Gatot-Anies Jadi Kekuatan Dahsyat di Pilpres 2024; Untuk Menang Harus Rangkul NU

Safari
Gatot-Anies Jadi Kekuatan Dahsyat di Pilpres 2024; Untuk Menang Harus Rangkul NU

Jakarta, HanTer - Pakar hukum tata negara Refly Harun menyatakan nama mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo terus melonjak, dan ada kemungkinan diperhitungkan dalam perhelatan 2024. Tentu sangat dahsyat jika Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dipersatukan dengan Gatot Nurmantyo.

Menanggapi hal ini pengamat politik dari Institute for Strategic and Development (ISDS) Aminudin mengatakan, jika mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo dipasangkan dengan Anies Baswedan yang saat ini menjadi Gubernur DKI Jakarta maka dari segi latar belakang cukup bagus. Pasangan Gatot-Anies menggambarkan komposisi sipil - militer, seperti pasangan Prabowo - Sandi pada pilpres kemarin.

"Tapi jika lawan politik kombinasi NU dan bukan NU, maka pasangan Gatot - Anies (GANIS) akan mengulang kekalahan seperti Prabowo - Sandi (PAS) dimana PAS menang telak di Aceh dan Sumbar tapi kalah di kantong NU di Jatim dan Jateng yang justru pemilihnya jauh lebih banyak daripada Sumbar dan Aceh," ujar Aminudin kepada Harian Terbit, Minggu (4/10/2020).

Menurut Gus Amin, panggilan akrab Aminudin, jika GANIS ingin menang di Pilpres 2024 maka harus lebih agresif lagi merekrut tim dari kalangan NU. GANIS harus lebih inklusif atau membuka diri. Karena tim PAS dulu progran inklusif pro-rakyat tapi mereka agak ekslusif sehingga menambah kekalahan. Satu hal lagi di DKI Anies juga harus tunjukkan kebijakan yang sukses dirasakan rakyak langsung.

Gus Amin mencontohkan, di Jatim, Gubernurnya yakni Khofifah Indar Parawansa banyak membuat terobosan untuk meringankan beban rakyat seperti pembebasan, keringanan pajak kendaraan dan pembebasan SPP SMA/SMK, dan lain sebagainya. Oleh karena itu Anies perlu membuat terobosan seperti yang dilakukan Khofifah. Anies bisa membuat kebijakan meringankan pajak kelas bawah yang remuk dihajar Covid -19.

"Anies juga bisa membuat program kerja yang bisa merekrut sebanyak-banyaknya orang DKI bisa bekerja didalamnya," paparnya.

Menjadi Ancaman

Pengamat politik Tony Rosyid mengatakan, ada dua tokoh yang dari tahun 2018 menjadi ancaman bagi Jokowi. Kedua tokoh ini adalah Anies Rasyid Baswedan dan Gatot Nurmantyo. Keduanya memiliki kans untuk bersaing di pilpres 2019 tahun lalu. Meski tidak punya partai, Anies dan Gatot memiliki potensi elektabilitas yang tinggi. Apalagi Anies dianggap cukup cemerlang dalam membuat langkah-langkah kebijakan di Jakarta.

"Anies berhasil  tutup Alexis, segel pulau reklamasi, bangun stadion bertaraf internasional, sulap sejumlah kawasan menjadi destinasi yang tak kalah menawan dari kota-kota besar di dunia. Ini adalah bagian dari langkah dan terobosan Anies yang menggugah apresiasi publik. Sebagai Gubernur ibu kota, Anies punya panggung. Semua media menyorotinya. Di panggung inilah Anies mampu berinteraksi sangat baik dengan publik. Anies menjanjikan narasi dan gagasan yang berbeda dari umumnya kepala daerah," kata Tony Rosyid kepada Harian Terbit, Senin (5/10/2020).

Sementara Gatot, sambung Tony, pandai memanfaatkan panggung saat menjadi Panglima TNI. Tampil tegas dan berani berbeda dengan kebijakan penguasa. Isu yang selalu diangkat Gatot adalah soal G 30 S PKI. Isu ini menyentuh emosi dua komunitas. Pertama, TNI. Khususnya Angkatan Darat. Kedua, Umat Islam. Keduanya pernah menjadi korban keganasan PKI. Dan Gatot berhasil memainkan isu ini.

Namun, lanjut Tony, 2019, ada operasi politik yang dilakukan istana untuk menjegal kedua tokoh ini agar tidak punya ruang untuk bertarung di pilpres 2019 lalu. Ini hal biasa dalam konstalasi pemilu. Dengan mendorong Prabowo maju sebagai capres 2019 berhasil menutup ruang bagi Anies untuk nyapres. Ada beban sosial jika Anies terus didorong nyapres dan bersaing dengan Prabowo.

Pertama, Anies belum genap dua tahun menjadi gubernur DKI. Kedua, Prabowo punya peran dan andil besar dalam mengusung Anies ke pilgub DKI. Ketiga, pemilih Prabowo dan Anies beririsan. Berada di kolam yang sama. Tiga faktor ini yang membuat para pendukung Anies harus berhitung jika memaksakan Anies nyapres saat itu.

"Operasi terhadap Gatot dilakukan melalui sejumlah partai. Sampai di ujung, Gatot memang tidak mendapatkan partai yang mengusungnya," jelasnya.

Menghadapi pilpres 2024, ujar Tony,  ada banyak kandidat yang muncul. Diantaranya adalah Anies Rasyid Baswedan, Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, Gatot Nurmantyo dan Sandiaga Uno. Kelima tokoh ini, masing-masing punya peluang. Di antara kelima tokoh ini, Anies yang paling stabil popularitas dan elektabilitasnya. Selama masih menjadi gubernur DKI Jakarta, Anies akan selalu menjadi magnet media.

Pertama, Anies punya kemampuan membuat terobosan program yang berbeda untuk Jakarta. Ini seringkali menimbulkan pro-kontra yang pada akhirnya dibicarakan publik. Ini justru akan terus menaikkan popularitasnya. 

Kedua, performence Anies itu menarik. Ada kharisma dan kewibawaan, penbawaannya yang tenang, sabar dan stabil menghadapi kritik dan hujatan. Secara psikologis, ini jadi daya tarik bagi masyarakat Indonesia. 

"Hanya saja, kalau di 2022 tidak ada pilkada, dan Anies kehilangan panggung sebagai gubernur, tentu harus kerja keras untuk menjaga popularitas dan elektabilitasnya. Karena itu, Anies harus menyiapkannya dari sekarang," paparnya.

Tetapi, jika 2022 DPR memutuskan ada pilkada, maka besar peluang Anies sebagai incumben untuk memenangkan pertarungan di pilkada DKI. Jika jalan takdirnya seperti ini, maka untuk menjadi RI 1 hanya tinggal selangkah. Periode kedua Anies di DKI bisa menjadi lokomotif yang efektif untuk menuju ke Istana. 

Sementara tokoh-tokoh lain, seperti Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, Gatot Nurmantyo dan Sandiaga Uno, populeritas dan elektabilitasnya tidak stabil. Meski Ganjar Pranowo dan Riwan Kamil dikenal memiliki tim media yang handal, tapi tetap belum stabil. Sebab, belum nempak terobosan-terobosan program yang mampu menghipnotis publik. Hanya dengan senyum yang renyah, tak cukup untuk menjadi modal bagi Ganjar bersaing dengan yang lain.

Begitu juga dengan Gatot. Setelah lengser dari Panglima TNI, Gatot nyaris tidak punya panggung dan dilupakan publik. Muncul kembali, ketika lahir Komite Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). Sejauhmana KAMI bertahan dan eksis akan meentukan nasib Gatot. Jika KAMI terus hidup hingga pertengahan 2021, Gatot punya peluang.  Tapi, jika KAMI layu, Gatot akan dilupakan publik.

"Nasib Gatot saat ini bergantung kepada KAMI. Satu-satunya strategi Gatot jika ingin dapat peluang 2024, harus jaga dan rawat KAMI untuk terus eksis. Sebab, ini satu-satunya takdir bagi Gatot jika ingin nyapres 2024," tandasnya. 

Simbol Perlawanan

Pakar hukum tata negara Refly Harun menilai akan dahsyat jika Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo dipersatukan sebagai simbol perlawanan dari rezim saat ini.

Refly mengatakan, akhir-akhir ini, sejak Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) dideklarasikan dan ada pengadangan di mana-mana, nama Gatot Nurmantyo yang merupakan Presidium KAMI melonjak, naik terus, dan ada kemungkinan diperhitungkan dalam perhelatan 2024.

"Apalagi dia adalah purnawirawan TNI dan pangkat jenderal, dan kedudukan tertinggi sebagai panglima TNI. Tentu ini memberikan keuntungan tersediri. Ya tentu akan dahsyat kalau Gatot dan Anies dipersatukan misalnya sebagai simbol perlawanan dari rezim,” kata Refly dalam channel YouTube Refly Harun, Minggu (4/10/2020).