Pengamat Intelijen: Pemerintah Harus Perkuat Biodefense saat Pandemi Covid-19

Anugrah
Pengamat Intelijen: Pemerintah Harus Perkuat Biodefense saat Pandemi Covid-19
Direktur Eksekutif Center of Intelligent and Strategic Studies (CISS) Ngasiman Djoyonegoro

Jakarta, HanTer - Pengamat intelijen, pertahanan, dan keamanan yang juga Direktur Eksekutif Center of Intelligent and Strategic Studies (CISS) Ngasiman Djoyonegoro mengatakan negara agar lebih siaga dalam menghadapi ancaman wabah, seperti COVID-19.

"Kita tidak dapat memandang bahwa COVID-19 sebagai situasi ancaman kesehatan semata. Ada perspektif lain yang perlu ditelusuri dan diperdalam lebih lanjut," kata Simon, sapaan akrab Ngasiman, dalam pernyataan tertulisnya, di Jakarta, Kamis (16/7/2020).

Hal tersebut disampaikan Simon saat peluncuran dan bedah buku berjudul "Perang Global Melawan Corona-Perspektif Intelijen" hasil kerja sama CISS dengan Lembaga Kajian Nawacita (LKN) yang digelar secara virtual.
Simon mengemukakan bahwa sebagai bencana nasional non-alam, wabah COVID-19 bukan saja persoalan kesehatan, namun punya dampak lain seperti dampak sosial, ekonomi, bahkan ancaman dari sisi pertahanan dan keamanan.

"Melihat COVID-19 harus juga dilihat dari perspektif yang lain, termasuk perspektif dunia intelijen. Dampak yang ditimbulkan COVID-19 ini sangat kompleks. Banyak pihak menyatakan bahwa virus corona adalah senjata biologis yang sengaja diciptakan pihak tertentu untuk menimbulkan kekacauan global untuk menuju pada titik keseimbangan baru," katanya dikutip Antara.

Mengantisipasi upaya pengambilalihan kontrol terhadap negara-negara oleh sekelompok negara lain, Simon melalui bukunya tersebut juga mengimbau negara agar lebih siaga dalam menghadapi ancaman wabah.

"Dari sisi dunia intelijen dan pertahanan, pemerintah perlu memperkuat pertahanan biologi (biodefense) pada tugas operasi militer. Ini merupakan upaya pertahanan terhadap agen biologi yang digunakan sebagai senjata oleh pihak yang konflik, serta terhadap penyakit infeksi endemis," kata Simon.

Kepala Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI Marsekal Madya TNI Kisenda Wiranatakusumah dalam paparannya mengatakan bahwa sebagai negara besar dan negara kepulauan, tingkat penyebaran COVID-19 ini derajatnya bervariasi antardaerah.

"Selama vaksin dan obatnya belum ditemukan, maka kita tidak boleh lengah. Tidak hanya tak kasat mata, COVID-19 tidak mengenal batas negara, dan menyerang siapapun tanpa pandang bulu, tanpa melihat pangkat dan jabatan, tanpa melihat status sosial," katanya.
Kisenda juga mengapresiasi atas terbitnya buku Ngasiman itu, termasuk rekomendasi dalam buku tersebut soal perlunya dikembangkan "biodefense" yang lebih kekinian dan inovatif.

"Ini penting untuk mengantisipasi segala kemungkinan ancaman di masa mendatang yang lebih rumit, modern, dan tak terdeteksi," katanya.

Sementara itu, Deputi VII dan Jubir Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan H Purwanto menjelaskan bahwa pemerintah dan BIN saat ini terus melakukan upaya-upaya strategis dan preventif guna memutus mata rantai penularan COVID-19 sekaligus menstimulus pertumbuhan ekonomi.

"Tentu pemerintah terus melakukan langkah strategis preventif. Kita butuh sinergi semua pihak dan kesadaran bersama mematuhi protokol kesehatan di tengah normal baru," katanya.

Pada bedah buku secara daring itu hadir pula Letjen TNI (Purn) Ediwan Prabowo (Ketua NSI), Dr Riant Nugroho MSi CBA (pakar kebijakan publik), Dr Wendy Wisnuwati Setiawati (Lembaga Kajian NawaCita), dan Hery Haryanto Azumy (Ketum Forum Satu Bangsa).

Sebagai "keynote speaker" Kepala Bais Marsdya TNI Kisenda Wiranatakusumah mewakili Panglima TNI dan dr Reisa Broto Asmoro selaku Tim Komunikasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19.