Begini Penjelasan Jampidsus Mengenai Gelimang Harta Jaksa Pinangki

Danial
Begini Penjelasan Jampidsus Mengenai Gelimang Harta Jaksa Pinangki
Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung (Kejagung), Febrie Adriansyah

Jakarta, HanTer - Kasus Djoko Tjandra terus digeber, dimana tersangka kasus dugaan gratifikasi pengurusan fatwa Mahkamah Agung (MA), jaksa Pinangki Sirna Malasari, disebutkan bergaya hidup mewah dari hasil praktik jasa lancungnya kepada terpidana kasus pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali, Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra. Uang muka yang diterimanya mencapai US$500.000 atau senilai Rp7 miliar. 

Hal ini sebagaimana disampaikan Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung (Kejagung), Febrie Adriansyah, menyatakan, pengeluaran Pinangki tergolong besar. Menyewa apartemen Rp75 juta per bulan, membeli mobil mewah BMW seri X, serta biaya perawatan tubuh dan wajah setiap bulan.

"Jadi, uang muka dari Djoko Tjandra Rp7 miliar itu dikuasai Pinangki semua. Semula uang itu adalah uang muka untuk mengurus fatwa MA," ujar Febrie di Gedung Bundar, Kompleks Kejagung, Jakarta Selatan, Selasa (8/9/2020).

Lanjut Febrie, pihaknya sampai kini masih mengusut nilai kesepakatan antara Pinangki dan Djoko terkait fatwa MA tersebut. "Soal aliran dana, kami masih dalami kepastiannya," katanya.

Pinangki diduga menerima uang senilai USD$500.000 dalam kepengurusan fatwa MA untuk Djoko. Juga disebut sebagai aktor utama dalam penawaran kepengurusan fatwa itu.

Selain Pinangki dan Djoko, penyidik juga menetapkan bekas politikus Partai NasDem, Andi Irfan Jaya, sebagai tersangka. Irfan disebut dibawa jaksa Pinangki bertemu Djoko untuk menawarkan proposal fatwa MA.

Kemudian kuasa hukum Djoko Tjandra, Anita Kolopaking, disebut menerima USD$50.000 dari kliennya. Namun, tidak menjadi tersangka karena dianggap sebagai honor jasa yang diberikan.