AMB: Kasus Novel Jangan Buat Presiden Jokowi Intervensi 

Safari
AMB: Kasus Novel Jangan Buat Presiden Jokowi Intervensi 

Jakarta, HanTer - Mantan Kasat Reskrim Polres Bengkulu Novel Baswedan merasakan kejanggalan terhadap persidangannya. Novel yang saat ini menjadi penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pun  meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan perhatian terhadap kasusnya tersebut.

"Ini harusnya menjadi perhatian Pak Presiden. Karena kita paham negara kita adalah presidensial tentunya kekuasaan di bawah presiden. Oleh karena itu saya mengatakan hal ini dengan sungguh-sungguh dalam rangka menjaga harkat dan martabat presiden," ujar Novel, dalam suatu webinar, Rabu (16/6/2020).

Pernyataan tersebut memancing perhatian dari berbagai pihak khususnya aktivis mahasiswa.Koordinator Aliansi Mahasiswa Bekasi (AMB) Rudy Hartono meminta Novel Baswedan untuk tidak menarik Presiden Jokowi kedalam hal teknis apalagi mengintervensi jalannya proses hukum.

"Jangan tarik pak Presiden Intervensi hukum, itu sudah diurus oleh ahlinya dengan mengedepankan prinsip kepastian hukum. Karena sejatinya siapapun tidak bisa mengintervensi proses hukum, saya kira pak Novel paham itu," ujar Rudi dalam keterangannya, Kamis (18/6/2020).

Rudi menegaskan, saat ini Presiden Jokowi sedang fokus dalam hal membangkitkan ekonomi Indonesia dan memimpin Bangsa ini melawan pandemi Covid-19.

"Kita seharusnya support pak Jokowi dalam melawan Covid -19 dan membantu perekonomian Indonesia bangkit, bukan minta beliau menyalahi aturan yaitu mengintervensi hukum, salah besar itu," tegasnya.

Dalam perkara ini, dua polisi penyiram air keras terhadap Novel, yaitu Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis, dituntut satu tahun pidana penjara. Para terdakwa terbukti menurut hukum secara sah dan meyakinkan bersama-sama melakukan penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana terlebih dahulu, sehingga menyebabkan Novel mengalami luka berat. 

Perbuatan itu dilakukan karena terdakwa menganggap Novel telah mengkhianati institusi Polri. Kedua terdakwa terbukti melanggar Pasal 353 ayat (2) KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dengan ancaman pidana paling lama tujuh tahun penjara.

Sedangkan berdasarkan fakta persidangan, jaksa memandang perbuatan kedua terdakwa tidak terbukti melanggar Pasal 355 ayat (1) KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP sebagaimana surat dakwaan. Beleid ini mengatur ancaman pidana penjara paling lama 12 tahun.

Jaksa beralasan gugurnya Pasal 355 sebagaimana dakwaan karena kedua terdakwa tidak sengaja dan tidak ada niat melukai Novel dengan air keras.
"Dalam fakta persidangan yang bersangkutan hanya ingin memberikan pelajaran kepada seseorang yaitu Novel Baswedan dikarenakan alasannya karena lupa dengan institusi; menjelekkan institusi," ujar Jaksa.