Tajuk: Pandemi Covid-19 dan Solusi Atasi Krisis Ekonomi

***
Tajuk: Pandemi Covid-19 dan Solusi Atasi Krisis Ekonomi

Presiden Joko Widodo mengatakan, semua pihak harus memiliki perasaan yang sama, bahwa krisis sebagai dampak pandemi COVID-19 ini bukanlah sesuatu yang mudah karena krisis kesehatan ini berimbas terhadap sektor ekonomi.

Presiden mengatakan sisi kesehatan dan sisi ekonomi tidak bisa saling dilepaskan, saat memprioritaskan kesehatan tentunya sektor ekonomi juga harus mampu berjalan dengan baik. Sebab jika ekonomi tidak berjalan, maka kesejahteraan menurun dan menyebabkan imunitas ikut turun sehingga penyakit mudah masuk.

Ia mengingatkan kondisi ini tidak hanya terjadi di tanah air, namun juga dihadapi berbagai negara di seluruh penjuru dunia. 

Para ekonom berpendapat pandemi Covid-19 tidak hanya menjadi isu kesehatan, tetapi juga berdampak pada kondisi sosial dan ekonomi.  Dari mulai PHK massal, penutupan pabrik-pabrik, goncangan terhadap supply and demand hingga terjadinya penurunan daya beli (konsumsi) masyarakat. 

Sektor UMKM yang sering disebut sebagai sabuk pengaman ekonomi, kini justru yang paling parah terkena dampaknya.  Akibatnya, ekonomi secara keseluruhan collaps dan pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua tahun 2020 diperkirakan para pakar ekonomi akan anjlok secara dramatis. 

Berbagai kalangan memprediksi krisis ekonomi yang diakibatkan oleh pandemi COVID-19 saat ini lebih mengkhawatirkan dibandingkan dengan krisis-krisis ekonomi yang terjadi sebelumnya. Hal ini karena yang terkena hantaman dari krisis ini adalah supply and demand secara bersamaan. 

Ekonom Prof. Didik Rachbini mengemukakan, saat ini pandemi sudah sangat berdampak pada dunia usaha dan akan membuat gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan merumahkan karyawan.

Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani si Jakarta, Senin, mengatakan, tekanan besar bagi dunia usaha sudah tidak bisa lagi ditahan. Namun, di sisi lain, sudah tidak ada yang bisa dilakukan untuk membantu dunia usaha di saat seperti ini.

Itulah sebabnya ketika pemerintah menggulirkan New Normal berbagai kalangan juga menyambut positif, terutama untuk menyelematkan perekonomian nasional dan mencegah terjadinya PHK, yang otomatis akan mencegah terjadinya pengangguran.

Ekonom senior Rizar Ramli menilai Indonesia masih memiliki waktu untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi akibat pandemi virus Corona alias COVID-19. Cara yang harus ditempuh pemerintah adalah dengan mengubah strategi keluar dari krisis.

Di balik penurunan ekonomi, eks Menko Bidang Kemaritiman ini optimistis Indonesia bisa menjadi negara yang super power dalam 10 tahun mendatang. Upaya yang harus dilakukan adalah ahli ekonomi yang berada di lingkaran pemerintah harus diisi oleh sosok yang hebat.

Untuk itu, lanjut Rizal Ramli, kita jangan lagi jadi antek China. Konstitusi kita jelas bebas aktif. Nggak ikut blok barat, blok timur. Kita harus bebas aktif.

Menurut Rizal, kemerosotan ekonomi Indonesia belakangan ini juga akibat segelintir pejabat yang selalu anti kritik dan anti masukan dari berbagai kalangan. Sebab, pelemahan ekonomi nasional sudah terjadi sebelum COVID-19 melanda tanah air. Soalnya, kata Rizal, sebelum ada pandemik Covid-19, ekonomi (kita) sudah masalah. Tahun 2017, 2018, 2019.

Untuk membangkitkan perekonomian Indonesia ini dengan mencari sumber investasi baru dan tidak hanya bergantung pada satu negara saja. Rizal menilai, belum ada kata terlambat bagi pemerintah untuk membangkitkan perekonomian bila sesegera mungkin mengubah strategi.

Indonesia harus mulai menggeser kiblat politik luar negeri dan investasi tersebut dari sangat pro China jadi negeri sendiri. Indonesia harus mengutamakan kepentingan rakyat untuk bisa menjadi negara yang super power.

Publik menginginkan kondisi ekonomi negeri ini bisa stabil dan berkembang. Dengan demikian rakyat bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan dan memenuhi kebutuhan hidupnya.

Itulah sebabnya, pemerintahan Joko Widodo bekerja keras membuat berbagai kebijakan dan program untuk mencegah bertambahnya orang miskin baru, pengangguran dan PHK.

Tentu saja seluruh anak bangsa untuk ikut berkontribusi dan berjuang bersama dalam menyelesaikan krisis sosial-ekonomi yang melanda negeri ini.

Harapan kita masyarakat harus bersabar dalam menghadapi pandemi COVID-19 karena dampak negatif pandemi tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga masyarakat di seluruh dunia.

Terlepas dari beban berat, antara lain kekurangan uang untuk atasi pandemi, pemerintah tetap harus memprioritaskan rakyat yang kini terpuruk menghadapi situasi saat ini. Pemerintah tidak melakukan segala macam upaya untuk kepentingan masyarakat, terutama mereka yang terkena dampak sosial dan ekonomi.