Ahmad Faisol Siap Pimpin APJATI Sejajar dengan Kelembagaan Pemerintah

Safari
Ahmad Faisol Siap Pimpin APJATI Sejajar dengan Kelembagaan Pemerintah

Jakarta, HanTer - Calon Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI), Ahmad Faisol mengatakan, sebagai organisasi sosial/ asosiasi bisnis, APJATI sudah amat banyak berkontribusi kepada republik dan rakyat Indonesia. Pasalnya, sejak berdiri pada 29 Mei 1995 silam, APJATI ikut membantu menyelesaikan ketersediaan pekerjaan di luar negeri, mengatasi pengangguran dan tentu saja mendatangkan devisa yang tak terhitung jumlahnya bagi negara.

 

"Capaian-capaian tersebut tentu bukanlah sesuatu yang harus dibanggakan. Capaian tersebut seharusnya menjadi pengingat bahwa masih banyak hal yang harus dibuat APJATI untuk kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia," ujar Ahmad Faisol saat Deklarasi Virtual Calon Ketua Umum APJATI di Jakarta, Rabu (2/9/2020).

 

Menurutnya, saat ini APJATI belum mampu berkontribusi optimal bagi kepentingan anggotanya sendiri. APJATI seringkali melupakan bahwa dirinya adalah asosiasi bisnis yang harus menyeimbangkan kepentingan bisnis dengan segala jenis tuntutan publik. APJATI alfa terhadap anggotanya yang beberapa kali dituding melakukan pelanggaran-pelanggaran hukum.

 

Dalam aspek sosial, sambung Faisol,

wajah APJATI juga belum terlalu baik. APJATI masih seringkali mendapat persepsi yang kurang baik atas semua hal yang dilakukannya untuk pekerja migran. Sebabnya sederhana, APJATI secara kelembagaan belum memikirkan skema terbaik pemberian tanggungjawab sosial (CSR) kepada pekerja migran.

 

"Karena itu, APJATI saat ini sesungguhnya tengah memasuki masa-masa gelap, jauh dari era keemasan yang semestinya bisa digapai. APJATI seperti kehilangan orientasi gerak dan visi untuk menjadi asosiasi bisnis yang sesungguhnya," paparnya.

 

Faisol mengungkapkan, salah satu penyebab APJATI memasuki masa-masa gelap karena terkait kepemimpinan yang mandeg dan minus visi perbaikan. Apalagi selama 8 tahun terakhir, tidak banyak yang dilakukan kepemimpinan saat ini untuk membuat APJATI bergerak semakin baik dan mendatangkan manfaat atau  kemaslahatan bagi anggota.

 

"Rumor menyebut kepemimpinan saat ini terlalu sibuk dengan urusan bisnisnya sendiri, sering menghakimi anggota dan tidak pernah hadir saat anggota asosiasi (P3MI) mengalami kesulitan," paparnya.

 

Faisol menilai, suasana kegelapan APJATI tidak boleh ditorerir. Oleh karena itu harus ada ikhtiar perubahan yang digaungkan dan dideklarasikan untuk membuat APJATI lebih baik, semakin baik. Faisol mengungkapkan,ada tiga gagasan besar untuk mendorong perubahan APJATI. Pertama, bebranding APJATI. Artinya, APJATI harus mengubah wajah kelembagaannya. Harus humanis, menasbihkan diri sebagai bisnis yang bersih (bukan bisnis kotor) dan mendorong pemberdayaan pekerja migran dan buka sebaliknya.

 

Kedua, marketplace untuk pekerja migran. Di masa perkembangan teknologi digital yang secepat ini, sungguh semestinya tidak sulit mendorong kehadiran marketplace yang mempertemukan kebutuhan pekerja migran dengan P3MI. Marketplace ini boleh jadi dalam bentuk kebutuhan barang atau mempertemukan kebutuhan pekerjaan dan penempatan di masing-masing negara.

 

"Marketplace ini juga menjadi jalan untuk memulai sistem pendataan besar pekerja migran, lalu menghubungkan (Connection) mereka dengan perangkat digital dan akses perbankan. Dengan skema demikian, maka saya sangat optimis tidak akan ada lagi pekerja migran yang terpisah atau tidak terhubung dengan lembaga keuangan," paparnya.

 

Ketiga, lanjutnya, menguatkan sinergi dengan pemerintah. Baik dengan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) maupun dengan Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker). Sinergi yang baik dan intensif akan menjadi kunci perbaikan penempatan pekerja migran. Faisol tidak menginginkan lagi adanya miskomunikasi dan miskebijakan antara regulasi dengan realitas kepentingan penempatan pekerja migran.

 

"Saya ingin APJATI berdiri tegak sejajar dengan kelembagaan pemerintah, karena pada dasarnya relasi yang terbangun adalah relasi pengupayaan penempatan pekerja migran yang lebih baik," tegasnya.

 

Faisol memaparkan, jika ketiga cara ini dilakukan, maka optimistis APJATI akan semakin lebih baik, akan semakin memberi kemaslahatan dan kemanfaatan bagi anggotanya, dan tentu akan membantu kepentingan para pekerja migran. Ia pun meminta mulai saat ini untuk mennggalkan persepsi yang buruk tentang penempatan pekerja migran.

 

"Kita bangun satu organisasi yang mampu menjadi rumah besar kita semua. Rumah besar yang mengayomi, menghangatkan dan memeluk erat semua kepentingan Anggota. Rumah besar yang akan memberikan perlindungan dan advokasi bagi anggota asosiasinya (P3MI). Rumah besar yang memberi kontribusi nyata bagi masyarakat melalui aktivitas sosial yang dihadirkannya," pungkasnya.