Selamatkan Warga Jakarta, Anies Malah Diserang Buzzer dan Menteri Jokowi

Safari
Selamatkan Warga Jakarta, Anies Malah Diserang Buzzer dan Menteri Jokowi
Gubernur DKI Anies Baswedan

Jakarta, HanTer—Koordinator Gerakan Perubahan (Garpu) Muslim Arbi mempertanyakan buzzer yang menyerang Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan karena memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kembali. Padahal Anies memberlakukan PSBB kembali sesuai arahan Presiden Jokowi. 

Oleh karena itu, katanya, heran juga jika para buzzer dan para menteri Jokowi yang menyerang Anies. "Padahal tersiar berita para buzzer itu terima dana puluhan miliar rupiah dari APBN. Itu pelanggaran. Dan Gubernur Anies juga diserang menteri - menteri Jokowi," ujar Muslim Arbi kepada Harian Terbit, Minggu (13/9/2020).

Muslim menyebut, Erlangga Hartanto sebagai Menko Perekokomian yang ditugaskan sebagai pimpinan pemulihan ekonomi dan penanganan Covid-19 maka harusnya bekerjasama dengan Anies bukan malah menyerangnya. Patut diipertanyakan juga apakah Erlangga tidak mengetahui jika Anies sudah mendapat arahan dari Presiden Jokowi untuk PSBB total di Jakarta.

"Lebih aneh lagi jika ada menteri Jokowi yang beroposisi terhadap Gubernur DKI Jakarta. Padahal kalau Erlangga sebagai Menko dan ditugasi diantaranya untuk pemulihan soal Covid-19 harus malu dan sadar, akibat kegagalannya menangani Covid-19," jelasnya.

Muslim menyebut, saat ini Indonesia telah dilockdown oleh 59 negara. Harusnya yang demikian menjadi malu bagi pemerintah. Hal ini membuktikan Erlangga telah gagal menjalankan tugas negara tapi malah membuat sensasi dengan mengalihkan perhatian dengan menyerang Anies. Sementara Anies hanya urus Ibukota sedangkan Erlangga urus se - Indonesia. Oleh karena itu Jokowi harus memecat Erlangga yang gagal jalankan tugas tangani Covid-19. 

"Jika tidak, akibat kegagalan Erlangga maka rakyat akan lemparkan kesalahan ke Jokowi, dan mendesak mundur karena gagal atasi Corona," paparnya.

Keselamatan Warga

Sementara itu, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa, Tony Rosyid mengatakan, Anies memberlakukan PSBB kembali menunjukan konsisten pada prinsip yang selama ini dipegangnya. Yaitu, mengutamakan keselamatan nyawa dan kesehatan rakyat di atas segalanya, termasuk ekonomi.Kebijakan Anies memang tidak populer. Sebab, hadir di saat rakyat sudah merasa merdeka dari covid-19. 

"Karena gak populer, Anies harus siap hadapi kritik. Ini risiko. Buat lawan politik dan para buzzer, isu ini cukup menggairahkan. Mereka seolah dapat lahan kering untuk bakar kegaduhan. Begitulah yang selama ini terjadi. Sebuah konsekuensi demokrasi di era digital," ujarnya.

Situasi menggilanya penyebaran covid-19 mau tidak mau juga harus dihadapi oleh para kepala daerah. Terutama Jakarta. Mobilitas sosial akibat tuntutan ekonomi di Ibu kota tak terkendali. Kerja keras para kepala daerah, termasuk gubernur DKI untuk menerapkan transisi PSBB, tak mampu menghadang eforia New Normal. Data di Ibu Kota, tentu juga sejumlah daerah lain, menyebutkan bahwa penyebaran covid-19 menghawatirkan. 

“Kekhawatiran ini mendorong Anies, gubernur ibu kota Jakarta, mengambil sikap tegas. Anies memberlakukan kembali PSBB secara ketat. Anies meyakinkan publik bahwa kebijakannya ini berbasis pada data dan kajian, ujar Tony. 

Diketahui setelah beberapa saat tiarap dihajar publik dan media, Buzze menggeliat kembali. Mereka ramai-ramai menghajar Gubernur DKI Anies Baswedan. Suara mereka bersahut-sahutan, seperti kodok bernyanyi menyambut musim penghujan. Kebijakan Anies menarik rem darurat, akan memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta  diserang habis.

Jumat (11/9/2020) #4niesDanCovidBerbahaya menjadi salah satu trending topik. Sejumlah artis alias influencer juga turut mempersoalkan kebijakan Anies. Cuma caranya lebih halus. Tidak langsung membully. Orkestra nada menyerang Anies di medsos, bersamaan dengan serangan secara sporadis para menteri kabinet Jokowi.