Korban Sarang Walet Dirikan Tenda di Kejagung Pantang Pulang Sebelum Novel Diadili

Safari
Korban Sarang Walet Dirikan Tenda di Kejagung Pantang Pulang Sebelum Novel Diadili

Jakarta, HanTer - Korban kasus dugaan penganiayaan dalam kasus sarang burung walet yang diduga menyeret nama Novel Baswedan kembali mendirikan tenda di depan Gedung Kejaksaan Agung (Kejagung) RI, Jakarta. Para korban tersebut yakni Irwansyah Siregar, Dedi Muryadi, Dony Yefrizal Siregar dan M Rusli Alimsyah.

 

Para korban juga datang ke Jakarta untuk menghadiri sidang penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara. Para korban menegaskan tidak akan kembali ke Bengkulu sebelum Novel Baswedan diadili. Apalagi aksi Novel dianggap sudah keterlaluan karena telah menodongkan pistol ke arah Kepalanya sebelum menembak kakinya.

 

"Pantang pulang, sebelum Novel Baswedan diadili. Negara kita adalah negara hukum, kenapa perkara Novel Baswedan yang sudah ditentukan jadwal sidangnya di Kejaksaan Bengkulu, tiba-tiba bisa ditarik oleh Jaksa Agung," kata Rusli, Senin (29/6/2020).

 

Sementara itu, korban lainnya Irwansyah menuturkan, pihaknya datang ke Jakarta untuk mencari keadilan karena hal itu dilindungi oleh Undang-Undang. Oleh karena itu pihaknya akan terus melakukan perlawanan terhadap Novel Baswedan dengan cara melakukan gugatan. Apalagi hakim juga telah memenangkan praperadilan yang diajukannya dengan menyatakan berkas Novel Baswedan segera disidangkan.

 

"Tapi kenyataannya sampai saat ini berkas Novel belum juga disidangkan.

Kami menuntut hak kami sama seperti Novel juga. Hak kami juga dilindungi undang-undang, jadi bagaimana keputusan dari Kejaksaan ini. Sementara berkasnya masih ditahan di Kejaksaan Agung, makanya kami ke Jakarta untuk mencari keadilan, supaya Kejaksaan Agung dibukakan matanya terang-terang," tegasnya.

 

Dedi Nuryadi mengaku dirinya sebagai saksi salah tangkap dan ia merasa tidak bersalah. Namun, justru mendapatkan perlakuan yang sama seperti pelaku sarang walet. Oleh karena itu ia bersumpah jika dirinya adalah korban dan tidak melakukan pencurian sarang burung walet. Ia juga memohon kepada Presiden dan Jaksa Agung agar menyidangkan Novel Baswedan dalam kasus sarang burung walet di Bengkulu.

 

"Demi Allah saya tidak pernah yang mana melakulan pencurian sarang burung walet. Saya memang benar-benar korban, dan saya memohon kepada bapak Presiden dan Jaksa Agung tolong sidangkan Novel Baswedan. Kalau dia memang bersalah, dia harus disidangkan, itu yang saya minta," jelasnya.

 

Doni Yefrizal yang juga korban sarang walet ikut menceritakan kejadian kelam yang dialaminya saat berhadapan dengan Novel Baswedan. Dia mengaku pernah disiksa dan disetrum disekujur tubuhnya. Bahkan kemaluannya juga terkena setrum. Maka itu, dirinya meminta keadilan dan haknya sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) agar diperlakukan sama dalam hukum, sehingga berkas perkara yang menyeret Novel Baswedan itu bisa disidangkan.

 

"Saya minta kepada Jaksa Agung dan pak Presiden kalau bisa berkas kami dilimpahkan dari Kejaksaan Agung, ke Pengadilan Negeri Bengkulu," pungkasnya.

 

Dalam satu kesempatan Novel Baswedan sudah membantah keterlibatannya dalam kasus penganiayaan pencuri sarang burung walet  pada 2004 lalu itu. Novel juga menyebut penuntutan kasus tersebut dihentikan kejaksaan, walau sempat masuk ke pengadilan.

 

"Hal itu semakin memperkuat dugaan selama ini bahwa dibalik ini semua aktor intelektualnya, yang itu-itu saja orangnya," beber Novel.