Sikap Antikorupsi, BPJAMSOSTEK Ingatkan Jajarannya Hindari Gratifikasi

Arbi
Sikap Antikorupsi, BPJAMSOSTEK Ingatkan Jajarannya Hindari Gratifikasi
BPJAMSOSTEK Kantor Cabang Jakarta Pluit bersama mitra kerja menggelar webinar “Menumbuhkembangkan Budaya Antikorupsi dan Gratifikasi”, Jumat (25/9/2020).

Jakarta, HanTer - BPJAMSOSTEK Kantor Cabang Jakarta Pluit berkomitmen untuk menerapkan praktik antikorupsi, khususnya terhadap gratifikasi. Seruan ini disampaikan kepada seluruh jajaran BPJAMSOSTEK maupun mitra kerja dalam webinar bertema “Menumbuhkembangkan Budaya Antikorupsi dan Gratifikasi”, Jumat (25/9/2020).

Antonius Lambok Ginting, dari Tunas Integritas Kantor Cabang BPJAMSOSTEK Jakarta Pluit dalam webinar tersebut memaparkan praktik gratifikasi dikategorikan bagian dari perbuatan korupsi dan hal ini kerap bersinggunan dengan pekerjaan aparatur sipil negara (ASN), pegawai di lembaga pemerintahan serta penyelenggara pelayanan publik.

Secara umum, praktik gratifikasi kerap samar karena dibungkus dalam kalimat hadiah ataupun rasa terimakasih. Hal ini patut diwaspadai oleh seluruh pegawai BPJAMSOSTEK jika berkaitan dengan urusan pekerjaan seperti berhubungan dengan mitra kerja.

Misalnya, kata Lambok, perlunya kewaspadaan terhadap ajakan makan dari perusahaan mitra maupun pemberian sesuatu dari vendor atau rekanan. “Contohnya pemberian parcel, meskipun besaranya (nilainya,red) tidak lebih dari satu juta rupiah, tetapi jika berkaitan dengan pekerjaan sebisa mungkin ditolak,” ucap Lambok.

 Jika pemberian tersebut diragukan tergolong praktik gratifikasi, Lambok menyarankan agar segera melaporkan kepada petugas dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk diidentifikasi. “Akan dinilai nanti, jika tidak termasuk gratifikasi pemberian tersebut boleh diterima,” jelasnya.

Secara rinci, Lambok menjelaskan pengertian dari gratifikasi, yaitu pemberian dalam arti luas yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (diskon), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma dan fasilitas lainnya.

Lambok juga memberikan cara mengindentifikasi gratifikasi, yaitu harus diidentifikasi motifnya, kemudian pihak pemberi jika berhubungan dengan relasi patut diduga dan diwaspadai sebagaii pemberian yang bersifat strategis.

Selanjutnya, identifikasi pula jika pemberian tersebut diterima apakah akan menimbulkan konflik kepentingan dikemudian hari. Lalu, dapat diketahui pemberian dikatakan sebagai gratifikasi dari cara pemberiannya secara terbuka atau rahasia. Terakhir dilihat dari besaran nilai dan seberapa sering pemberian tersebut dilakukan

Sementara itu, Kepala Kantor Cabang (Kakacab) BPJAMSOSTEK Jakarta Pluit, Husaini, berharap dari webinar tersebut baik karyawan BPJAMSOSTEK maupun para mitranya dapat menghindari praktik korupsi baik berbentuk suap maupun gratifikasi.

Menurut Husaini, pihaknya selaku aparatur negara penyelenggara program Jaminan Sosial Ketenagkerjaan terikat oleh ketentuan hukum dan kode etik termasuk ketika menerima atau memberikan sesuatu.

”Untuk itulah mari kita jaga hubungan baik dengan para mitra dengan sangat hati-hati dengan menghindari segala hal yang melanggar hukum. Kita jaga hubungan baik ini dengan cara-cara yang legal atau sesuai dengan aturan yang sudah jelas,” pungkasnya.