BPSDM Sinkronkan Standar Pilot Nasional dan Internasional Agar Terserap Industri Penerbangan

Safari
BPSDM Sinkronkan Standar Pilot Nasional dan Internasional Agar Terserap Industri Penerbangan

Jakarta, HanTer - Pandemi Covid-19 saat ini berimbas dengan merosotnya sejumlah industri. Satu di antara yang terkena dampak Covid-19 adalah industri penerbangan sehingga membuat banyak pilot yang menganggur. Bahkan ada di antara pilot yang bekerja di luar ilmu penerbangan dengan menjadi pengantar makanan seperti yang terjadi di Thailand.

 

"Dari FGD (Focus Group Discussion) ini lah kami berupaya untuk penyerapan SDM dari industri penerbangan," kata Kepala Badan Pengembangan Sumbet Daya Manusia Perhubungan (BPSDMP), Sugihardjo, saat menggelar FGD bertema "Analisis Lingkungan dan Isu Strategis untuk Pengembangan Perguruan Tinggi Vokasi Bidang Penerbangan” di Tangerang, Banten, Kamis (13/8/2020).

 

Sugihardjo memaparkan, FGD ini dilakukan untuk memperoleh masukan, saran dan informasi dari seluruh pemangku kepentingan yaitu airport, airnav dan airline (3A) serta stakeholder lainnya (seperti asosiasi profesi dan regulator). Hasil FGD nantinya untuk dijadikan acuan dalam pelaksanaan evaluasi kelembagaan perguruan tinggi vokasi bidang penerbangan serta pengembangan perguruan tinggi untuk jangka menengah dan panjang.

 

Sugihardjo menyebut, untuk sekolah atau pendidikan penerbangan sama halnya dengan pelaut yang mengacu pada pemenuhan standar internasional. Oleh karena itu kurikulum pilot atau pelaut selalu dilakukan penyesuaian dengan regulasi internasional untuk meningkatkan kompetensi. Selain itu saat ini BPSDMP juga tengah mempersiapkan akreditasi internasional sekolah-sekolah Kemenhub baik pilot atau pelaut.

 

"Itu dilakukan agar memberikan peluang besar bagi lulusan sekolah Kemenhub dalam berkecimpung di dunia kerja nasional dan internasional.Untuk meningkatkan pengakuan internasional," paparnya.

 

Sugihardjo mengungkapkan, setidaknya ada 9 kriteria yang akan dievaluasi guna meningkatkan SDM. Oleh karenanya BPSDMP akan menyinkronkan antara jenjang profesional dan pendidikan formalnya agar seimbang baik yang berstandar nasional dan internasional. Karena untuk saat ini khusus untuk pelaksanaan kurikulum penerbangan sudah internasional, sementara pendidikan belum.

 

"Melalui FGD ini bagaimana mencari solusi yang baik. Karena saat ini terjadi kerisauan," paparnya.

 

Kepala Pusat Pengembangan SDM Udara Heri Sudarmadji mengatakan, saat ini jumlah pilot yang tidak terserap di industri penerbangan ads 671 lulusan. Saat ini pihaknya juga memberikan tambahan pengetahuan guna meningkatkan kompetensi bagi para pilot. "Karena kondisi tidak terserap, maka tidak mendidik pilot di tahun 2021 in. Upaya lain agar lulusan pilot terserap maka ada kerjsama dengen TNI - Polri untuk mengurangi pengangguran pilot," tandasnya.

 

Hadir sebagai peserta FGD dari Direktorat Teknis Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Asosiasi Profesi Penerbangan, dan Perguruan Tinggi di Lingkungan Pusat Pengembangan SDM Perhubungan Udara. FGD terbagi menjadi 4 sesi. Sesi pertama, Regulasi Pendidikan Tinggi Vokasi Kementerian Lain Menuju Perguruan Tinggi Unggul. Kedua, Arah Kebijakan dan Regulasi Pengembangan Operasional pada Operator Bandar Udara, Penyelenggaraan Navigasi Penerbangan dan Maskapai Penerbangan untuk jangka menengah dan panjang.

 

Ketiga, perkembangan teknologi fasilitas penerbangam pada operator bander udara, penyelenggaraan navigasi penerbangan dan Maskapai Penerbangan untuk jangka menengah dan panjang. Keempat, forecasting kebutuhan SDM Penerbangan menengah dan jangka panjang.