Indonesia Butuh Pemimpin Petarung dan Cerdas, Pemerintah Dinilai Tak Memiliki Kemampuan Menyelesaikan Masalah

Safari
Indonesia Butuh Pemimpin Petarung dan Cerdas, Pemerintah Dinilai Tak Memiliki Kemampuan  Menyelesaikan Masalah

Jakarta, HanTer - Ekonom senior Rizal Ramli menyebutkan, bahwa pemerintah tak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan krisis di Indonesia.

“Sudah waktunya Indonesia memiliki pemimpin yang memiliki mental sebagai pemenang, berpihak pada rakyat dan mampu membalikkan keadaan dari negatif menjadi positif, kata mantan Menteri Perekonomian dalam tayangan YouTube (https://youtu.be/GJ4UZuEOhb8,).

Menanggapi pernyataan Rizal Ramli tersebut, Ketua Umum Badan Relawan Nusantara (BRN) Edysa Girsang mengatakan, pemerintah memang tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan beragam masalah Indonesia. Lagi pula saat ini juga tidak ada indikator kemampuan pemerintah untuk menyelesaikan beragam masalah yang terjadi di Indonesia. Seperti ekonomi yang saat ini minus hingga 5 persen.

"Ekonomi minus 5%, pengangguran meningkat, usaha kecil menurun dan banyak yang kolaps. Selain itu penyelesaian pandemi juga tidak makin baik tapi makin tak jelas arahnya," ujar Edysa Girsang kepada Harian Terbit, Selasa (8/9/2020).

Eki, panggilan Edysa menegaskan, saat ini hidup rakyat semakin sulit. Apalagi iuran BPJS Kesehatan juga dinaikkan. Kebutuhan pokok tidak menentu. Sementara harga BBM juga tidak turun untuk mengikuti harga minyak dunia. Bahkan Sri Mulyani, Menteri Keuagan (Menkeu) terbaiknya malah mau berutang lagi. Padahal saat ini utang sudah semakin melimpah.

"Ironisnya, dalam situasi yang sulit begini pemerintah tak punya kekuatan mengerakan perusahan-perusahaan besar untuk membantu kondisi sulit ini. Jadi kita butuh penyegaran kekuasaan," tandanya.

Tak Mampu

Sementara itu, pengamat kebijakan publik dari Political and Public Policy Stuidies (P3S) DR Jerry Massie PhD mengatakan, memang saat ini banyak persoalan yang tak mampu diatasi oleh pemerintah saat ini. Karena semua masalah itu tergantung dari pemimpinnya. Memang ada pemimpin pemikir (thinker), speaker (pembicara), dreamer (pemimpi), walker (pejalan) dan fighter (petarung).

"Jadi Indonesia butuh pemimpin thinker atau pemikir cerdas dan bijak," tegasnya.

Jerry menilai, saat ini ada banyak "pemimpin tapi bukan pemimpin" artinya memimpin tapi tidak mempunyai talenta atau kemampuan memimpin. Karena pada dasarnya, pemimpin itu mempengaruhi dan menggerakan. Dan sebetulnya banyak pemikiran yang baik dari presiden Soekarno, Soeharto sampai SBY yang harus diadopsi dan jangan dibekukan atau dianggap tabu.

Jerry menyebut, saat ini banyak masalah yang kurang mampu ditindak lanjuti oleh seorang pemimpin. Ditambah juga mungkin komposisi kabinet saat ini kurang mumpuni. Contoh penanganan Covid-19 yang berubah-ubah dan Jokowi menyebut Covid-19 lebih diutamakan dari ekonomi. Namun hal itu berbeda dengan tim ekonomi Jokowi.

"Ini merupakan contoh sederhana, padahal saya sudah sempat mengingatkan pada bulan Febuari sebelum masuk Indonesia dimana jiwa manusia lebih penting dari ekonomi," paparnya.

Lebih lanjut Jerry mengatakan, saat ini pemerintah Jokowi kurang tanggap dan cepat terhadap persoalan. Responnya kurang cepat. Padahal Jolowi mempunyai orang-orang yang bijak sebetulnya orang ahli serta tahu masalah contoh Soeharo memiliki orang yang expert di bidangnya misalkan Prof Ali Wardhana, Prof Mohamad Sadli, Prof Emil Salim, Prof Widjojo Nitisastro, Prof JB Sumarlin dan masih banyak lagi ahli-ahli ekonomi.

"Mereka mampu mengangkat perekonomian di Indonesia dari 650 persen inflasi turun menjadi 10 persen pada era 60-an.  Pada 1996 saat DR Marie Muhammad Menteri Keuangan pertumbuhan ekonomi 7,82 persen terbaik di Asia," tegasnya.