Pengetahuan Pemilih Rendah, Elektabilitas Paslon Dinamis

Anugrah
Pengetahuan Pemilih Rendah, Elektabilitas Paslon Dinamis
Dian Permata, Peneliti Senior INSIS

Jakarta, HanTer - Pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) gelombang keempat tinggal 2 bulan lagi. Pilkada 2020 sudah memasuki tahapan kampanye. Sukses tidaknya pelaksanaan pilkada kali ini ditentukan dari tingkat pengetahuan masyarakat tentang seputar pelaksanaan pilkada. Salah satu diantaranya yakni soal kapan pelaksanaan pilkada itu sendiri kapan dilaksanakan. 

Sebagai contoh, dari hasil penelitian Institut Riset Indonesia (Insis) di awal September 2020 di Jember, Jawa Timur, diketahui bahwa pemilih mengetahui tentang pelaksanan pilkada sebanyak 62,72 persen. Sedangkan 37,27 persen mengaku tidak mengetahui pelaksanaan pilkada.

“62,72 persen pemilih tahu ada pilkada. Sedangkan 37,27 persen tidak tahu ada pilkada pada 2020,” buka Dian Permata, Peneliti Senior INSIS di Jakarta, (30/09/2020).

Dilanjutkan Dian, ketidaktahuan pemilih soal hajat lokal itu disebabkan multifaktor. Sebagai contoh, disebabkan pemunduran pelaksanaan pilkada. Di mana awal September berubah ke Desember 2020. Pergeseran pelaksanaan ini lantaran adanya wabah Covid-19 semenjak Maret 2020 yang menjangkiti wilayah Indonesia.

Lalu, lantaran adanya wabah tersebut, kanalisasi informasi media massa cetak, seperti surat kabar, media elektronik seperti televisi dan radio, serta media online seperti berita situs dibanjari berita seputar Covid-19. Walhasil, frekuensi berita tentang pelaksanaan pilkada tidak menjadi prioritas media massa. Akibat kurang asupan berita pelaksanaan pilkada ini maka berpengaruh pada pengetahuan publik—pemilih, seputar pilkada.

Maka tidak heran, dijelaskan Dian, pengetahuan publik mengenai teknis pelaksanaan pilkada itu sendiri tidak terlalu menggembirakan. Dari 62,72 persen yang tahu adanya pilkada hanya sekitar 17,5 persen saja yang tahu tepat pelaksanaan pilkada pada 9 Desember 2020. “Ini harus diperhatikan penyelenggara dan peserta. Penyelenggara harus extraordinary out of the box mengeluarkan segala kemampuannya untuk mengintervensi pengetahuan pemilih tentang pelaksanaan pilkada di Desember 2020. 

Tentu saja, probelmatika ini juga berimbas kepada masih banyaknya pemilih yang belum mengetahui kandidat mana yang bakal ia coblos pada 9 Desember 2020. “Di Jember, 44,31 persen pemilih di Jember masih kebingungan pasangan calon mana yang mana bakal dipilih pada 9 Desember. Jumlah ini masih tinggi. Dan melihat situasi Covid serta tahapan kampanye yang diundur dari September ke Desember, bisa dianggap wajar”

Sisanya kata Dian, terdistribusi pasangan calon Salam – Ifan sebesar 8,86 persen. Faida – Vian, 31,59 persen. Hendi – Firjaun, 15, 22 persen. Namun, angka itu bergerak dinamis. Asalkan mesin politik masing-masing kandidat mampu berkerja maksimal. Apalagi di situasi pandemik Covid-19. Para paslon harus putar bagaimana meyakinkan pemilih.
 
“Pekerjaan besarnya tidak hanya meyakinkan pemilih agar mau mencoblos foto mereka di surat suara. Tapi jauh lebih dari itu. Mereka (kandidat) harus mampu memberikan pendidikan politik agar pemilih mau datang ke TPS serta memberi tahu bagaimana menggunakan hak politik dengan benar. Selain itu juga mengkampanyekan pemilu sehat dan pemilih sehat. Irisannya di situ. Yakinkan pemilih juga merasa aman saat datang ke TPS. Jangan hanya memikirkan berapa perolehan mereka di kotak suara. Kami khawatir jika itu tidak dilakukan maka angka ketidakhadiran pemilih akan mengalahkan perolehan suara mereka sendiri. Akibatnya, legitimasi mereka kelak menjadi tidak kuat” 

Riset dilakukan 2-10 September 2020. Jumlah responden 440. Menggunakan metodologi Multistage Random Sampling (rambang berjenjang). Margin of Error (MoE) 4.67 persen. Dengan tingkat kepercayaan 95 persen (level of confidence). In depth interview dengan menggunakan panduan instrumen. 20 persen populasi riset dilakukan cross cek.

#DianPermata   #INSIS   #