Kritik Benjamin Bland Sebuah Teguran Keras Terhadap Lemahnya Kepemimpinan Jokowi

Safari
Kritik Benjamin Bland Sebuah Teguran Keras Terhadap Lemahnya Kepemimpinan Jokowi

Jakarta, HanTer - Buku berjudul Man of Contradiction: Joko Widodo and the struggle to remake Indonesia yang ditulis Benjamin Bland, Peneliti Australia menurut rencana akan terbit pada 1 September 2020 mendatang. Namun buku yang mengeritik Presiden RI Jokowi di sejumlah kebijakannya, terutama penanganan Covid-19 di Indonesia ini sudah menuai sorotan.

Menanggapi terbitnya buku ini,  Direktur Eksekutif Political and Public Policy Stuidies (P3S) DR Jerry Massie PhD mengatakan, adanya peneliti asing mengkritik Presiden Joko Widodo (Jokowi), maka hal tersebut sudah diteliti oleh peneliti asing. Oleh karena itu sangat disayangkan jika peneliti asing sampai meneliti pemerintahan Jokowi.

"Berarti ini sudah diteliti. Yang saya sayangkan kenapa peneliti asing yang mengungkapkan hal ini," ujar Jerry Massie kepada Harian Terbit, Minggu (23/8/2020).

Jerry menuturkan, dengan banyaknya penelitian bahkan asing juga ikut mengamati pemerintahan Jokowi maka semuanya tinggal menunggu waktu yang akan menjawab. Apalagi leadership is an influence (kepemimpinan adalah sebuah pengaruh). Oleh karena itu tinggal masing-masing personal yang mempersepsikan atau memberikan pandamgan bagaimana pemerintahan Jokowi.

"Mengeluarkan sebuah research berarti bukan dibuat-buat atau rekayasa dalam dunia filsafat ada istilah 'Metafisika' atau watak," jelasnya. 

Rakyat Menilai

Jerry menilai, habbits atau kebiasan buruk siapa pun pasti akan terbuka sekalipun ditutup rapat. Sehingga ada istilah makanan busuk walaupun di simpan tapi akan tercium juga. Oleh karena itu rakyatlah yang menilai kepemimpinan Jokowi. Apakah benar-benar membuat sejahtera dan adil atau justru malah membuat sengsara rakyat dengan membuat semua serba mahal, dari tarif listrik dan iuran BPJS 

"Saya juga agak kecewa dengan goverment policy and public policy di tambah dengan kabinet yang hampir sebagian wrong man or wrong place (salah orang, salah penempatan)," paparnya.

"Riset ini kalau diteliti peneliti asing berarti ini sebuah teguran sekalian tamparan. Persoalnya bagaimana pandangan internasional dengan kritikan Ben Bland. Memang kurang elegan peneliti asing meneliti presiden kita," jelasnya.

Namun Jerry menyarankan untuk lebih melakukan croschek, apakah benar atau tidak penelitian tersebut sehingga perlu juga ditelusuri. Siapa Ben Bland dan bagaimana perannya. Jangan juga penelitiannya yang dilakukan Ben Bland langsung ditelan secara mentah-mentah. 

Jerry mengakui, berita penelitian yang dilakukan Ben Bland terkait Jokowi sudah dimuat dimedia-media besar. Oleh karena itu bisa saja yang dilakukan Bland bentuk keprihatinan terhadap Indonesia khususnya penanganan Covid-19.

"Ini perlu juga dilihat secara esensi, substansi dan eksistensi. Barangkali perlu diambil secara positif. Soalnya tidak mungkin ini hoax. Apalagi dia sering mewawancarai Jokowi. Otomatis tahu banyak tentang Jokowi," jelasnya.

Dia mengungkapkan, kritikan yang disampaikan Bland karena Jokowi  telah mengabaikan nasihat ahli, kurangnya kepercayaan pada masyarakat sipil, dan kegagalan untuk mengembangkan strategi yang koheren masuk akal dan ada benarnya

Merosot

Ketua Umum Badan Relawan Nusantara (BRN) Edysa Girsang mengatakan, penelitian yang dilakukan Bland terhadap Jokowi menunjukkan pandangan orang luar menilai Jokowi yang belum benar mengurus negara. 

Kebijakan yang dibuat belum pro rakyat. Sementara pertumbuhan ekonomi semakin merosot. Insfrastruktur tak membuktikan apa yang disampaikan dalam janji-janjinya terwujud untuk kesejahteraan rakyat. Penelitian yang dilakukan Bland bisa menjadi cerminan ketidakperayaan asing pada pemerintahan Indonesia. Oleh karena itu penelitian yang dilakukan Bland sebagai kode bagi asing untuk Indonesia. "Jadi mirip saat 98 sebelum Pak Harto mengundurkan diri," paparnya.

Eki mengakui memang tidak ada pemimpin di negara manapun yang sempurna. Namum kebijakan yang dikeluarkan Jokowi belum berpihak kepada . Seharusnya kemajuan bangsa ini terlihat tapi nyatanya makin terpuruk dan jauh dari tujuan besar negara merdeka. Bahkan dalam sistem politik saja rakyat tetap tak berdaulat. 

Kritik Jokowi

Bland mencontohkan rencana pembangunan Ibukota baru di Kalimantan. “Tidak ada analisis yang tepat tentang proyek infrastruktur mana yang akan paling meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas,”

“Sebaliknya, dia hanya mendorong proyek tergantung di mana dia berkunjung,” ujar Bland dilansir pojoksatu.id.

Ia juga mengkritik ketidakhadiran Jokowi dalam Sidang Umum PBB. “Dalam lima tahun pertamanya, Jokowi tidak menghadiri satu pun Sidang Umum PBB,” sambung Direktur program Asia Tenggara di Lowy Institute itu.

Bland juga menyoroti kerasnya Jokowi menarik investasi dari siapapun yang memiliki uang tunai terbanyak. Dan yang paling dituju adalah dengan menggandeng China dalam banyak pembangunan infrastruktur. Semisal pembangunan jalan, jembatan, pembangkit listrik, pelabuhan, jalur kereta cepat Jakarta-Bandung yang menjadi mercusuar.

Bland juga memberikan penilaian tentang kerasnya prioritas Jokowi di tengah ketegangan antara Amerika Serikat, China, dan negara-negara Asia Tenggara atas Laut China Selatan. 

Disebutnya, para pemimpin negara Barat saat ini memang sedang membutuhkan mitra baru di Asia untuk membantu melawan China. Namun, Jokowi tidak punya waktu membangun kekuatan politik besar. Kepada para politisi di Australia.

Covid 19

Lulusan Universitas Cambridge ini juga menyinggung juga mengkritik penanganan Covid-19 oleh Jokowi. Disebutkan, Pemerintahan Jokowi dalam hal ini menunjukkan sifat terburuknya.

Mulai dari mengabaikan nasihat ahli, kurangnya kepercayaan pada masyarakat sipil, dan kegagalan mengembangkan strategi yang koheren.

Akibatnya, terjadi ledakan pengangguran sampai dengan dua juta jiwa. Selain itu, Indonesia juga menjelma menjadi negara dengan kasus Covid-19 tertinggi di Asia Tenggara.