INSA: Sektor Pelayaran Harapkan Stimulus Moneter

Alee
INSA: Sektor Pelayaran Harapkan Stimulus Moneter

Jakarta, HanTer - Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pelayaran Niaga Nasional (Insa) Carmelita Hartoto mengatakan, sektor pelayaran nasional mengharapkan stimulus, terutama dari sisi moneter untuk kembali membangkitkan industri pelayaran yang terdampak COVID-19.

 

“Hingga saat ini, pelayaran masih menunggu beberapa stimulus, khususnya di sisi moneter," kata Carmelita Hartoto dalam diskusi virtual dengan Forum Wartawan Perhubungan di Jakarta, Kamis (25/6/2020).

 

Ia mengeluhkan terkait penjadwalan ulang (rescheduling) pembayaran pinjaman bank masih sulit dilakukan, terutama untuk bank-bank swasta.

 

“Restrukturisasi pinjaman perusahaan seluruh juknisnya (petunjuk teknis) belum keluar, jadi selama ini pinjaman modal kita tinggi. Kita minta modal kerja belum diberikan. Bank swasta tidak merasa diatur pemerintah, kalau mau restrukturisasi boleh-boleh saja, tapi rating jadi turun,” ujarnya.

 

Saat ini, dia menuturkan, stimulus yang diajukan di antaranya kebijakan keringanan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), kebijakan moneter untuk “rescheduling” pinjaman bank, kebijakan keringanan biaya pelabuhan, kebijakan fiskal dan kebijakan sertifikat perpanjangan dan docking (parkir kapal).

 

Saat ini, Carmelita menyebutkan stimulus yang sudah dipenuhi atau 100 persen baru kebijakan sertifikat perpanjangan dan docking (parkir kapal).

 

Sisanya, kebijakan keringanan biaya pelabuhan progresnya masih 50 persen, kebijakan fiskal 27 persen, kebijakan keringanan PNPB lima persen dan “rescheduling” pinjaman bank nol persen.

 

“Saya juga menyadari pemerintah dananya terbatas untuk stimulus, karena itu yang paling utama kebijakan yang enggak pakai uang mungkin bisa dikasih. Istilahnya seperti PNBP itu mungkin enggak bisa dikasih penundaan,” katanya.

 

Saat ini usulan penundaan pembayaran PNBP masih digodok oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan. “Keringanan PNBP akan segera banyak membantu kita,” ujar Carmelita dilansir Antara.

 

Ia menyebutkan pendapatan di sektor pelayaran penumpang atau roro akibat adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berarti penutupan aktivitas terminal pelabuhan selama pandemi COVID-19 anjlok 75 hingga 100 persen.

 

Di samping itu, Ia menambahkan, untuk sektor barang kontainer, curah kering, tanker, “tug and barge”, “off shore” dan kapal khusus mengalami penurunan pendapatan sekitar 25-50 persen.

 

“‘Demand’ (permintaanya) turun. Tanker minyak kalau mengikuti petanya secara internasional itu kapal-kapal minyak banyak yang berhenti. Teman-teman di ‘off shore’ sudah negosiasi, tapi intinya kita bicara ke semua ‘stakeholder’ (pemangku kepentingan) sebisanya jangan ada pengurangan kapal, tetap berjalan kalaupun negosiasi jangan banyak-banyak,” katanya.

 

Akibat para pemilik barang (shipper) mengalami kesulitan keuangan, hal tersebut menyebabkan penaikan piutang yang membuat arus kas perusahaan terganggu, khususnya pada barang kontainer, curah kering dan “tug and barge”.