Mengukur Kekuatan Politik Kandidat Ketua DPD Golkar Kota Bekasi 2020-2025

Safari
Mengukur Kekuatan Politik Kandidat Ketua DPD Golkar Kota Bekasi 2020-2025

Jakarta, HanTer - Perang urat syaraf kandidat yang akan berlaga pada Musyawarah Daerah V DPD Partai Golkar Kota Bekasi dalam waktu dekat mulai memenuhi ruang publik. Peta kekuatan masing-masing kandidat sudah mulai muncul, tinggal siapa nanti yang terpilih dan berhak mengisi kursi ketua DPD Partai Golkar periode 2020-2025.

Sebelumnya disebut-sebut tiga nama akan berlaga masuk bursa kandidat ketua, namun lagi nama Heri Sukomartono, mantan sekretaris DPD Golkar Kota Bekasi era kepemimpinan Rahmat Effendi yang digadang-gadang sebagai kuda hitam. Tiga nama yang sudah melakukan pemanasan perang urat syarat adalah, Nofel Saleh Hillabi, TB Hendra dan Ade Puspita Sari.

Pengamat komunikasi politik Universitas Juanda Bogor, Gotfridus Goris Seran MA mengatakan, masing-masing kandidat punya kelebihan dan kekurangan dan kontestasi diantara mereka menarik diikuti perkembangannya hingga detik terakhir pemilihan. Toh, semua kader berpeluang tetapi salah seorang yang cukup menonjol adalah sosok millenial yang tengah berkiprah yakni Ade Puspita Sari.

"Sebagaimana terungkap dari berbagai media, kecendrungannya Ade berpeluang terpilih pada musda tersebut cukup besar. Ini melihat dirinya dari kalangan muda atau sosok millenial diikuti dengan aktivitasnya sebagai anggota legislatif di Jawa Barat serta segala aktivitas yang menjadi nilai tambah mendukung keberadaannya di partai dan menduduki kursi ketua," kata Goris, Senin (21/9/2020).

Dia mengatakan, dalam kalkulasi politik posisi Ade bisa saja belum sepenuhnya mulus untuk mendapatkan kursi ketua DPD Partai Golkar Kota Bekasi tersebut. Bahkan dengan posisinya yang prestige, sebagai pejabat ketua dan anggota DPRD Jawa Barat dia bisa menjadi sasaran tembak bagi lawannya meskipun berada pada posisi dibawahnya.

“Oleh sebab itu melihat kelebihan dan kelemahan masing masing kandidat menarik, tentunya publik memiliki hak untuk mendapat informasi yang utuh sosok calon pemimpin politik di daerahnya,” tandasnya.

Dia mengatakan, Ade cukup menanjak dan diuntungkan atas aktivitasnya sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Barat. Sementara kandidat lain tidak terlihat sosok mereka yang menonjol di publik. Bahkan, diantara mereka ada yang cacat secara administrasi, sehingga keadaan ini malah negatif baginya untuk bertarung pada Musda V DPD Partai Golkar Kota Bekasi.

"Kita melihatnya secara netral seperti diberitakan media massa. Lihat prestasi dan sepak terjang masing-masing secara pribadi positif atau negatif di masyarakat. begitu pula dari aspek legalitas berdasarkan pendidikan yang ditempuh para kandidat," jelasnya.

Menyinggung saling kritik atau perang urat syaraf yang terjadi diantara kandidat, menurut dia merupakan hal wajar di Partai Golkar. Kritik yang sehat, tambahnya tentu saja diharapkan agar dinamika demokrasi yang mentradisi di Partai Golkar menjadi pendidikan politik bagi publik. Jangan sebaliknya yang terjadi saling menjatuhkan karena akan memberikan citra buruk partai dan kualitas kader di mata publik.

"Tradisi demokrasi di Partai Golkar itu sangat tinggi dinamikanya. Ini merupakan sesuatu yang bagus dan perlu dijaga agar marwah Golkar sebagai partai senior dan partai kader menjadi contoh dan memberikan pendidikan politik bagi publik. Jadi, wajar terjadi saling kritik diantara kandidat yang berebut jadi ketua. Bahkan, saling kritik diperlukan agar publik mendapat informasi yang luas mengenai sosok pimpiman dari hasil musda ini," bebernya.

Dari sisi kandidat, perang usat syarat di luar medan laga yang sudah ditabuh misalnya  menyangkut penjualan Gedung DPD Golkar yang menjadi isu seksi yang sampai saat ini terus digulirkan.

“Kemudian, ada juga isu ijazah palsu yang disebut-sebut dilakukan oleh salah seorang kandidat.  Selanjutnya isu tuntutan akuntabilitas publik sebagai mantan birokrat juga menerpa pada diri seorang kandidat tersebut,” ucapnya.   

Bagaimana sesungguhnya masing-masing sosok kandidat, seperti Heri Suko Martono adalah kader Partai Golkar Kota Bekasi yang cukup senior. Meskipun sudah cukup lama memiliki pengalaman berorganisasi tetapi sebagai tokoh politik dinilai tidak mengakar dan cenderung elitis dan lebih nyaman di "menara gading." Terbukti beberapa kali mencalonkan diri sebagai anggota legislatif beluh terpilih. Artinya sebagai pemimpin politik memiliki kelemahan yang vital minim basis massa dan tidak dekat akar rumput.

“Sosok politisi secara logika saja sulit diharapkan memiliki kapasitas memimpin organisasi politik yang kompetisinya sangat keras dalam mendulang suara di daerahnya sendiri,” kata alumni Universitas Indonesia itu.

Kandidat lain yaitu Novel Saleh Hilabi, sebagai kader Partai Golkar yang juga cukup berpengalaman, yang bersangkutan pernah mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI tetapi gagal, sebagai pemimpin politik tidak memiliki basis massa yang mengakar.

“Profile politisi yang kurang mengakar dipastikan tidak memiliki kemampuan membesarkan organisasi partai di Kota Bekasi. Selain itu Nofel merupakan warga Depok, yang tentunya harus memahami masyarakat Bekasi secara kultural, khususnya konstituen Partai Golkar. Demikian pula kegagalan yang  bersangkutan saat Pileg 2019 lalu lantaran menggunakan ijazah yang dimiliki indikasinya palsu, sehingga hasil ferivikasi KPU, Nofel dinyatakan tidak lolos,” parparnya.

Selanjutnya, TB Hendra dikenal sebagai kader Golkar yang cukup berpengalaman. Meskipun demikian ketokohan sebagai politisi belum teruji memiiki dukungan basis massa di akar rumput. Disamping itu sebagai birokrat di Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) kemampuan manajemennya  kedodoran dalam akuntanbilitas publik yang kini dihadapi.

Semantara sosok Ade Puspita Sari, adalah kader Partai Golkar dari generasi milleneal. Dalam meniti karier politiknya, Ade dinilai sudah mulai teruji berhasil terpilih sebagai anggota DPRD Propinsi Jawa Barat. Bahkan saat ini dipercaya menjadi Plt. Ketua DPD Golkar Kota Bekasi, meskipun masih muda dengan demikian kapasitas ketokohan politiknya telah teruji.

“Artinya dengan terpilihnya Ade sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Barat membuktikan dirinya memiliki basis massa akar rumput yang cukup kuat di Kota Bekasi, terlepas dari peran orang tuanya saat ini menjadi Wali Kota Bekasi,” ujarnya.

Berdasarkan itu, tambahnya tentunya publik bisa menilai siapa yang paling layak menjadi ketua DPD Golkar pada musda DPD Golkar Kota Bekasi dalam waktu dekat ini.

“Kini tinggal kader sendiri akan memilih sosok yang mana untuk memimpin DPR Partai Golkar untuk membawa daerah penyangga di timur ibukota lebih representatif sebagai partai berkekuatan menghadapi pertarungan lebih jauh ke depan termasuk menghadapi pemilu 2024 yang sudah dekat,” kata dia.