Jika Kasus Positif Corona Terus Melonjak, Rumah Sakit Tak Mampu Layani Pasien Covid-19

Harian Terbit/Safari
Jika Kasus Positif Corona Terus Melonjak, Rumah Sakit Tak Mampu Layani Pasien Covid-19

Kasus positif virus corona (Covid-19) di Indonesia terus melonjak, Per Selasa (8/9/2020) mencapai 200.035 orang. Sebanyak 142.958 dinyatakan sembuh dan 8.230 meninggal dunia. Akibat melonjaknya kasus positif corona diprediksi rumah sakit tak mampu melayani pasien corona bahkan bisa collaps.

Pemerhati kesehatan, Iskandar Sitorus mengatakan, naiknya jumlah orang yang terpapar Covid-19 karena semakin dinamisnya masyarakat untuk beraktivitas, baik aktivitas sosial maupun aktivitas untuk mencari nafkah. Kenaikan jumlah yang terpapar Covid-19 menjadi masalah terkait dengan pelayan fasilitas rumah sakit untuk menampung para penderita dan juga areal pemakaman untuk menguburkan para korban Covid-19 yang meninggal dunia.

"Jika dalam kurun waktu 7 bulan ini lonjakan kenaikan jumlah yang terpapar Covid-19 tidak diimbangi dengan pusat-pusat pelayanan rumah sakit maka akan menjadi masalah besar," kata Iskandar Sitorus kepada Harian Terbit, Selasa (8/9/2020).

Iskandar menegaskan, idealnya bukan orang yang sakit itu yang harus dipersalahkan. Namun ketidaksiapan pelayanan kesehatan itu sendiri yang menjadi masalah. Karena pada dasarnya masyarakat tentu tidak ingin sakit. Sehingga ketika masyarakat sakit maka tugas dari pemerintah untuk menata kelola mereka agar jumlah para korbannya tidak semakin banyak.

Pengamat kebijakan publik dari Institute for Strategic and Development (ISDS) Aminudin mengatakan, Indonesia menjadi kumparan virus corona sehingga jumlah penderita semakin melonjak karena kebijakan Jokowi yang terus mendatangkan ribuan orang Tiongkok masuk Indonesia. Pastilah PSPB yang berlaku di Indonesia semakin terbelit Covid 19 yang dampaknya menjadi problem ekonomi.

"Padahal hasil penelitian Biomolekuler Eijkman milik Kemenriadikti maupun Unair menunjukkan Covid-19 yang menyebar di Indonesia berasal dari China," ujarnya.

Harusnya, sambung Aminudin, pemerintah Indonesia ikuti langkah Vietnam yang langsung menutup keluar masuk orang, barang dan jasa dari Tiongkok. Sehingga Vietnam sukses meminimalisasi korban Covid 19.

RS Sudah Penuh

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Dokter Spesialis Paru Indonesia (PDPI) Erlang Samoedro mengingatkan soal kapasitas rumah sakit (RS) perihal situasi terkini penanganan Covid-19. Karena saat ini kapasitas RS sudah penuh karena lonjakan kasus Covid-19 yang semakin tinggi. Kasus konfirmasi positif Covid-19 di tanah air mayoritas tanpa gejala atau gejala ringan. Selain itu, kata Erlang, banyak orang yang tidak sadar terinfeksi.

Adapun jika bergejala, beberapa di antaranya mengalami demam (bisa sampai dengan suhu tinggi), batuk, pilek, hingga gejala seperti diare.  Erlang menyoroti keberadaan klaster keluarga. Klaster ini berbahaya karena membawa virus dari luar rumah ke dalam rumah.

Inisiator @pandemitalks, Firdza Radiany mengatakan, klaster keluarga mengalami lonjakan signifikan. Beberapa contoh kasus tertinggi adalah di Bogor di mana ada 48 klaster keluarga dan menginfeksi 189 orang."Paling parah Bekasi ada 155 kasus dengan 437 orang yang terinfeksi," ujarnya.

Kondisi itu diperparah dengan kultur masyarakat Indonesia yang suka berkumpul dan masih gemar piknik ke lokasi yang berada di zona merah. Menurut Firdza, berdasarkan studi, penyebab kasus utama di Bogor adalah klaster keluarga. "Data Dinkes Bogor mengkhawatirkan. Sebanyak 20% klaster keluarga di Bogor ini OTG, orang tersebut merasa sehat tapi membawa virus. Bahkan hanya 14% warga Bogor yang percaya covid-19 ada," kata Firdza.

Kapasitas RS yang penuh memang menjadi sorotan beberapa waktu belakangan, terutama di DKI Jakarta. Juru Bicara dan Ketua Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, mengatakan kasus baru Covid-19 di DKI Jakarta membuat kapasitas RS semakin penuh dan berada pada kondisi yang tidak ideal.

Menurutnya, meski memiliki 67 RS rujukan dan 170 RS yang menangani Covid-19, namun jumlah keterisian semakin tinggi. "Angka keterpakaian tempat tidur di ruang isolasi 69% dan ICU sebesar 77%. Kondisi ini kondisi yang tak ideal," ujar Wiku dalam konferensi pers, Senin (31/8/2020).