Habib Rizieq Bisa Pulang, Jika Situasi Nasional Genting dan Istana Mulai ‘Goyang’

Safari
Habib Rizieq Bisa Pulang, Jika Situasi Nasional Genting dan Istana Mulai ‘Goyang’

Jakarta, HanTer - Kepulangan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab (HRS) semakin dekat. Saat ini poster HRS berukuran raksasa menyambut kedatangan Sang Imam Besar sudah terpasang di dekat markas FPI di Jl KS Tubun, Slipi, Jakarta Barat. 

Namun rencana kepulangan HRS ke Indonesia membuat ada pihak-pihak yang merasa was-was. Ada pula yang menyambut gembira. Bahkan ada yang menyatakan, HRS bisa pulang ke Tanah Air jika situasi nasional memang benar-benar genting dan Istana memang benar-benar goyang.

“Saya kira kalau situasi nasional terkendali, stabilitas keamanan dalam negeri terkontrol, dan Istana kondisi aman,  sulit bagi HRS untuk kembali ke Indonesia,” kata pengamat politik dan Pemerhati Kebangsaan Tony Rosyid kepada Harian Terbit di Jakarta, Minggu (25/10/2020).

Segera Kembali

Sementara itu, Ketua Umum Persaudaraan Alumni (PA) 212, Slamet Maarif menegaskan Habib Rizieq Shihab akan segera kembali ke Indonesia dan memimpin revolusi, seperti yang dikatakan Ketua Umum FPI Ahmad Shabri Lubis. Tidak heran pernyataan tersebut telah membuat gentar, menghebohkan, hingga Istana 'bergoyang-goyang'.

"Kembalinya (HRS), kemarin disampaikan KH. Shabri bahwa Insya Allah (HRS) akan memimpin bangsa Indonesia untuk revolusi, untuk memperjuangkan dalam rangka menyelamatkan Indonesia," kata Slamet Maarif di chanel Front TV yang dilihat Harian Terbit, Minggu (25/10/2020).

"Pernyataan (HRS pimpin revolusi) ini memang membuat gentar dan menghebohkan, sampai Istana bergoyang- goyang dengan kalimat revolusi," tambahnya.

Slamet mengemukakan, Pak Jokowi sendiri itu kan jargonnya revolusi mental. Anehnya ketika yang mengumumkan orang lain jadi sesuatu yang menggetarkan, padahal Pak Jokowi sendiri mengatakan revolusi mental.

"Oleh karenanya, perlu ditegaskan bahwa kalau kita mendengar kalimat revolusi maka mesti dilihat dulu sisi bahasanya, kalau kita melihat kamus bahasa Indonesia maka revolusi itu perubahan yang cepat," katanya.

Slamet menuturkan, soal maksud dari revolusi yang akab dipimpin Habib Rizieq. revolusi itu adalah revolusi akhlak yang diambil dari nilai-nilai islami. Artikel ini telah tayang sebelumnya di Galamedianews.com dengan judul Habib Rizieq Akan Pulang Ke Indonesia, Ketum PA 212: Buat Istana Bergoyang-goyang

"Kita ingin bangsa dan negara ini ada sebuah perubahan secara menyeluruh dalam waktu yang singkat karena kezaliman di negeri ini itu sudah luar biasa yang menyengsarakan rakyat Indonesia. Tapi tentunya kita ingin perubahan secara damai dan mengarah kepada akhlakul karimah," ungkapnya.

"Jadi ingat, kalau Jokowi punya semboyan revolusi mental yang dulu pernah digaungkan kaum komunis, maka hari ini Habib Rizieq akan menggaungkan revolusi akhlak yang diambil dari nilai islami, tentunya revolusi akhlak ini, perubahan menyeluruh untuk melawan kezaliman ini akan berlangsung secara damai, secara konstitusional dan tidak melanggar hak asasi manusia," paparnya.

Perhatian Publik

Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa, Tony Rosyid juga mengatakan, suka tak suka, HRS telah menjadi megnet perhatian publik selama hampir empat tahun terakhir. Kemampuannya menghadirkan sekitar tujuh juta massa dalam kasus penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok telah mengukir sejarah demonstrasi terbesar di Indonesia. 

"Tentu, tanpa mengabaikan peran tokoh-tokoh lain seperti Bachtiar Nasir, Kiyai Maksum, Kiyai Abdurrasyid Syafii yang juga ikut berperan membuat demo itu menjadi sangat besar. Selain kasus dan isunya sendiri memang punya potensi untuk menghadirkan massa dalam jumlah besar," paparnya.

Sejumlah demo berikutnya, sambung Tony, ketika HRS yang memberi komando, maka selalu mampu menghadirkan massa dalam jumlah besar. Tidak saja ketika HRS berada di Indonesia, tapi juga ketika HRS berada di Arab Saudi. Ini artinya, HRS telah teruji kemampuannya dalam memobilisasi massa. Tentu saja bagi pemerintah, hal ini berbahaya. 

Apalagi info yang beredar, lobi-lobi sejumlah pihak yang mengatasnamakan pemerintah selalu gagal membujuk dan bernegosiasi dengan HRS.  Sebaliknya, HRS terus konsisten melakukan kritik pedas dan tajam kepada pemerintah. Bahkan setahun terakhir ini, HRS terus menerus meminta Jokowi mundur.  "Ini tentu ngeri-ngeri sedap," jelasnya.

Belakangan, lanjut Tony, ada sinyal HRS mau pulang ke Indonesia. Sobri Lubis, ketua FPI, jadi juru bicara untuk menyampaikan ke publik. Bahwa pencekalan HRS oleh pemerintah Saudi sudah dibuka.  Artinya, HRS bisa pulang ke Indonesia. Kapan? Ternyata hingga saat ini HRS belum pulang. Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Agus Maftuh, membantah kalau HRS bisa pulang. Kok beda infonya? Mana yang benar? Sobri Lubis, atau Agus Maftuh? 

Tony mengatakan, ada analisis bahwa kepulangan HRS sengaja disiapkan oleh pihak-pihak tertentu ketika istana sudah betul-betul goyang. Diduga ada kekuatan lain yang dianggap punya kemampuan mengambil alih kekuasaan jika gelombang demo Omnibus Law Ciptaker sudah tak lagi bisa dikendalikan. 

"Dalam situasi istana terancam dan tak dapat dipertahankan, maka kehadiran HRS bisa menjadi lokomotif alternatif untuk mempersempit ruang bagi kekuatan yang mau ambil alih kekuasaan itu," tandasnya.

Begini analisisnya, kata Tony, dari pada istana diambil kekuatan itu, mending serahin sama HRS. Pertama, HRS gak minat jadi presiden. Kedua, HRS bisa berdialog dan diajak berkompromi. Ada ruang bernegosiasi untuk menyusun pemerintahan berikutnya. Sinyal kegentingan ini juga mulai disampaikan oleh PDIP. Melalui kadernya, yaitu Darmadi Durianto, Partai pengusung utama Jokowi ini meminta presiden segera melakukan resuflle kabinet, dan mengganti para menteri yang diduga tak loyal. Hati-hati kudeta merangkak, tegasnya.

Tuntutan PDIP ini punya dua arti. Pertama, ancaman kudeta boleh jadi memang sudah terasa di istana. Kedua, boleh jadi juga ada ketidakpuasan PDIP atas jatah kabinet selama ini. Jika ancaman kudeta betul-betul menguat, maka plan B bisa jadi alternatif. HRS akan dipulangkan. Gak pulang sendiri? Secara politis, terlalu sederhana kalau kita menyimpulkan HRS pulang sendiri tanpa variabel politik nasional dan global. 

"Ini artinya bahwa HRS hanya bisa pulang jika situasi nasional memang benar-benar genting, dan istana memang benar-benar goyang. Jika situasi politik terkendali, stabilitas keamanan dalam negeri terkontrol, plan B gak akan terjadi. Dan kecil kemungkinan HRS bisa pulang. Sebab, HRS pulang, kursi istana bisa jadi taruhan. Soal yang lain, HRS bisa kompromi. Tapi soal Jokowi, belum ada tanda-tanda HRS bisa bernegosiasi," pungkasnya.

Tidak Diinginkan

Pengamat politik Rusmin Effendy mengatakan, kepulangan HRS memang tidak dinginkan pemerintah Jokowi karena bisa dianggap sebagai ancaman. "Diakui atau tidak HRS adalah simbol pemersatu sekaligus simbol "perlawanan" bagi rezim Jokowi. Jadi tidak mungkin pemerintahan membuka pintu kepulangan HRS," ujarnya.

Selain itu, lanjut Rusmin, gerakan ekstraparlementer serta aksi-aksi demo belakangan ini terasa tidak ngefek bagi pemerintah. Ibarat pepatah seperti ayam kehilangan iduknya. "Harus ada tokoh seperti HRS yang bisa membakar semangat perlawanan atas kezoliman rezim. Kalau tidak percuma saja. Hanya buang-buang energi dan tidak ada sasaran yang dituju," tegasnya.

Rusmin menambahkan, saat ini pemerintah sengaja mempersulit kepulangan HRS agar tidak menjadi ancaman sehingga merasa aman dari goyangan. "Kalau sampai HRS pulang, saya pastikan rezim ini pasti akan tumbang. Jadi kepulangan HRS menjadi kekuatan sekaligus perlawanan menumbangkan rezim," ujarnya.