Singgung Dua Nama di Persidangan, Miftahul Ulum Sampaikan Permohonan Maaf

Safari
Singgung Dua Nama di Persidangan, Miftahul Ulum Sampaikan Permohonan Maaf

Jakarta, HanTer -  Miftahul Ulum, mantan asisten pribadi mantan Menpora Imam Nahrawi yang menjadi terdakwa perkara suap Rp11,5 miliar dan gratifikasi sebesar Rp8,648 miliar, secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada Achsanul Qosasi, anggota III Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Adi Toegarisman, mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung (Kejagung).

 

Pasalnya, kedua nama tersebut telah disinggung di persidangannya yang berlangsung di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (15/5/2020) lalu, dalam sidang kasus suap terkait dana hibah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

 

"Saya dalam kesempatan ini, yang juga tadi kepada majelis hakim telah disampaikan bahwa saya meminta maaf kepada bapak Achsanul Qosasi beserta keluarganya dan bapak Adi Toegarisman juga beserta keluarganya terkait dengan persidangan lalu yang telah saya singgung. Kepada seluruhnya saya mohon maaf dan di persidangan juga sudah saya katakan bahwa saya tidak pernah kenal, komunikasi maupun bertemu dengan suruhannya beliau," ujar Miftahul Ulum, usai menghadiri sidang secara virtual dengan agenda pembacaan pledoi di Gedung KPK, Jakarta, Selasa malam (9/6/2020).

 

Sementara itu, terkait dengan vonis yang akan digelar pada sidang mendatang tanggal 15 Juni 2020, Miftahul berharap dengan dibacakannya pledoi, majelis hakim memberikan vonis yang ringan.

 

"Hari ini saya sudah menyampaikan pledoi saya, semoga menjadi pertimbangan Hakim yang mulia untuk vonis saya nanti pekan depan tanggal 15 Juni 2020. Saya berharap nanti divonis ringan," pungkasnya.

 

Saat ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK Ronald F. Worotikan telah menuntut Miftahul Ulum sembilan tahun penjara denda Rp 300 juta serta subsider enam bulan kurungan penjara. Jaksa menilai, Miftahul Ulum telah menerima suap bersama mantan Menpora Imam Nahrawi dalam bantuan dana hibah dari Kemenpora kepada KONI Pusat tahun 2019 sebesar Rp 11,5 Miliar.

 

Kemudian, Ulum juga menerima gratifikasi mencapai Rp 8.648.435.682. Uang itu juga ditujukan untuk Imam Nahrawi. Jaksa menyebut hal yang memberatkan terdakwa Miftahul Ulum kerena telah menghambat perkembangan dan prestasi atlet Indonesia yang diharapkan dapat mengangkat nama bangsa di bidang olahraga.

 

Kemudian, terdakwa juga memiliki peran yang sangat aktif dalam melakukan tindak pidana yang didakwakan. Hal-hal yang meringankan terdakwa bersikap sopan selama pemeriksaan di persidangan dan terdakwa masih memiliki tanggungan keluarga.

 

Miftahul Ulum melanggar Pasal 12 ayat (1) huruf a UU No 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP jo pasal 64 ayat (1) KUHP, dan dakwaan kedua dari Pasal 12 B UU No 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP jo pasal 65 ayat (1) KUHP.