BEM UBK Beri Dukungan Terhadap Korban Kasus Sarang Burung Walet

Safari
BEM UBK Beri Dukungan Terhadap Korban Kasus Sarang Burung Walet

Jakarta, HanTer  - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta turut memberikan dukungan terhadap para korban kasus sarang burung walet yang diduga dianiaya oleh Novel Baswedan, saat menjabat Kasat Reskrim di Polres Bengkulu.

 

Saat ini para korban penganiyaan yakni Irwansyah Siregar, Dedi Muryadi, Dony Yefrizal Siregar dan M. Rusli Alimsyah tengah mendirikan tenda di depan Gedung Kejaksaan Agung (Kejagung) Jakarta. Mereka mendirikan tenda dengan harapan keadilan bisa didapatkannya.

 

“Kami tergugah setelah mendapat informasi dari teman BEM Jakarta yang juga turut memberikan dukungannya kepada para korban ini untuk melanjutkan kasus sarang burung walet yang hingga kini masih menjadi misteri,” ujar Sekretaris BEM UBK, Mardo Vito Ayal di Kejagung RI, Selasa (30/6/2020).

 

Menurutnya, setiap warga negara mempunya hak yang sama dalam memperjuangan haknya atas hukum.  Apalagi berkas dan barang bukti kasus tersebut sudah masuk ke PN Bengkulu. Praperadilan para korban sarang burung walet juga telah dimenangkan oleh Pengadilan Negeri (PN) Bengkulu dengan memutuskan untuk segera disidangkan.

 

“Apa kendala tidak diproses, kenapa tidak dilanjutkan?. Masyarakat dan mahasiswa juga harus tahu. Law enforcement harus ditegakan agar tidak sembarang bisa mempermainkan hukum,” ucap Vito.

 

Diketahui para korban penganiayaan oleh Novel Baswedan telah melangsungkan aksi gelar tenda di depan Kejagung RI sejak minggu yang lalu. Selain itu para korban kasus sarang burung walet juga turut menghadiri persidangan kasus penyerangan air keras yang dialami Novel Baswedan di PN Jakarta Utara.

 

Dalam satu kesempatan Novel Baswedan sudah membantah keterlibatannya dalam kasus penganiayaan pencuri sarang burung walet  pada 2004 lalu itu. Novel juga menyebut penuntutan kasus tersebut dihentikan kejaksaan, walau sempat masuk ke pengadilan.

 

"Hal itu semakin memperkuat dugaan selama ini bahwa dibalik ini semua aktor intelektualnya, yang itu-itu saja orangnya," beber Novel.