Penusuk Syekh Ali Jaber Terancam Hukuman Mati

Alee
Penusuk Syekh Ali Jaber Terancam Hukuman Mati

Jakarta, HanTer - Pelaku penyerangan terhadap Syekh Ali Jaber, tersangkan Alpin Andrian terancam hukuman mati.

"Ancaman hukumannya hukuman mati, atau hukuman seumur hidup. Paling ringan 20 tahun, ini untuk ancaman pasal yang dikenakan daripada tersangka A," kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Argo Yuwono kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (16/9/2020).

Argo mengatakan Alpin dijerat oleh penyidik dengan pasal sangkaan mulai dari percobaan pembunuhan, pembunuhan, penganiayaan berat, hingga kepemilikan senjata tajam ilegal sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Darurat nomor 12 tahun 1951.

Sementara itu Ketua Umum Front Anti Komunis Indonesia (FAKI) Edy Mulyadi mengatakan, untuk kesekian kalinya ada upaya pembunuhan terhadap ulama kita. Penusukan terhadap Syeh Ali Jaber menambah panjang daftar yang sudah ada. Seperti biasanya, Polisi mengatakan pelakunya adalah orang gila.

Apakah kita percaya pelakunya orang gila? Tentu tidak! “Ada PKI dan komunis di belakangnya. Dia menyeru agar para pemuda dan jawara umat, membela dan jaga ulama kita. Siapkan diri kalian untuk berjihad melawan komunis gaya baru. Ini adalah bagian dari jihad fisabilillah,” ujar Edy.

Pasti Diadili

Sementara itu Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD memastikan bahwa pelaku penusukan terhadap ulama Syekh Ali Jaber akan dibawa ke pengadilan.

Pernyataan Mahfud itu sekaligus menepis spekulasi yang berkembang di masyarakat bahwa pelaku kemungkinan besar tidak diadili karena sakit jiwa.

"Itu tidak benar, pemerintah transparan dan akan meneruskan kasus ini ke pengadilan," kata Mahfud, melalui siaran pers Humas Kemenko Polhukam, Rabu (16/9/2020).

Mahfud menyampaikan penegasan tersebut setibanya di Bandara Internasional Minangkabau, Padang, Sumatera Barat, Rabu, dalam rangka peluncuran Program Konsultasi Publik yang diselenggarakan Kedeputian Bidang Kesatuan Bangsa, Kemenko Polhukam.

"Pemerintah melalui Polri sudah bersikap bahwa pelaku akan terus dibawa ke pengadilan dengan 'actus reus' atau tindakan yang sudah nyata. Soal sakit jiwa atau tidak, itu biar hakim yang menentukan. Hakim mungkin nanti akan meminta dokter untuk memeriksa," katanya dilansir Antara.

"Polisi tidak akan menghentikan karena alasan sakit jiwa. Soal itu biar nanti di pengadilan saja advokat yang mendampingi membela apakah ia sakit jiwa atau tidak," tegasnya.