Jumlah Pasien Covid-19 Bertambah, Tindak Tegas Para Pelanggar Protokol Kesehatan 

Harian Terbit/Sammy
Jumlah Pasien Covid-19 Bertambah, Tindak Tegas Para Pelanggar Protokol Kesehatan 
Ilustrasi aktivitas warga saat penerapan new normal (ist)

Adanya lonjakan signifikan jumlah pasien Covid-19 akhir-akhir ini diduga karena adanya pembiaran dan toleransi berlebih terhadap para pelanggar protokol kesehatan. Berbagai kalangan kerap menyerukan agar Pemerintah Daerah (Pemda) tidak lagi memberi toleransi terhadap siapapun yang melanggar protokol kesehatan di tengah penyebaran pandemi virus corona (Covid-19).

Ketua MPR Bambang Soesatyo, mengatakan, lonjakan besar jumlah pasien Covid-19 belakangan ini menyebabkan munculnya penilaian Indonesia bisa menjadi hotspot virus corona berikutnya. Kondisi tersebut bukan tidak mungkin membuat masyarakat takut beraktivitas.

"Saya meminta semua pemerintah daerah untuk serius menyikapi besarnya lonjakan jumlah pasien Covid-19 belakangan ini. Lonjakan besar jumlah pasien itu menyebabkan masyarakat semakin takut untuk melakoni aktivitas-aktivitas produktif di ruang publik," katanya di Jakarta, Senin (29/6/2020).     

Hingga akhir pekan lalu jumlah pasien Covid-19 terus bertambah dengan laju percepatan yang tampak signifikan. Per Sabtu, 27 Juni 2020, total pasien Covid-19 di dalam negeri menjadi 52.812 kasus setelah terdeteksi 1.385 kasus baru. 

Mantan Ketua DPR RI ini berharap semua pemda dapat bersikap lebih tegas terhadap oknum warga yang melanggar protokol kesehatan. Apalagi, pemda telah menerbitkan kebijakan atau ketentuan untuk melaksanakan protokol kesehatan itu.  

"Kebijakan penerapan protokol kesehatan harus dilaksanakan dengan konsisten. Penerapannya pun harus disertai dengan pengawasan di lapangan," ucap Bamsoet.

Kluster Baru 

Terkait hal itu, Pengamat Kebijakan Publik Universitas Trisakti Trubus Rahardiansyah, menilai, hal tersebut berpotensi memunculkan kluster baru bagi berkembangnya Covid-19.

"Menurut saya ini berpotensi sekali munculnya kluster baru setelah pasar dan area CFD. Banyaknya pelanggaran di tempat hiburan seperti bar dan restoran dengan tidak menerapkan protokol kesehatan, maka penularan COVID-19 jadi tinggi saking mudahnya transmisi antarorang," kata Trubus di Jakarta, Senin (29/6/2020).

Itulah mengapa di Jakarta Pusat sempat menjadi yang tertinggi penyebarannya se-Indonesia, ucap Trubus, dikarenakan banyaknya relaksasi bagi tempat nongkrong yang menjadi pemicu penularan COVID-19 di Jakarta Selatan.

"Kan kita konsennya pada akar persoalan. Istilahnya, horizontal scanning, ada pada akar persoalannya yaitu penyebaran virus. Yang harus ditanggulangi adalah semua kegiatan harus berkonsentrasi bagaimana memutus mata rantai penyebaran virus itu sendiri," tuturnya.

Membandelnya tempat hiburan malam, kata Trubus, akibat lemahnya pengawasan terhadap kewajiban yang dibebankan bagi pemilik tempat hiburan yang seharusnya betul-betul memperhattikan protokol kesehatan di tengah pandemi COVID-19 ini.

"Tapi yang terjadi kan penempatan tanda silang sebagai penjagaan jarak, hanya 'lip service'. Kesannya menipu bahwa tempat tersebut sudah layak dikunjungi. Pengawasannya lemah sekali. Menurut saya harus ada semacam rem kebijakan di mana yang melanggar diberikan sanksi sesuai Pergub 47 tahun 2020 terkait sanksi," ujar dia.

Lebih lanjut, Trubus menyebut Pemprov DKI Jakarta harus mengeluarkan semacam sertifikat bagi tempat hiburan yang layak dikunjungi karena memenuhi standar protokol kesehatan.

"Yang diutamakan kan masalah kesehatan. Jadi, tempat hiburan yang belum layak untuk dibuka ya jangan dibuka. Jangan diberi toleransi berlebihan," ucap dia.

Harus Ditertibkan

Badko HMI Jabodetabeka-Banten mendesak Gubernur DKI menertibkan usaha yang melanggar protokol kesehatan. Hal itu menanggapi adanya cafe, bar hingga THM yang kembali dibuka namun tidak mengikuti protokol kesehatan.

Ketua Umum Badko HMI Jabodetabeka-Banten, Hendra Djatmiko, mendesak Gubernur DKI melakukan penertiban terhadap cafe, bar hingga THM yang melanggar protokol kesehatan.

"Kami meminta Gubernur DKI Jakarta untuk menindak tegas cafe, bar hingga THM yang melakukan aktivitas tanpa mengikuti protokol kesehatan," ungkapnya di Jakarta, Senin (29/6/2020).

Menurut Hendra, cafe, bar, hingga THM yang buka tanpa mengikuti protokol kesehatan dapat mengakibatkan penambahan jumlah pasien Covid-19.

"Sampai sekarang DKI adalah wilayah dengan jumlah penderita covid-19 tertinggi di indonesia. Harusnya cafe, bar dan juga THM yang kembali beraktivitas wajib menjalankan protokol kesehatan agar tidak menjadi wadah penyebaran virus ini," sambung Hendra.

Hendra pun menegaskan, Badko HMI Jabodetabeka-Banten akan melakukan tindakan penyegelan terhadap cafe, bar dan juga THM jika tidak menjalankan protokol kesehatan.

"Kami akan melakukan penyegelan terhadap cafe, bar hingga THM jika mereka masih melanggar protokol kesehatan. Ini adalah bentuk kepedulian kami agar pandemi ini tidak semakin mewabah di DKI," tegasnya.