Komisi I: Perlu Diversifikasi Produk Menuju Pindad Berkelas Dunia

Anugrah
Komisi I: Perlu Diversifikasi Produk Menuju Pindad Berkelas Dunia
Anggota Komisi I DPR RI Bobby Adhityo Rizaldi.

Jakarta, HanTer - Rencana PT. Pindad (Persero) menjadi Top 100 Global Defense Companies membawa perhatian tersendiri bagi Komisi I DPR RI untuk ikut terlibat aktif dalam menjalankan misi tersebut. Anggota Komisi I DPR RI Bobby Adhityo Rizaldi meminta kejelasan teknis PT. Pindad dalam mengadakan kerja sama dengan para stakeholder.

“Kerja sama Pindad dengan Ukraina untuk memperbaiki S60 kaliber 57, sedangkan S60 ini buatan Uni Soviet, Ukraina kan berbeda, nah ini apakah salah kerja sama, itu kira-kira teknis yang perlu di-explore lebih lanjut,” ungkap Bobby saat mengikuti Kunjungan Kerja Reses Komisi I DPR RI ke PT. Pindad, Bandung, Jawa Barat, Jumat (17/7/2020). Kunker Reses ini dipimpin Ketua Komisi I DPR RI Meutya Viada Hafid.

Sementara Anggota Komisi I DPR RI Syariefuddin Hasan menekankan betapa pentingnya diversifikasi produk untuk menuju PT. Pindad berkelas dunia. “Jadi harapan kami, Pindad ini menjadi impian, bagaimana mau menjadi top 100, kalau anda tidak memiliki advantage, anda tidak memiliki comparative advantage dibandingkan produk-produk lain dan bagaimana anda memiliki comparative advantage harus banyak diversifikasi produk,” ujar Syarief.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Strategi Bisnis PT. Pindad Rizka Ariesnawan Putranto memaparkan tentang misi PT. Pindad di tahun 2024 untuk menjadi perusahaan industri pertahanan berkelas dunia (top 100 global defence companies). Maka dari itu, perusahaan harus mengedepankan prinsip kerja sama antar stakeholders agar saling sinergi.

“Industri pertahanan di emerging states banyak bermain di cyber-defense karena memang trennya menuju ke sana, one day di tahun 2024, Pindad memiliki misi dan visi agar Pindad menjadi salah satu di kumpulan seperti ini, di-emerging state dan itu cukup possible, bisa kita wujudkan terutama apabila stakeholders lain dan kerja sama antar lembaga dapat harmonis dan sangat-sangat berpihak pada industri dalam negeri ini,” tegasnya.

Secara total pendapatan, PT. Pindad dinilai belum mampu mencapai angka revenue  untuk masuk dalam jajaran 100 besar perusahaan berbasis industri pertahanan kelas dunia. 

“Untuk menjadi perusahaan top 100, revenue yang kita harus targetkan Rp 14 (triliun) kurang lebih atau Rp 15 triliun, ini saja masih nomor 99 atau 100 dunia, sekarang saja revenue kita di angka Rp 3,4 triliun sampai Rp 3,5 triliunan. Itu artinya kita harus 4 kali lipatkan atau 5 kali lipatkan untuk menuju kesana,” lanjut Rizka.

Rizka menyampaikan harapannya kepada Komisi I DPR RI agar dapat mendorong mitra kerja di bidang pertahanan untuk menggunakan produk pertahanan dalam negeri. 

“Kami berharap, dari diskusi dengan Komisi I DPR RI, Komisi I dapat berdiskusi dengan mitra kerjanya yang bersinggungan di wilayah pertahanan dan keamanan untuk dapat berpihak pada produk dalam negeri, agar industri dapat sustain selalu, akhirnya kita bisa meningkatkan pasar ekspor dengan aliansi strategis baik secara G to G atau B to B,” pintanya.