MAKI Harap 12 Korporasi Meniru Sinarmas AM Suka Rela Kembalikan Aset Terkait Jiwasraya

Danial
MAKI Harap 12 Korporasi Meniru Sinarmas AM Suka Rela Kembalikan Aset Terkait Jiwasraya
Koordinator Masyarakat Anti-Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman

Jakarta, HanTer - Direktorat Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung telah menerima uang titipan dari tersangka korporasi PT Sinarmas Asset Management (PT SAM) senilai Rp77 miliar yang akan diperhitungkan, dengan kerugian keuangan negara dalam kasus korupsi dan pencucian uang dalam pengelolaan keuangan dan dana investasi pada PT. Asuransi Jiwasraya (Persero) pada beberapa perusahaan periode tahun 2008-2018 atas nama tersangka korporasi PT. SAM.

Saat ini, Kejaksaan Agung masih menunggu iktikad baik 12 tersangka manajemen investasi (MI) yang belum menyerahkan kerugian negara terkait kasus dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya.

Koordinator Masyarakat Anti-Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman meminta 12 tersangka Manager Investasi (MI) ikut menyerahkan kerugian negara terkait dengan kasus dugaan korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi oleh PT Asuransi Jiwasraya (Persero) seperti yang telah dilakukan oleh PT SAM.

“MAKI menghimbau kepada Manager Investasi (MI) yang lain ikut memenuhi pengembalian. Akan untung kedepannya, tapi kalau mereka tidak mau, apa lagi proses hukumnya berat mereka bisa dibubarkan dan kepercayaan masyarakat terhadap jasa keuangan terus juga terhadap pasar modal di bursa efek bisa luruh dan hancur, dan masyarakat akan menyimpan uang nya di bawah bantal,” ujar Boyamin, Senin (13/7/2020).

Pengembalian aset dari Sinarmas Aset Manajemen disebut tidak lepas dari peran penting dari Kejaksaan Agung sebagai penegak hukum dalam menindak dan mengembangkan penyidikan kasus korupsi, dalam pengelolaan keuangan dan dana investasi oleh PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dengan menetapkan tersangka korporasi sebanyak 13 MI, salah satunya PT. SAM.

“Justru itu, ini masyarakat semakin percaya kalau ada penyimpangan ditindak, kalau ada penyimpangan tidak ditindak masyarakat tetap gigit jari dan uangnya hilang, masyarakat makin tidak mau investasi, akhirnya mereka menyimpan uang dibawah bantal. Kalau itu yang terjadi, uang-uang ini tidak berputar yang rugi siapa? Negara rugi, masyarakat rugi sementara manager investasi kepercayaan hilang bisa bangkrut,” terang Boyamin.

Berkat aksinya mengembalikan uang senilai Rp77 miliar secara sukarela kepada Kejaksaan Agung, kata Boyamin, nama perusahaan Sinarmas akan dipandang baik dan dipercaya di mata masyarakat. 

“Sinarmas sekarang namanya mulai membaik dan dipercaya masyarakat karena Sinarmas menganggap ah duit segitu kecil, artinya struktur Sinarmasnya kan kuat, jadi kalau investasi lewat Manager Investasi Sinarmas mereka aman-aman saja, Negara aja dibayar langsung kontan dan lunas, kan gitu,” ulasnya.

Menurut Boyamin, sikap suka rela mengembalikan aset terkait Jiwasraya mampu mengembalikan kembali kepercayaan masyarakat bukan hanya kepada emiten yang bersangkutan, juga terhadap dunia investasi sehingga masyarakat akan percaya diri karena investasinya tidak akan dikemplang. 

“Kalau mereka (MI) bayar sekarang kepercayaan masyarakat bukan hanya pulih justru makin membesar. Mereka bisa tetap berbisnis kedepannya lebih bagus lagi, lebih mendapatkan keuntungan, mereka tetap bisa bergerak secara bisnis,” bebernya.

Boyamin mengingatkan jika 12 tersangka korporasi itu tidak segera mengembalikan akan memperburuk citra dari perusahaan yang bersangkutan, proses hukum berikutnya bisa semakin berat dan bisa menanggung denda yang cukup tinggi.

“Kalau pengembalian Sinarmas itu unsur meringankan tidak menghapuskan lho ya, unsur meringankan bisa saja dendanya kecil atau bahkan tidak ada denda, bisa jadi juga tidak dicabut hak perdatanya, bisa dibubarkan lho kalau sampe mereka tidak mengembalikan ya nanti berat, selain denda juga dibubarkan perusahaannya,” katanya.

Boyamin menekankan pengembalian dana tersebut demi kebaikan sistem jasa keuangan dan sebagai momentum mengembalikan kepercayaan, bahkan menambah kepercayaan dari masyarakat untuk tetap melalukan investasi melalui Manager Investasi.

“Untuk kebaikan sistem keuangan, manager investasi, perusahaan-perusahaan inikan hidup dengan mengelola dana masyarakat diinvestasikan. Untung atau rugi masyarakat itu sadar kok rugi ya rugi tidak ada masalah, tapi semakin profesionalkan mestinya makin untung, uang kembali tidak dikemplang. Nah ini momentum malah menambah kepecayaan masyarakat untuk investasi lewat jasa keuangan melalui bursa saham melalui perantara manager investasi,” katanya.

Diketahui, berdasarkan laporan hasil pemeriksaan investigasi oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), disimpulkan telah terjadi kerugian keuangan negara atas investasi reksa dana Simas Saham Ultima (SSU) pada manajer investasi PT. SAM sejumlah Rp77 miliar.

Dalam proses penyidikan, PT SAM telah menitipkan uang tunai kepada penyidik senilai Rp77 miliar dengan rincian penitipan dilakukan dua kali yakni sejumlah Rp3.061.295.846 dan Rp73.938.704.154.

Penitipan uang tersebut dilakukan dengan cara PT SAM mentransfer ke rekening virtual account Bank Mandiri Satuan Kerja Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, sebagai jaminan apabila nantinya dalam putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap (inkracht), PT. SAM dikenakan kewajiban untuk membayar sejumlah nilai tertentu.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung (Kejagung) Hari Setiyono berharap pengembalian uang kerugian negara dari PT. Sinarmas Asset Management (PT. SAM) dapat diikuti oleh sejumlah perusahaan manajer investasi (MI) lainnya yang menjadi tersangka korporasi, dalam kasus dugaan korupsi dalam pengelolaan keuangan dan dana investasi oleh PT. Asuransi Jiwasraya demi membayar tunggakan kepada nasabah pemegang polis.

"Diharapkan pengembalian/penitipan uang ini dapat diikuti oleh MI lainnya sehingga apabila putusan pengadilan telah memiliki kekuatan hukum tetap, maka kerugian keuangan negara cq PT AJS yang ditimbulkan akibat adanya penyimpangan dalam transaksi reksa dana dapat dipulihkan dan hal ini dapat membantu PT AJS dalam membayar tunggakan premi kepada nasabah pemegang polis yang menjadi kewajiban PT. AJS," tutur Hari.

(Danial)