Silakan Lapor, Bea Cukai Siap Proses Oknum Yang Diduga Memeras Pengusaha Milenial Rp 750 Juta

An
Silakan Lapor, Bea Cukai Siap Proses Oknum Yang Diduga Memeras Pengusaha Milenial Rp 750 Juta
Ilustrasi

Ricky Hanafie, Kasi Humas Kanwil Bea Cukai DKI Jakarta meminta agar pihak yang merasa dirugikan oleh oknum atau yang mengaku pegawai Bea Cukai untuk segera melapor ke Unit Kepatuhan Internal Bea Cukai Jakarta, melalui Saluran Pengaduan Resmi Bea Cukai.

Menurut Ricky, pihaknya siap memproses secara hukum oknum Bea Cukai yang terbukti melakukan pelanggaran. 

"Silakan dilaporkan ke kami, misalnya si A atau si B meminta 'uang koordinasi' Rp 750 juta. Melaporkan langsung itu justru akan lebih cepat menyelesaikan persoalan. Karena kami pasti menindaklanjuti sesuai aturan yang berlaku," ujar Ricky kepada wartawan, Selasa (18/8/2020).

Demikian disampaikan Ricky menanggapi pemberitaan yang marak di media massa terkait adanya dugaan pemerasan oleh oknum Bea Cukai kepada seorang pengusaha milenial bernama Vinnie Kinnetica Rumbayan.

Sebelumnya, Vinnie dalam keterangannya mengungkapkan adanya permintaan uang koordinasi dari oknum Bea Cukai usai tempat usahanya yakni Lei Lo Restaurant digerebek aparat gabungan pada Rabu malam, 24 Juni 2020. Saat penggerebekan, Vinnie tidak berada di restoran.

Tapi, Vinnie langsung bergegas ke restoran ketika dikabarkan anak buahnya. Begitu tiba, ia kaget lihat ada sekitar 120 orang aparat pemerintah diduga dari Bea Cukai. Lalu, petugas berdalih menggerebek atas informasi masyarakat yang resah adanya kegiatan pengoplosan minuman.

Herannya, kata Vinnie, kegiatan pengoplosan juga dilakukan oleh pelaku bisnis lainnya tapi kenapa tidak ditindak. “Saya baru tiga minggu menjalankan kegiatan, sementara ‘tetangga’ saya yang lain sudah tiga bulan lebih. Kenapa cuma tempat saya yang diutak-atik? Padahal mereka juga melakukan hal yang sama,” jelas dia.

Padahal, lanjut Vinnie, meracik cocktail merupakan hal lumrah dilakukan pengelola bar di dunia maupun Indonesia. Karena menurutnya, seluruh dunia melakukan mixing untuk mempunyai ciri khas dan nilai jual. Makanya, aneh kalau kegiatan meracik yang dilakukan Vinnie disebut pengoplosan.

“Di Indonesia enggak cuma saya yang mixing. Kalau ini disebut ngoplos oleh aparat, apa kabar dengan bar yang lain? Kenapa bar di hotel ternama Jakarta enggak didatengin BC? Mereka juga mixing seperti saya," ucapnya.

Vinnie mengaku sudah menyampaikan penjelasan kepada oknum aparat yang menggerebek, bahwa bisnis yang dijalaninya itu mengikuti sesuai arahan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif terkait mitigasi krisis pariwisata di tengah pandemi dan untuk menggerakkan roda ekonomi mikro.

“Saya juga beritahu ke aparat, bahwa saya punya Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC) dan mereka heran saya punya NPPBKC. Saya bilang, coba tanya ke bos anda kenapa saya bisa pegang izin minuman cukai A, cukai B, cukai C. Kan bos anda yang memberi izin,” katanya.

Ternyata, kata Vinnie, oknum aparat tetap ngotot kalau kafenya melakukan kegiatan pengoplosan sehingga semua botol disita termasuk laptop milik kantor diamankan. Selang sehari kemudian, Vinnie diminta untuk mentransfer sejumlah uang oleh oknum aparat tersebut sebanyak dua kali.

“Saya pertama transfer Rp750 juta. Setelah itu, mereka minta ditransfer lagi Rp600 juta alasannya untuk kas negara. Terus, yang Rp750 juta itu untuk siapa?,” ujar Vinnie bertanya-tanya.