Suntik Vaksin Covid-19

Seorang sukarelawan uji coba vaksin COVID-19 AstraZeneca meninggal dunia di Brasil. Berkaca dari hal tersebut, anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher meminta proses pengadaan vaksin Corona di Indonesia harus dibuat transparan.

Menurut Netty, saat ini publik mulai khawatir perihal keamanan dari vaksin Corona. Ia pun meminta pemerintah tidak memberikan vaksin yang masih 'setengah jadi' kepada masyarakat.

"Karena saat ini di masyarakat isunya menjadi liar aman atau tidaknya vaksin ini? Jangan sampai vaksin yang diberikan masih setengah jadi, ini akan membahayakan penduduk," kata Netty.

Terkait pengadaan vaksin di Tanah Air, Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi bersama Menteri BUMN Erick Thohir telah melakukan kunjungan ke Inggris. Usai melakukan sejumlah pertemuan, Retno mengatakan AstraZeneca akan memberikan penyediaan vaksin sebanyak 100 juta kepada Indonesia pada 2021.

Bagaimana pendapat warga terkait vaksin corona, berikut petikannya.

Suryati: Karyawati

Saya enggak bakal mau disuntik vaksin virus corona. Karena yang ada, bukan virus corona yang mati tapi malah semakin menyebar. Apalagi vaksin virus corona yang bakal disuntikan juga belum teruji kemampuannya. Jadi terus terang saya tidak mau disuntik vaksin virus corona. Kalau tidak mau disuntik vaksin tapi malah kena denda Rp 5 juta tentu saya menolak. Karena vaksin itu belum teruji khasiatnya. Nanti kalau terjadi apa-apa siapa yang tanggungjawab.

Santi Sumule, Ibu Rumah Tangga 

Vaksin virus corona kan sepertinya gagal. Karena ada relawan yang divaksin virus meninggal dunia. Jadi saya gak mau disuntik. Baiknya yang memerintahkan saja yang terlebih dahulu divaksin. Karena selama ini juga belum ada konfirmasi dari pemerintah apakah vaksin itu aman atau tidak.

Rakyat kok buat uji coba. Memang ketika meninggal lalu nyawa itu ada yang jual. Jadi terus terang saya tidak mau diuji coba vaksin. Soal denda Rp 5 juta untuk yang tidak mau divaksin juga aneh. Kecuali memang sudah terkonfirmasi bahwa benar vaksin itu aman untuk digunakannya. 

Tursiyah, Wiraswasta

Kalau memang diharuskan untuk ikut vaksin virus Covid-19 why not. Tapi itu kalau memang benar vaksin itu sudah aman untuk digunakan. Karena terus terang saya takut juga, apalagi vaksin itu belum teruji apakah aman atau tidak. Manusiawi kalau kita takut, karena kalau gagal imbasnya bisa fatal, yang kena vaksin bisa meninggal dunia. Siapa yang nanggung biaya hidup anak-anak kalau orang tuanya meninggal dunia.

Tini Alfi, Wirausaha 

Terus terang kalau saya pribadi tidak mau ikut suntik vaksin virus corona. Walaupun suntik vaksin itu dengan alasan untuk menekan penyebaran Covid-19. Dari pada disuntik vaksin yang masih belum tahu khasiat maka lebih baik kita jaga imun atau kesehatan secara alamai saja. Apalagi kita juga belum tahu apakah ujicoba vaksin itu berhasil atau tidak.

Kalau tidak mau divaksin bisa kena denda Rp 5 juta maka baiknya pejabat yang pengadaan vaksin itu saja yang disuntik terlebih dahulu sebagai ujicoba. Jangan rakyat yang tidak tahu apa-apa dijadikan kelinci percobaan.  Siapa yang tanggungjawab ketika terjadi sesuatu pasca disuntik vaksin itu.

Tuti Hartini, Wakil Ketua RT 

Saya takut disuntik, jadi saya tidak mau disuntik vaksin virus corona. Apalagi vaksin itu baru ujicoba. Jadi tambah takut disuntik. Kalau ujicoba kan bisa gagal. Kalau hasilnya gagal bagaimana nanti nasib suami dan anak-anak saya. Kalau tidak mau divaksin lalu kena denda Rp5 juta, itu namanya pemaksaan. Jadi kalau tidak mau divaksin maka jangan dipaksa. Tapi bagi yang mau ya silakan. Karena masing-masing orang punya sudut pandang yang berbeda. Saya nilai tidak mau divaksin bakal didenda Rp 5 juta itu hanya gertak sambel. 

Untuk diketahui, seorang relawan uji klinis vaksin COVID-19 AstraZeneca di Brasil meninggal dunia, berdasarkan keterangan para pejabat pada Rabu (21/10). Dikutip dari The Guardian, relawan yang meninggal dilaporkan bernama Dr Joao Pedro Feitosa. Ia merupakan petugas medis berusia 28 tahun yang merawat pasien COVID-19.

Surat kabar Brasil, O Globo, melaporkan bahwa relawan tersebut telah diberi plasebo, bukan vaksin COVID-19 eksperimental. Uji klinis vaksin yang dikembangkan AstraZeneca bersama Universitas Oxford itu pun disebut akan tetap dilanjutkan.