Muannas: Kejaksaan Bisa Dianggap Melanggar Kode Etik Jika Tidak Tuntaskan Kasus Sarang Burung Walet

Safari
Muannas: Kejaksaan Bisa Dianggap Melanggar Kode Etik Jika Tidak Tuntaskan Kasus Sarang Burung Walet

Jakarta, HanTer - Praktisi Hukum Muannas Alaidid menyebut temuan Ombudsman Republik Indonesia (ORI) terkait kasus sarang burung walet yang menyeret nama Novel Baswedan hanyalah sebuah petunjuk semata yang tak ada nilai pembuktiannya. Pasalnya, Ombudsman menyebut ada malaadministrasi dan rekayasa dalam kasus sarang burung walet yang dituduhkan pada Novel Baswedan.

 

"Temuan Ombudsman itu cuma petunjuk aja tak ada nilai pembuktiannya. Levelnya tak sebanding dengan putusan pengadilan. Jadi diuji saja laporan Ombudsman tanpa menghentikan kasusnya di pengadilan. Itu yang benar," tegas Muannas dalam diskusi virtual bertema "Selesaikah Kasus Sarang Burung Walet di Mata Keadilan Hukum Indonesia" di Jakarta Pusat, Rabu (15/7/2020).

 

Menurut Muannas, kasus Novel di Bengkulu pada tahun 2004 lalu, jika merujuk pada putusan praperadilan kedudukan hukum Novel hanya sebagai pihak ketiga dan yang berkepentingan adalah Kejaksaan. Jadi Novel bukan pihak langsung meski dia terkena dampak dari putusan, sehingga tidak terlalu penting juga pendapatnya. Sumber masalahnya justru terletak pada Kejaksaan sebagai lembaga penuntutan yang tidak mau menjalankan putusan praperadilan tersebut.

 

"Meski KUHAP menilai wajib dilaksanakan, sehingga Kejaksaan patut dianggap melanggar kode etik, dan hal itu harus dilaporkan Kejari dan Kejagung dalam kasus ini oleh para korban. Termasuk langkah hukum perdata perbuatan melawan hukum oleh institusi dan pidana pasal 216 KUHP pembangkangan terhadap putusan Pengadilan," sebut Muannas.

 

Dikatakannya, pro kontra pendapat adalah hal yang biasa tapi menyangkut putusan pengadilan maka jangan ditafsirkan lain-lain sehingga harus dilaksanakan. Karena jangankan Kejaksaan, Presiden saja harus tunduk pada putusan pengadilan. Contohnya, putusan praperadilan Budi Gunawan yang dimenangkan meski sudah ditetapkan sebagai tersangka sebelumnya oleh KPK.

 

"Tapi kalau perintahnya kemudian dihentikan, institusi KPK harus wajib melaksanakan menghentikan kasusnya, harusnya sama seperti kasus Novel di Bengkulu itu," papar Muannas.

 

Sementara itu, Dewan Pakar PKPI Teddy Gusnaidi mengatakan ketika teman-teman pencari keadilan dalam kasus sarang burung walet bergerak, maka saat itu juga akan ada isu baru yang menutupi pemberitaan-pemberitaan untuk sarang burung walet. Oleh karenanya, perjuangan teman-teman dalam kasus sarang burung walet memang tidak mudah, harus sabar, fokus dan jangan sampai teralihkan fokusnya.

 

Teddy menyebut, setelah kasusnya Novel selesai terjadi isu baru Novel Baswedan melaporkan pihak Kepolisian ke Ombudsman. Naik pemberitaan itu sehingga pemberitaan mengenai kasus sarang burung walet tertutupi. Setelah selesai itu tercipta lagi isu baru Novel Baswedan. Namun Teddy memastikan Novel Baswedan akan kehabisan, dan akan kebingungan menciptakan drama-drama baru.

 

"Para pencari keadilan di kasus sarang burung walet tetap fokus, mau diberitakan mau tidak menjadi perhatian publik jalan terus karena suatu saat amunisi Novel Baswedan akan habis," ujar Teddy.

 

Kata Teddy, kasus penyiraman Novel Baswedan akan selesai maka selesai juga amunisinya untuk menggoreng isu demi menutupi pemberitaan kasus sarang burung walet. Menurutnya, Novel harus memberikan insentif atau gaji agar bisa terus menciptakan drama-drama baru sehingga kasus dan pemberitaan dan perhatian publik kembali menyoroti Novel Baswedan.

 

"Gaji tim kreatif yang mahal dan tugaskan mereka untuk membuat drama baru, menciptakan drama-drama, menciptakan cerita-cerita baru. Sehingga bisa menutupi pemberitaan dan perhatian publik terhadap kasus sarang burung walet," tukasnya.

 

Dalam satu kesempatan Novel Baswedan sudah membantah keterlibatannya dalam kasus penganiayaan pencuri sarang burung walet  pada 2004 lalu itu. Novel juga menyebut penuntutan kasus tersebut dihentikan kejaksaan, walau sempat masuk ke pengadilan.

 

"Hal itu semakin memperkuat dugaan selama ini bahwa dibalik ini semua aktor intelektualnya, yang itu-itu saja orangnya," beber Novel.