Mengulas Isu Kebangkita PKI, Masa Depan Umat Islam dan Kedaulatan Bangsa

Alee
Mengulas Isu Kebangkita PKI, Masa Depan Umat Islam dan Kedaulatan Bangsa

Jakarta, HanTer - Pengamat Intelijen Pertahanan dan Keamanan, Suripto, menjelaskan bahwa dirinya Pada tahun 1972 bersama Prof Fuad Hasan dan Jenderal Soemitro Pangkopkamtib datang ke Pulau Buru, tempat para simpatisan PKI ditahan. Namun dari pengelihatannya, dia berkesimpulan bahwa 90% tahanan politik tidak paham politik. Yang sadar ideologi hanya 10% saja. Kebanyakan dari mereka terbawa suasana dan menjadi ‘korban’ perseteruan elit politik era Perang Dingin.

Hal itu disampaikan Suripto dalam diskusi publik bertema “Isu Kebangkitan PKI Masa Depan Umat Islam dan Kedaulatan Bangsa Indonesia,” yang berlangsung Jumat siang, (17/7/2020) di kawasan Percetakan Negara Jakarta Pusat.

Selain Suripto pembicara lainnya adalah, Advokat senior dan Direktur Lembaga Bantuan Hukum Nusantara (LBHN) Effendi Saman dan juga Saifuddin Simon Penulis Buku 1000 hari PKI Mencekam Yogya acara di moderatori oleh Ilham Yunda sebagai Komite Nasional Rakyat Indonesia Menggugat (KOMNAS RIM) Komnas Sekjend RIM.

Lebih lanjut Suripto mengatakan, bahwa perhitungannya waktu itu, dari 7 juta anggota PKI ada sekitar 200.000 anak keturunannya yang masih berusia di 2 bawah 12 tahun. 20 tahun ke depan seberapa besar mereka ini menjadi ancaman? Sehingga dirinya terus berusaha mencari tahu di mana saja dan oleh siapa saja mereka ini dibina. Dia pun mengusulkan agar ada program untuk melakukan penelusuran secara mendalam terhadap mereka.
 
“Ketika konflik 1965 meletus para keturunan keturunan PKI banyak diasuh oleh yayasan Katolik yang saat ini tersebar di parlemen, pengusaha, pegawai eselon I dan II dan usia mereka saat ini adalah berusuia 45-50 tahunan,” jelas Suripto.

Pengikut PKI itu sama seperti pecandu narkoba. Harus dibina agar sembuh. "Jadi kalau sekarang orang ramai bicara soal kebangkitan PKI itu sebenarnya tergantung pada dua faktor; yaitu pertama siapa aktor-aktor yang memotivasi, dan kedua faktor-faktor lain yang mempengaruhi."

Suripto menambahkan, anak dan cucu korban pembataian PKI memang masih berbekas dan mereka sangat dendam khususnya kepada kelompok Islam dan TNI AD. Dan menurutnya saat ini adalah grand isu yang ditujukan untuk tujuan dan sasaran tertentu. Padahal anak-anak PKI ini sudah menjadi bojuis dan bukan kaum proletar lagi. Yang jadi pertanyaan siapa yang menggulirkan isu ini, apakah tujuan untuk nasional atau Internasional?

Ataukah ada destabilisasi oleh negara luar karena Republik Indonesia terlalu kaya biar selalu bermasalah dan tidak bisa maju? Yang pasti negeri ini perlu diselamatkan untuk generasi yang akan datang.

Ditempat yang sama, Syaifudin Simon mengatakan bahwa meletusnya tragedi PKI itu ketika saat dirinya baru berusia 7 tahun, dan harus diakui Soeharto sangat berjasa dalam membangun Indonesia kala itu.

Menurut Simon, kesalahan terbesar PKI itu bentrok dengan umat Islam, itulah yang menjadi penyebab mereka menjadi musuh bersama.

“Selagi PKI tidak Ungkit soal Agama no problem dan kesalahan berikutnya karena terlalu anarkis, dan lebih menonjolkan Atheismenya,” ujar mantan Redaktur media Republika ini.

Penulis Buku 1000 hari PKI Mencekam Yogyakarta ini juga mengatakan bahwa saat ini anak muda sekarang telah menggaungkan kembali Che Guevara sosok pemuda yang sangat berjasa membantu kaum-kaum yang tertindas di Kuba bersama Fidel Castro, kesalahan aktivis muda itu juga karena tidak adanya link atau akses.

“Sejarah mencatat hampir semua negara Amerika Latin punya partai Komunis, akan tetapi komunisme di Indonesia itu beda sekali karena terlalu menonjolkan Atheismenya,” paparnya.

Sementara itu Advokat senior, Effendi Saman mengatakan, dirinya sependapat dengan Supripto, siapa yang mengerakan itu. Saat ini misalnya lanjut Effendi bahwa ada Corona seolah diciptakan oleh Cina dan USA menciptakan konflik itu semua.

Effendi Saman bahkan  mengkritik pemerintah mengatakan bahwa UU karantina dan UU kesehatan yang di rujuk pada 1945. Defisit angaran Kalo sampai 7% defisit makan presiden bisa dimakzulkan dan bisa mengundurkan diri secara terhormat.

Inti masalah saat ini adalah Corona dan substansinya adalah soal kesalahan dalam pengelolaan keuangan negara, Menkeu Sri Mulyani mempunyai kewenangan yang sangat besar dan akan mengumumkan 7 bank yang akan kolaps.

“Harusnya yang dibela orang miskin kenapa Bendahara negara ini lebih membela para kaum kapitalis, apakah agar dapat stimulus dari pemerintah.

“Apakah kaum muda saat ini mampu memahami kebangkitan PKI, jangan jauh-jauh kita harus segera membangkitkan perut rakyat yang kelaparan, ” jelas Effendi Saman yang juga Direktur Lembaga Bantuan Hukum Nusantara (LBHN) ini.

Ditambahkan Effedi bahwa fagasan untuk menimbang PKI sekarang lebih di usut kembali, kita ini ada di negara yang dimiskinkan. Bagaimana bisa mendistribusikan keadilan kalau kondisi seperti ini. Dia juga menyinggung tentang UU karantina diberlakukan maka otomatis negara harus bayar perut  yang dikarantina.

“Karena anggaran terbesar kita dari pajak dan migas. Konspirasi Corona negara kita akan bermasalah 3 tahun kedepan. Penggunaan dana corona 900 triliun punya hak imunitas agar tidak terkena hukum perdata dan pidana, ini kan lelucon. Makanya kami sedang mengugat di MK,” tegas Bang Effe panggilan akrab aktivis senior ini.

Effe juga menilai bahwa kaum sosialis diangkatnya isu PKI karena kegagalan negara dalam mengurus negara.

“Maka dari itu diangkatlah isu PKI untuk mengalihkan gagalnya negara yang harusnya mensejagterakan reakyatnya untuk membantu rakyat yang mana rayat miskin di tanah air ini makin banyak,” pungkasnya.