Presiden Macron Hina Islam dan Rasulullah, Ribuan Umat Serbu Kedubes Prancis

Alee/Safari
Presiden Macron Hina Islam dan Rasulullah, Ribuan Umat Serbu Kedubes Prancis
Presiden Prancis Emmanuel Macron

Jakarta, HanTer - Umat Islam marah dan kecewa pada pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menyudutkan umat Islam dan melakukan penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Ribuan umat akan menyerbu Kedubes Prancis menuntut permintaan maaf. Salah satu tokoh Persaudaraan Alumni (PA) 212, Novel Bamukmin mengatakan kemarahan dan kecewa dengan penghinaan yang dilakukan Presiden Macron. 

“Kami marah dan mengecam pernyataan Macron karena sudha menghina Islam dan Nabi Muhammad.  Sebagai bentuk protes, kami akan serbu melakukan aksi di Kedutaan Besar Prancis," ujar Novel kepada Harian Terbit, Senin (26/10/2020).

Dia mengatakan, seluruh umat Islam di dunia pasti marah dengan pernyataan Macron yang sudah menghina Islam tersebut. “Umat Islam harus melakukan perlawanan, setidaknya bersama-sama memboikot produk-produk buatan Prancis yang beredar di Indonesia.

“Kita tidak bisa menghalangi apabila ada umat Islam yang melakukan sweeping warga negara Prancis yang menetap di Indonesia,” paparnya.

Saat ditanya berapa ribu massa yang akan dikerahkan untuk menyerbu Kedubes Prancis, Novel hanya mengatakan,”Kami gelar rapat dulu serta kordinasikan kepada para ulama, habaib serta tokoh serta ormas ormas lainnya.”

Mengecewakan

Sementara itu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyatakan kecewa pada pernyataan Presiden Macron yang menyudutkan umat Islam dan menganggap penghinaan Nabi Muhammad SAW sebagai ekspresi kebebasan.

"Kami merasa kecewa dan patut disayangkan pernyataan tersebut keluar dari seorang pemimpin yang memperlihatkan ketidaktoleranan terhadap keyakinan orang lain," kata Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad saat dihubungi dari Jakarta, Senin, seperti dilansir Antara.

Ia mengatakan pernyataan Presiden Macron baru-baru ini justru mempertegas sikap intoleran bagi kalangan lain yang menghormati nabi atau pemimpin agama.

Menurut dia, setiap manusia sebaiknya saling menghormati satu sama lain apapun latar belakangnya, terlebih itu adalah hal sakral terkait suatu agama. "Kita menghormati perasaan semua umat beragama untuk tidak melecehkan tokoh suci agama apapun," kata dia.

Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas mengatakan Presiden Macron adalah tipikal pemimpin yang bisa membawa pada pertentangan dan permusuhan umat beragama jika tidak mengubah cara berkomunikasinya, termasuk meminta maaf kepada masyarakat dunia.

"Saya melihat pimpinan seperti Presiden Prancis inilah contoh pemimpin yang akan bisa menyeret dunia kepada kekacauan dan permusuhan yang dalam yang akan memunculkan dendam yang berkepanjangan yang tidak akan kunjung berakhir," kata dia.

Sebelumnya, seorang guru di Prancis dibunuh karena mempertontonkan karikatur Nabi Muhammad SAW yang menurut umat Islam sebagai penghinaan. Kasus terkait penistaan Muhammad juga dilakukan oleh media setempat Charlie Hebdo yang beberapa kali menerbitkan konten bernada satir terhadap nabi umat Islam tersebut.

Presiden Macron disebut mengeluarkan pernyataan kurang sedap terhadap umat Muslim yang merespon berlebihan terhadap materi karikatur satir Nabi Muhammad SAW di Tabloid Charlie Hebdo tersebut. Orang nomor satu di Prancis itu juga menyebut kasus pembunuhan guru itu bertentangan dengan kebebasan berekspresi.

Sejumlah oknum pembunuh guru di Prancis melancarkan aksinya sebagai tindakan melawan pihak yang mendukung penerbitan dan penyebarluasan konten Charlie Hebdo yang menistakan Nabi Muhammad. 

Permusuhan

Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas mengatakan Presiden Macron adalah tipikal pemimpin yang bisa membawa pada pertentangan dan permusuhan umat beragama jika tidak mengubah cara berkomunikasinya, termasuk meminta maaf kepada masyarakat dunia.

"Saya melihat pimpinan seperti Presiden Prancis inilah contoh pemimpin yang akan bisa menyeret dunia kepada kekacauan dan permusuhan yang dalam yang akan memunculkan dendam yang berkepanjangan yang tidak akan kunjung berakhir," kata dia.

Sebelumnya, seorang guru di Prancis dibunuh karena mempertontonkan karikatur Nabi Muhammad SAW yang menurut umat Islam sebagai penghinaan. Kasus terkait penistaan Muhammad juga dilakukan oleh media setempat Charlie Hebdo yang beberapa kali menerbitkan konten bernada satir terhadap nabi umat Islam tersebut.

Presiden Macron disebut mengeluarkan pernyataan kurang sedap terhadap umat Muslim yang merespon berlebihan terhadap materi karikatur satir Nabi Muhammad SAW di Tabloid Charlie Hebdo tersebut. Orang nomor satu di Prancis itu juga menyebut kasus pembunuhan guru itu bertentangan dengan kebebasan berekspresi.

Sejumlah oknum pembunuh guru di Prancis melancarkan aksinya sebagai tindakan melawan pihak yang mendukung penerbitan dan penyebarluasan konten Charlie Hebdo yang menistakan Nabi Muhammad.

Presiden Jokowi 

Ketua Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Luqman Hakim dalam akun Twitter resminya @LuqmanbeeNKRI, Senin (26/10), meminta Presiden Joko Widodo menyatakan sikap terhadap pernyataan yang dinilai menghina Islam dan Nabi Muhammad.

"Sebagai Presiden negara muslim terbesar, Pak @jokowi perlu nyatakan sikap terhadap Macron, mewakili umat Islam Indonesia yang tidak terima agamanya dihina," kata Luqman dalam akun Twitter resminya @LuqmanbeeNKRI, Senin (26/10).

Luqman menyatakan Macron kerap menghina Islam selama sebulan belakangan ini. Ia mencontohkan pernyataan Macron yang dianggap menyinggung umat muslim adalah kalimat, "Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia".