Presiden GBN: Ratusan Juta Rakyat Terancam Kelaparan Massal, Mampukah Jokowi Mengatasinya?

Safari
Presiden GBN: Ratusan Juta Rakyat Terancam Kelaparan Massal, Mampukah Jokowi Mengatasinya?

Jakarta, HanTer - Ketua Umum DPP APKLI dr Ali Mahsun M Biomed mengatakan, perkembangan ekonomi rakyat dan ekonomi nasional semakin hari semakin ambruk dan alami krisis yang lebih berat. Jika kondisi ini tidak segera diatasi diperkirakan ratusan juta rakyat terancam kelaparan massal.

“Dari realitas yang kami lihat, dengar dan laporan dari seluruh tanah air, serta adanya data dari beberapa lembaga survey, semakin hari ekonomi rakyat makin terpuruk, dan ekonomi nasional krisisnya makin berat,” kata Ali Mahsun kepada Harian Terbit, Selasa (4/8/2020).

Bahkan, kata Presiden Gumregah Nusantara (GBN) ini, secara kasat mata dinamika kehidupan sosial politik semakin hari makin memanas dalam beberapa sisi tata kelola bangsa dan negara. 

Oleh karena itu APKLI dan GBN bertanya, mampukah Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo mengatasi ancaman ratusan juta rakyat Indonesia Alami Kelaparan Massal?

Pertanyaan ini, kata Ali, bukan ingin mediskreditkan kinerja pemerintah RI dibawah kepemimpinan Presiden Jokowi Widodo. “Namun, selaku rakyat, bangsa dan warga negara, serta sebagai Ketua Umum DPP APKLI dan Presiden GBN, kami tidak ingin terjadi realitas yang sangat menyakitkan adanya kemiskinan yang makin meluas dan kelaparan rakyat secara massal yang pada ujung dan akhirnya  dapat menimbulkan persolan sosial yang sulit dikendalikan,” papar Ali.

Jika hal ini terjadi, lanjut Ali, adalah sebuah fakta yang sangat memiluhkan, sangat mahal ongkosnya, dan sangat berbahaya terhadap eksistensi merah putih dan NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 19145 diatas Bhineka Tunggal Ika.

UMKM Terpuruk

Hasil survey LIPI menyebutkan 94,7% UMKM omsetnya anjlok, dan 47% alami penurunan keuntungan. Dan sebagian besar hanya mampu bertahan berusaha pada kisaran Agustus-November 2020. 

Kemudian, hasil survey ADB (Asian Development Bank) yang dikeluarkan Juli 2020 terkait kondisi UMKM di Indonesia. Dimana sebesar 48,6% UMKM gulung tikar atau menutup usaha. Atau sebanyak 31,2 juta unit UMKM di negeri ini ambruk.

Seperti diketahui UMKM merupakan 98% dari total unit usaha yang ada di Indonesia. Menghidupi ratusan juta penduduk dan menyerap 96% tenaga kerja menyediakan lapangan kerja tidak kurang 70 juta lapangan kerja di Indonesia. 

“Tatkala hari ini sudah hampir 50% dari 62,5 juta UMKM di Indonesia yang gulung tikar artinya kurang lebih ada 35 juta lapangan kerja yang tertutup. Hal tersebut menimbulkan lonjakan pengangguran yang jadi beban sosial yang sangat berat. Tatkala ada 31,2 juta UMKM ambruk, artinya ratusan juta penduduk di Indonesia kehilangan mata pencarian dan ekonomi keluarga mereka,” papar Ali.

“Sebagai Ketua Umum DPP APKLI dan Presiden GBN saya meminta dengan hormat dan penuh rendah hati kepada Presiden Jokowi untuk mengambil langkah-langkah extra ordinary, langkah-langkah super cepat dan tepat sasaran karena rakyat tidak bisa dibiarkan terjadi kelaparan massal,” ujarnya.

Ali juga meminta Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota hingga Lurah/ Kepala Desa untuk bergerak super cepat dan tepat sasaran gerakkan kembali roda ekonomi rakyat dan atasi krisis ekonomi nasional yang makin berat. 

APKLI dan GBN juga meminta kepada Jokowi memberikan penjaminanan KUR yang hari ini masih Rp. 129 triliun sebagaimana jaminan yang diberikan negara kepada corporasi sehingga rakyat bisa segera akses KUR tanpa agunan/jaminan. 

“Kami meminta kepada Presiden Jokowi realisasikan BANPRES RI dari APBN kepada 12 juta UMKM dengan Rp 2,4 juta/UMKM atau sebesar Rp. 28,8 triliun dengan super cepat dan tepat sasaran dengan melibatkan pemangku kepentingan,” papar Ali.

Menurutnya, stimulus ekonomi kepada UMKM sebesar Rp134,9 triliun juga harus segera direalisasikam super cepat dan tepat sasaran. “Dana Bansos berupa sembako segera digeser menjadi bantuan langsung tunai. Karena Bansos Sembako menambah terpuruknya warung-warung kelontong rakyat, dan pelaku ekonomi rakyat disektor kebutuhan pangan,” pinta Ali Mahsun.