Jokowi Akan Wariskan Utang Sangat Besar

Safari
Jokowi Akan Wariskan Utang Sangat Besar
Presiden Joko Widodo saat rapat kabinet bersama para Menteri (ist)

Jakarta, HanTer - Ekonom Senior Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Didik J. Rachbini mengatakan, utang pemerintah yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir untuk penanganan pandemi Covid-19, akan menjadi beban besar bagi generasi mendatang. Peningkatan utang pemerintah yang naik signifikan mulai terjadi pada era Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Jadi setiap tahun ke depannya Indonesia bayar utang kira-kira Rp1.000 triliun, ini 1.500 persen dari anggaran untuk pendidikan, kata Didik J. Rachbini di Jakarta, Kamis (1/10/2020).

Didik mencontohkan, jumlah utang Indonesia pada 2019 mencapai sekitar Rp921 triliun, Rp275 triliun untuk membayar bunga utang dan Rp475 triliun untuk membayar pokok utang. Padahal, utang pada era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak lebih dari Rp500 triliun. Oleh karena itu, Didik mengatakan Presiden Indonesia yang akan datang akan tertimpa tangga utang karena jumlah utang yang diwariskan sangat besar.

"Siapapun yang jadi presiden akan terjerat utang, warisan dari presiden sekarang," tuturnya.

Penerimaan pemerintah yang tidak cukup membiayai belanja negara, sambung Didik, membuat defisit primer APBN sangat tinggi. Sehingga pemerintah berutang untuk menutup biaya belanja dan membayar utang.
Tingginya utang tersebut dinilai akan berimplikasi pada ekonomi secara keseluruhan. 

"Rezim ini rezim yang berutang dan nanti akan menjerumuskan fiskal kita lebih terpuruk," paparnya.

Bakal Jual Aset 

Terpisah, pengamat kebijakan publik dari Institute for Strategic and Development (ISDS) Aminudin mengatakan, dengan utang yang terus menumpuk maka sudah dipastikan Presiden Jokowi akan mewariskan utang yang sangat besar. Karena kebijakan utang negara di era Jokowi sudah diluar kewajaran. Utang hingga di kwartal pertama tahun 2020 sudah disekitar Rp 5400 trilyun.

"Setelah itu tiap bulan terus menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) puluhan triyun rupiah perbulan dengan yield diatas 6 persen. Sementara pemasukan negara di APBN hanya sekitar Rp1400 trilyun. Makin tahun banyak jatuh tempo ke depan untuk bayar utang pokok dan bunga sekitar Rp 1.000 trilyun," ujar Aminudin kepada Harian Terbit, Kamis (1/10/2020).

Aminudin menuturkan, dengan yang terus menumpuk maka artinya untuk biaya rutin negara primari balance sudah defisit. Ironisnya, sebagian utang tersebut digunakan untuk membayar utang. Hal ini sesuai dengan pepatah "gali lobang tutup lobang" mirip judul lagu Soneta Group - Rhoma Irama. Jika utang tersebut terus menumpuk dan tidak ada terkontrol maka pemerintah Jokowi akan menjuali aset-aset negara.

"Bahkan Jokowi juga sudah sempat melontarkan pernyataan akan menjual sebagian pulau di Kalimantan," ujarnya.

#Jokowi   #utang   #menteri