Pemerintah Tidak Tegas Penyebab Corona Melonjak

Alee
Pemerintah Tidak Tegas Penyebab Corona Melonjak
Indro S Tjahyono

Jakarta, HanTer - Kasus positif corona atau Covid-19 pada Minggu (6/9/2020 seluruh Indonesia ada 194.109. Angka yang dinilai sangat tinggi dan mengkhawatirkan.

Pengamat kebijakan publik Indro Tjahyono mengatakan, peristiwa ini menunjukkan lemahnya dua variabel dalam pemberantasan covid 19 yakni leadership dan kultural. Kelemahan ini disikapi tidak tepat dengan kebijakan dan tindakan biasa-biasa saja. Padahal kondisi ini membutuhkan organisasi yang ketat dan kompak.

Menurutnya, pemberian sanksi dan hukuman yang jelas bagi para pelanggar aturan untuk mencegah dan mengatasi covid 19. Tetapi kalau lihat dilapangan para petugas sangat tidak disiplin dan tegas menegakkan aturan. Mengapa demikian, karena pemerintah selalu mengubah aturan dan cenderung menginginkan roda ekonomi tetap berputar.

“Konsistensi menetapkan status juga nggak tegas dari awal. Dalam undang-undang dinyatakan bahwa saat status lockdown pemerintah harus memberi jaminan hidup (bansos) 100%. Tapi pemerintah tidak pernah konsisten menjalankan amanah undang-undang ini,” paparnya kepada Harian Terbit, Minggu (6/9/2020).

Menurut Indro, hal ini sebenarnya merupakan potret bahwa kinerja pemerintah memang sangat underquality.

“Hal ini menyebabkan kondisi ekonomi juga memburuk. Pemerintah terus menguras kocek untuk mengatasi covid 19, sehingga defisit anggaran semakin membesar. Sementara investor hengkang dan investor baru tidak mau masuk ke Indonesia,” paparnya.

Pola Hidup

Sementara politisi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean mengemukakan, jika melihat pola hidup masyarakat kita sehari-hari,  apalagi dikota besar, tidak heran dengan peningkatan jumlah kasus positif harian covid-19

“Kita menyaksikan bagaimana kondisi hari libur ditempat-tempat wisata, mall, pasar, tempat umum di Jakarta yang jadi areal demo dan kerumunan ataa kegiatan-kegiatan politik. Banyak yang pakai masker tapi banyak juga yang abai pakai masker, atau pakai masker tapi tak sesuai standar kesehatan. Hal ini menjadi penyebab utama naiknya angka positif harian. Terlebih Jakarta sudah diatas seribuan perhari menyumbang sekitar 30% jumlah kasus positif harian nasional. Padahal Jakarta penduduknya hanya sekitar 4% penduduk nasional,” papar Ferdinand dihubungi terpisah.

Lalai

Pengamat Kebijakan Publik Aceh Dr Nasrul Zaman, ST M Kes menilai Pemerintah Aceh masih lalai dalam upaya penanggulangan COVID-19, begitu juga dengan warganya yang masih abai terhadap penerapan protokol kesehatan.

"Penambahan kasus COVID-19 tidak mungkin berhenti jika warga masih abai (protokol kesehatan) dan pemerintah masih lalai," kata Nasrul, di Banda Aceh, Sabtu, dilansir Antara.

Oleh karena itu, Nasrul meminta pemerintah dan masyarakat untuk tidak lagi bersikap lalai dan abai. Dinilainya, sudah cukup waktu dalam dua bulan lalu ini warga dan pemerintah merasa jumawa dan pongah terhadap COVID-19 tersebut.