Memprihatinkan dan Disesalkan, 100 Dokter Meninggal Akibat Corona: Bukti Negara Tak Konsisten Tangani Corona

Safari
Memprihatinkan dan Disesalkan, 100 Dokter Meninggal Akibat Corona: Bukti Negara Tak Konsisten Tangani Corona

Jakarta, HanTer - Meninggalnya 100 dokter di masa pendemi Covid-19 menjadi keprihatinan semua pihak. Apalagi untuk melahirkan dan mencetak seseorang menjadi dokter butuh waktu panjang. Karena di tangan para dokter atau perawat kesehatan masyarakat bisa tertangani dengan baik. 

Pemerhati kesehatan, Iskandar Sitorus mengatakan, meninggalnya 100 dokter di masa pandemi corona memang sangat memprihatinkan dan disesalkan. Karena butuh waktu lama untuk melahirkan seseorang menjadi dokter. 

Iskandar meminta gugurnya 100 dokter tersebut harus menjadi pembelajaran bagi bangsa Indonesia untuk bisa melindungi setiap warga negaranya. "Disisi lain kita sesalkan juga sebagai tenaga kesehatan yang terdidik tapi mereka terpapar Covid-19," ujar Iskandar Sitorus kepada Harian Terbit, Selasa (1/9/2020).

Iskandar menuturkan, banyak faktor tenaga medis bisa terpapar Covid-19. Di antaranya dari faktor imunitas tubuhnya yang lemah. Namun ada juga karena faktor dari luar yakni alat bantu atau alat pelindung diri (APD). Jika karena alat bantu yang menjadi faktor utama gugurnya 100 dokter maka sangat memprihatinkan semua pihak. Karena dasarnya APD bisa tertangani tanpa harus mengorbankan jiwa.

"Jika karena faktor alat bantu maka terbukti ada ketidakonsistenan antar aparatur atau instrumen negara untuk melindungi dokter dari kesiapan alat," paparnya. 

Oleh karena itu, sambung Iskandar, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) telah mendapatkan pelajaran yang berharga atas gugurnya 100 dokter yang merupakan orang terbaik bangsa. Menurutnya, gugurnya 100 dokter juga menunjukkan bahwa selain pemerintah tidak konsisten, juga menunjukkan antara IDI dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) masih sangat bersebrangan. 

Sementara itu, Ketua Umum Barisan Relawan Nusantara (Baranusa), Adi Kurniawan mengatakan, gugurnya 100 dokter adalah bukti menjadi korban kelalaian, dan korban sikap abai yang dilakukan pemerintah dalam melindungi segenap warga bangsanya. Padahal secara konstitusi negara wajib memberikan perlindungan bagi segenap bangsanya.

"Tapi nyatanya hal itu tidak dilakukan negara. Nyatanya abai untuk melindungi anak bangsa," paparnya.

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Mohammad Adib Khumaidi mendorong pemerintah membentuk Komite Keselamatan Kesehatan. Komite Keselamatan Kesehatan ini sebagai upaya menjaga dan melindungi para tenaga medis dan tenaga kesehatan selama bertugas di tengah wabah, apalagi Covid-19 juga diprediksi belum selesai hingga 2021.

"Pertama mendorong pemerintah membentuk komite keselamatan tenaga medis dan tenaga kesehatan," kata Adib, Selasa (1/9/2020).

Rp300 Juta

Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemenkes Abdul Kadir mengatakan, pihaknya merespons kematian 100 dokter akibat terpapar virus corona (Covid-19) dengan pemberian uang santunan sebesar Rp300 juta per orang.

"Upaya yang akan dilakukan kementerian kesehatan dalam mengurangi angka kematian dokter dengan memberi kompensasi atau santunan kematian bagi nakes sebesar Rp300 juta," kata Abdul Kadir, Selasa (1/9/2020).

Abdul mengaku saat ini pihaknya terus berupaya mencukupi kebutuhan alat pelindung diri (APD) nakes, serta mendukung pengurangan jam kerja nakes. "Membatasi jam kerja nakes untuk mengurangi kelelahan petugas, terkait pengaturannya diserahkan ke direktur RS masing-masing," kata dia.

Kemudian, Kemenkes juga akan lebih sering memberikan materi pengetahuan tentang Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) kepada para nakes. 

Dihubungi secara terpisah, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes Widyawati menyatakan pihaknya bakal gencar memberikan dukungan psikologis kepada para nakes, serta meningkatkan daya tahan tubuh atau imunitas nakes dengan pemberian suplemen tambahan.

"Akan dibagikan suplemen kepada nakes, kita memberikan selalu. Pasti akan ditambah karena nakesnya juga bertambah banyak yang terpapar," jelasnya.

Widya mengaku, saat ini pihaknya bakal melakukan pemeriksaan terkait fasilitas dan protokol kesehatan di setiap Rumah Sakit yang merawat pasien covid-19. "Kami akan meningkatkan screening para pengunjung fasilitas kesehatan dimana saja," tegasnya.

IDI mencatat hingga 30 Agustus 2020 sebanyak 100 dokter gugur karena positif terpapar Covid-19. Jumlah kematian dokter terbanyak berada di Jawa Timur yakni sebanyak 25 dokter, kemudian Sumatera Utara 15 dokter, dan DKI Jakarta 14 dokter.