Harapan Sejumlah Tokoh Kepada Polri, Mampu Menegakkan Hukum Secara Profesional 

Harian Terbit/Alee
Harapan Sejumlah Tokoh Kepada Polri, Mampu Menegakkan Hukum Secara Profesional 

Menyambut HUT Ke-74 Bhayangkara berbagai kalangan meminta Polri meningkatkan kinerjanya agar makin dipercaya oleh masyarakat. Di sisi lain, budaya koruptif di tubuh kepolisian harus dibuang, menguatkan soliditas internal dan profesionalismenya.  Polri dituntut pula mampu menegakkan hukum secara profesional, transparan, dan berkeadilan

Berikut harapan sejumlah tokoh kepada jajaran Polri di Jakarta, Rabu (1/7/2020).

Mahfud MD, Menkopolhukam

Polri harus terus menerus terbuka terhadap kritik, masyarakat juga jangan segan memberikan masukan dan kritik pada polisi.

Polri sebagai alat negara memiliki kedudukan dan fungsi yang sangat penting. Bayangkan kalau satu negara polisi dan tentaranya terhenti selama setengah jam saja, negara bisa bubar. Tidak ada yang mengamankan, maka orang bisa bertindak brutal, kriminal berat dan tindakan teror lainnya.

Bambang Soesatyo, Ketua MPR RI

Personel Polri perlu mengedepankan pendekatan kekuatan humanisme daripada pendekatan kekuatan senjata dalam mengayomi keamanan dan ketertiban masyarakat.

Senjata yang dititipkan negara tidak boleh menjadikan aparat Kepolisian arogan, melainkan harus dimaknai sebagai bentuk kepercayaan sekaligus tanggung jawab besar Kepolisian untuk menjaga keamanan, ketertiban dan keselamatan hidup rakyat.

Puan Maharani, Ketua DPR RI 

Dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-74, Polri hendaknyta semakinprofesional yang diwujudkan dalam penegakan hukum yang berkeadilan dan terpercaya. Kami juga ingin proses hukum yang dilakukan Polri berlangsung cepat dan efektif sehingga tidak membebani masyarakat yang ingin mencari keadilan.

Pelayanan publik yang dilakukan Polri terus dioptimalkan dan tetap memegang teguh prinsip transparansi dan akuntabilitas. Karenanya, pengawasan internal perlu ditingkatkan agar disiplin anggota Polri terus meningkat sehingga tidak ada lagi kasus-kasus yang mencoreng citra Polri.

Jazilul Fawaid, Wakil Ketua MPR RI
    
Di masa kepemimpinan Jenderal Polisi Idham Azis, Polri telah melakukan perombakan besar-besaran Polri untuk membangun solidaritas internal. Langkah perombakan besar-besaran di tubuh Polri itu dinilai cukup bagus.

Meski demikian, Kapolri juga penting menekankan pada perbaikan budaya kerja yang lebih profesional. Sebab, Polri mempunyai pekerjaan rumah (PR) yang harus segera dituntaskan, yaitu meningkatkan citra sebagai polisi yang profesional, modern, dan terpercaya (promoter). Penting juga bagi Polri untuk melakukan peningkatan kinerja nyata dalam rangka membangun ketertiban dan keamanan.

Persepsi Publik

Sementara itu, riset yang dilakukan oleh Indonesia Indicator (I2) menyebutkan persepsi publik dan media massa terhadap kinerja Polri sepanjang 2020 terus menguat. Berdasarkan analisis framing pemberitaan media online di Tanah Air memberi nilai rapor kinerja Polri pada tahun ini sebesar 79 dari angka 100.

Direktur Komunikasi Indonesia Indicator (I2), Rustika Herlambang, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Rabu, mengatakan, berbagai aktivitas Polri di media massa dan media sosial selama ini bisa diukur untuk mengetahui agenda publik dan agenda masyarakat pada Polri.

"Sepanjang 2020, Polri diberitakan dalam 331.308 berita dari 2.647 media online berbahasa Indonesia," ujar dia.

Dari keseluruhan berita terkait kinerja Kepolisian Indonesia itu, sekitar 79 persennya memiliki sentimen netral dan positif. Sementara, pemberitaan terkait Kepolisian Indonesia yang memiliki sentimen negatif sebanyak 21 persen.

Sebanyak 57 persen pemberitaan tentang Kepolisian Indonesia, kata dia, terkait upaya Kepolisian Indonesia dalam menangani Covid-19. Isu yang menarik bagi media online adalah Maklumat Kepala Kepolisian Indonesia terhadap kerumunan, protokol kesehatan, bantuan beras, pengawalan bansos, mengawal BLT, dapur umum bersama TNI, dan operasi ketupat.

"Isu tersebut banyak mendapatkan atensi positif di media dan masyarakat," kata dia.

Menurut dia, isu terbesar kedua yang menjadi perhatian media adalah keberhasilan Polri dalam menangani kasus narkoba.

Selain itu, kinerja Kepolisian Indonesia dalam penanganan banjir, persiapan pilkada serentak, karhutla, dan Papua juga menjadi isu perhatian media.