Bamsoet: Sudahkah Kita Merdeka?

Safari
Bamsoet: Sudahkah Kita Merdeka?

Jakarta, HanTer - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengatakan, hasil apa pun yang telah diraih oleh bangsa Indonesia pada usia 75 tahun, bukanlah milik satu rezim pemerintahan. Oleh karena itu segala dinamika, kesuksesan dan kegagalan, adalah hasil dari sebuah proses panjang perjalanan sejarah yang telah kita lewati bersama sebagai sebuah bangsa, dan di bawah kepemimpinan dari serangkaian periode pemerintahan.

"Memaknai kemerdekaan di masa kini adalah suatu hal yang wajar, karena memang sangat dibutuhkan sebagai bagian dari introspeksi diri dan membangun kedewasaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," kata Bambang Soesatyo dalam forum 'Sarasehan Kebangsaan' yang digagas oleh Ketua Umum Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju (DN - PIM) Din Syamsuddin, Selasa (25/8/2020).

Bamsoet, panggilan akrab Bambang Soesatyo menuturkan, tema yang diangkat pada Sarasehan Kebangsaan kali ini, yakni Refleksi 75 Tahun Kemerdekaan RI: Sudahkah Kita Merdeka? mengajak untuk sejenak bercermin, memaknai kembali hakikat kemerdekaan, dan menengok kembali capaian-capaian yang kita ‘asumsikan’ sebagai pengejawantahan konsep 'Indonesia Merdeka'. Beragam pendekatan dan konsepsi kemudian dijadikan sebagai tolok ukur dalam memaknai kemerdekaan di era modern.

Dari sektor kemandirian, misalnya, Perhimpunan Agronomi Indonesia (PERAGI) mencatat setidaknya ada 15 (lima belas) komoditas pangan strategis, di antaranya bawang putih, gandum, gula, daging, yang mempunyai angka ketergantungan impor cukup tinggi, antara 30 sampai 100 persen.

Contoh lain, Menteri Riset dan Teknologi pada bulan Mei 2020 yang lalu menyatakan bahwa angka ketergantungan terhadap produk impor di bidang kesehatan mencapai 90 persen.

"Maka pertanyaan 'sudahkah kita merdeka?' akan menghadirkan beragam jawaban dengan gradasi pemaknaan yang beragam pula, karena akan sangat tergantung pada perspektif kita dalam memaknai kata 'merdeka'," kata Bamsoet.

Sebagaimana dipahami bersama, bahwa sektor pangan dan kesehatan adalah sektor yang sangat vital, bukan hanya karena menjadi kebutuhan primer yang wajib dipenuhi, tetapi juga karena sangat berpengaruh terhadap sektor-sektor lainnya, apalagi saat ini kita dihadapkan pada masa pandemi.

Jumlah penduduk miskin Indonesia per-bulan Maret 2020 menurut data BPS adalah sebesar 26,42 juta. Dengan pandemi COVID-19 yang masih membayangi, tentunya angka ini masih mungkin berpotensi naik.

"Apalagi angka pengangguran hingga tahun 2021 diprediksi akan mencapai angka 12,7 juta. Kemerdekaan dari kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah bagi kita," kata Bamsoet.