Ikatan Mahasiswa Papua UI Apresiasi Kebijakan Otsus Papua

Safari
Ikatan Mahasiswa Papua UI Apresiasi Kebijakan Otsus Papua

Jakarta, HanTer - Wakil Ketua Ikatan Mahasiswa Papua UI 2019, Reno Mayor mengaku mengapresiasi kebijakan Otsus Papua. Namun, ia mempertanyakan kenapa hingga saat ini masyarakat Papua masih hidup tidak sejahtera di atas kekayaan alamnya. Reno menilai hal tersebut terjadi karena penerapannya masih kurang tepat sasaran, sehingga sebagian masyarakat dimanja dengan Dana Otsus sebagian lagi tidak atau belum tersentuh.

Sedangkan, mentalitas berjuang, kesadaran untuk bersaing, dan kualitas SDM belum merata. Menurutnya, pemerintah harus ajarkan kepercayaan diri dan kesiapan bersaing bagi masyarakat Papua. Karena hal tersebut tidak diajarkan di bangku sekolah, maka sebaiknya ajarkan melalui sekolah di Papua, berikan akses pendidikan yang sesuai bagi situasi wilayah kami.

"Lalu, lakukan pemerataan dan tepatkan sasaran dalam penyerapan Dana Otsus," ujar Reno melalui saluran video interaktif Zoom Meeting dalam dialog bertema ”Menakar Masa Depan Papua", Mnggu (14/6/2020).,

Sementara itu akademisi Universitas Indonesia, Dr. Chusnul Mariyah mengatakan, eksploitasi SDA misalnya, Indonesia punya UU dimana dalam pengelolaannya, 10% milik daerah. Sayangnya, selalu diperjualbelikan. Tolong kunci pasal tersebut agar 10% tidak diperjualbelikan, dan tunainya didapatkan dari dividen. Dalam memperkuat daerah Papua, pendekatan legal memang mudah namun tidak kontekstual.

Saat ini Papua dibelenggu 3 oligarki: politik, ekonomi, sosial. Jangan jadikan Papua sebagai ladang project oriented oleh oknum politik. Truth and reconciliation harus dilakukan, dan ikhtiar melalui interfaith dialogue. Perbedaan pendang tentu boleh, namun jika ada _self determination_ yang merusak kedaulatan tentu juga ada aturan hukumnya.

Tokoh Pemuda Papua,  Boy Markus Dawir mengatakan, cara pandang para pemuda Papua saat ini terbagi menjadi 2, yakni teman-teman yang mendukung NKRI dan yang bersebarangan dengan NKRI. Rata-rata, teman-teman berseberangan ini merasakan tidak hadirnya negara dalam masyarakat Papua, terutama minimnya kesempatan pemuda Papua menjadi ASN, TNI, atau POLRI dan bagian lainnya sehingga bergabung dengan kelompok separatis.

Tergantung keseriusan negara apakah mau menginventarisasi permasalahan besar hingga permasalahan kecil, seperti kasus HAM yang tidak kunjung selesai hingga kini. Hal seperti ini bisa menjadi bom waktu. Lakukan cara yang baik, bermartabat, toh kami sudah sampaikan rekomendasi kepada negara dan semoga ditindaklanjuti sesuai aturan hukum.

Duta Besar RI, Prof. Dr. Imron Cotan mengatakan, di era padat teknologi dan media kini, semua berusaha memonopoli kebenaran. Dari perspektif hukum dan sejarah, harus kita akui bahwa ada kesalahpahaman isu Papua di Indonesia. Pertama, Papua dianggap sebagai entitas politik tersendiri, bahwa Indonesia mengintegrasi Papua.

Mengenai tuduhan rasisme, diskriminasi, seperti yang disuarakan kelompok separatisme, hal tersebut adalah salah tuduh. Tidak sepenuhnya terjadi. Ya, memang ada beberapa oknum, namun mayoritas merasakan good under NKRI. Asumsi-asumsi separatisme itu hanyalah dibangun oleh ilusi. Saat ini pun, sejak adanya UU 21/2001 Otsus (Otonomi Khusus) Papua, seluruh jabatan publik di provinsi Papua telah diduduki oleh OAP (Orang Asli Papua). Mari kita duduk bersama membicarakan permasalahan Papua tanpa membahas status politik Papua.

Deputi Kominfo BIN, Dr. Wawan Hari Purwanto mengatakan, saat ini Indonesia sedang melakukan percepatan-percepatan segala bidang, sekolah, fasilitas, energi, air bersih, kebutuhan pabrik, perbatasan Papua, yang secara prinsip mempercepat penyetaraan Papua dengan provinsi lainnya. Terlebih saat ini jelang PON Papua, pemerintah juga membangun fasilitas olahraga dengan standar dunia.

"Kita kerjakan secara holistik demi mewujdukan keadilan sosial. Kita lihat kreatifitas di Papua, telah diberdayakan sebagai kawasan ekonomi khusus yang terkenal di dunia, kita dorong agar tumbuh cepat, termasuk penguatan distrik-distrik. Pendekatan ekologis, SDM digenjot habis, sebagaimana Reno Mayor penerima Bidik Misi sejak SMA. Evaluasi Otsus terus dilakukan dengan melibatkan OAP. Jika ada yang merasa masih belum tersentuh, mohon dimaklumi karena begitu luasnya wilayah Papua," paparnya.

#Papua   #otsus